RADARBONAG.ID – Niat awalnya mungkin hanya ingin rebahan sambil scrolling media sosial.
Tidak ada rencana membeli makanan atau pergi kulineran.
Namun, beberapa menit kemudian sebuah video makanan muncul di FYP.
Keju meleleh dari roti panas. Saus pedas dituangkan ke atas makanan. Dessert dipotong hingga memperlihatkan isian di dalamnya. Belum selesai menonton satu video, muncul lagi konten makanan lainnya.
Awalnya hanya melihat, Kemudian penasaran.
Setelah itu mencari lokasi penjualnya, membaca review, menyimpan video, hingga akhirnya memasukkan makanan tersebut ke daftar kuliner yang ingin dicoba.
Fenomena seperti ini semakin mudah ditemui di era media sosial.
FYP bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan. Bagi sebagian pengguna, halaman rekomendasi tersebut telah berubah menjadi semacam etalase kuliner digital yang tidak pernah tutup.
Pertanyaannya, apakah makanan yang kita inginkan benar-benar berasal dari selera pribadi?
Atau jangan-jangan, algoritma secara perlahan ikut menentukan apa yang ingin kita makan?
Dari Tidak Lapar, Tiba-Tiba Jadi Ingin Makan
Dulu, memilih makanan mungkin dimulai dari rasa lapar.
Perut terasa kosong, kemudian membuka aplikasi pesan makanan atau pergi mencari tempat makan. Pilihannya pun biasanya tidak jauh dari menu yang sudah dikenal.
Sekarang prosesnya bisa berbeda.
Seseorang yang sebenarnya tidak sedang lapar bisa tiba-tiba ingin membeli makanan setelah melihat video kuliner di media sosial.
Bukan karena tubuh membutuhkan makanan, tetapi karena muncul rasa penasaran.
Visual menjadi salah satu faktor penting dalam konten kuliner.
Makanan yang sedang dipotong, keju yang ditarik, saus yang dituangkan, suara makanan renyah ketika digigit, atau dessert dengan tekstur lembut bisa membuat penonton seolah-olah ikut merasakan pengalaman tersebut.
Padahal, makanan itu bahkan belum berada di depan mata.
Yang bekerja terlebih dahulu adalah imajinasi.
Kenapa Makanan Viral Begitu Mudah Menggoda?
Salah satu jawabannya adalah visual.
Konten video pendek membuat beberapa detik pertama menjadi sangat penting.
Makanan dengan tampilan unik, warna mencolok, ukuran besar, tekstur menarik, atau proses pembuatan yang dramatis cenderung lebih mudah membuat orang berhenti scrolling.
Coba bandingkan dua video.
Video pertama hanya memperlihatkan sepiring makanan dari kejauhan.
Video kedua memperlihatkan makanan yang dipotong perlahan hingga isiannya keluar, kemudian saus dituangkan dari atas dengan tampilan yang menggoda.
Kemungkinan besar video kedua lebih mudah membuat penonton berhenti.
Inilah yang membuat makanan di media sosial tidak hanya harus enak dimakan, tetapi juga menarik untuk ditonton.
Dalam dunia digital, makanan juga menjadi sebuah pertunjukan visual.
Algoritma Belajar dari Kebiasaan Kita
Di sinilah hubungan antara FYP dan selera makanan menjadi semakin menarik.
Platform media sosial menggunakan berbagai sinyal interaksi untuk menentukan konten yang kemungkinan menarik bagi pengguna.
Ketika seseorang sering menonton konten kuliner sampai selesai, menyukai video makanan, menyimpan konten, membagikannya, atau berinteraksi dengan video sejenis, sistem rekomendasi dapat semakin sering menampilkan konten yang memiliki karakter serupa.
Akibatnya, satu video makanan bisa berkembang menjadi puluhan rekomendasi kuliner.
Awalnya hanya melihat satu konten.
Kemudian muncul makanan serupa.
Setelah itu muncul review restoran.
Lalu muncul konten dari kreator lain yang mencoba makanan tersebut.
Tanpa sadar, makanan yang sebelumnya bahkan tidak kita kenal mulai memenuhi layar.
Pada titik tertentu, muncul kesan bahwa makanan tersebut sedang ada di mana-mana.
Padahal, pengalaman setiap pengguna terhadap FYP bisa sangat berbeda.
Apa yang terlihat sangat populer di akun seseorang belum tentu muncul dengan frekuensi yang sama di akun orang lain.
Efek "Semua Orang Sudah Mencoba"
Pernah melihat satu makanan berulang kali sampai akhirnya muncul pikiran:
"Kayaknya aku harus coba juga."
Perasaan tersebut bisa muncul karena paparan yang berulang.
Ketika sebuah makanan terus muncul di media sosial, otak semakin familiar dengan makanan tersebut. Ditambah komentar seperti "wajib coba", "enak banget", atau "akhirnya nyobain juga", makanan itu terlihat semakin populer.
Di sinilah FOMO atau fear of missing out bisa ikut berperan.
FOMO tidak hanya terjadi ketika seseorang takut ketinggalan tren fashion, konser, atau tempat wisata.
Dalam dunia kuliner, orang juga bisa merasa takut ketinggalan pengalaman mencoba makanan yang sedang ramai dibicarakan.
Apalagi ketika teman atau kreator yang diikuti sudah mengunggah makanan tersebut.
Akhirnya muncul dorongan:
"Masa semua orang sudah coba, aku belum?"
Kolom Komentar Kini Jadi "Teman" Rekomendasi
Tampilan makanan memang bisa membuat penasaran, tetapi review dari pengguna lain sering kali menjadi faktor yang membuat seseorang benar-benar membeli.
Satu video mungkin hanya membuat penasaran.
Namun, ketika melihat puluhan komentar positif, rasa percaya terhadap makanan tersebut bisa meningkat.
Menariknya, rekomendasi tidak selalu datang dari kritikus kuliner profesional.
Pendapat pengguna biasa justru sering terasa lebih dekat.
Komentar sederhana seperti "aku sudah coba, ternyata enak" atau "harganya segini dan porsinya banyak" bisa terasa seperti rekomendasi dari teman sendiri.
Media sosial akhirnya mengubah cara kita mencari informasi tentang makanan.
Dulu mungkin bertanya kepada teman atau keluarga.
Sekarang, kita bisa langsung membuka kolom komentar.
Viral Belum Tentu Berarti Paling Enak
Di sinilah kita perlu membedakan antara viral dan enak.
Keduanya bukan sesuatu yang selalu sama.
Sebuah makanan dapat menjadi viral karena berbagai alasan.
Bisa karena rasanya memang enak. Bisa pula karena bentuknya unik, penyajiannya menarik, lokasinya estetik, harganya dianggap murah, porsinya besar, atau memiliki cerita yang membuat orang penasaran.
Bahkan, sebuah makanan bisa ramai dibicarakan karena kontroversi.
Artinya, popularitas sebuah makanan di media sosial tidak otomatis menjadi jaminan bahwa makanan tersebut cocok dengan selera semua orang.
Rasa tetap menjadi faktor penting, tetapi dalam era digital bukan satu-satunya alasan makanan menjadi populer.
Pengalaman makan yang menarik untuk direkam dan dibagikan juga bisa menentukan seberapa besar sebuah kuliner mendapatkan perhatian.
Apakah Algoritma Benar-Benar Mengubah Selera Kita?
Bukan berarti algoritma sepenuhnya menentukan selera seseorang.
Manusia tetap memiliki preferensi masing-masing.
Ada yang menyukai makanan pedas, ada yang lebih senang makanan manis, sementara sebagian lainnya mungkin tidak tertarik sama sekali dengan makanan yang sedang viral.
Namun, algoritma dapat memengaruhi apa yang kita lihat dan apa yang masuk ke dalam pertimbangan kita.
Sebelum media sosial berkembang seperti sekarang, kita mungkin tidak pernah mengetahui keberadaan sebuah makanan yang dijual di kota lain.
Sekarang, satu video dapat membuat kuliner dari daerah yang jaraknya ratusan kilometer terasa begitu dekat.
Jarak antara "tidak tahu makanan itu ada" dan "ingin mencobanya" menjadi sangat pendek.
Dari FYP Berakhir di Meja Makan
Pada akhirnya, media sosial telah mengubah cara kita menemukan makanan.
Kita tidak lagi hanya mencari makanan ketika merasa lapar.
Kadang, rasa lapar justru muncul setelah melihat makanan di layar.
Sebuah makanan bisa dimulai dari dapur kecil, direkam menggunakan kamera ponsel, kemudian masuk FYP, ditonton ribuan orang, dibagikan, mendapatkan review, hingga akhirnya membuat tempat penjualnya dipenuhi pelanggan.
Semua bisa berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Jadi, kalau suatu hari kamu tiba-tiba ingin mencoba makanan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikirkan, mungkin bukan selera yang berubah begitu saja.
Bisa jadi, FYP sedang memperkenalkan selera baru kepada kita.
Dan tanpa sadar, algoritma bukan cuma ikut menentukan apa yang kita lihat di layar.
Ia mungkin juga sedang ikut duduk di meja makan.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang