RADARBONAG.ID – Pernah mengunggah foto ke Instagram, lalu beberapa menit kemudian membuka aplikasi lagi hanya untuk melihat jumlah like? Atau merasa kecewa ketika story yang dibuat ternyata tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan?
Kalau pernah mengalami hal tersebut, sebenarnya kamu tidak sendirian.
Di tengah kehidupan digital yang semakin melekat, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi foto atau berkomunikasi.
Bagi sebagian orang, platform digital perlahan berubah menjadi tempat mencari pengakuan.
Jumlah like, komentar, views, followers, bahkan siapa yang melihat story bisa terasa seperti ukuran untuk menentukan apakah seseorang cukup menarik, sukses, populer, atau diterima oleh lingkungan.
Masalahnya muncul ketika penilaian terhadap diri sendiri mulai sepenuhnya bergantung pada respons tersebut.
Ketika Like Mulai Dianggap sebagai Ukuran Diri
Media sosial memberikan sesuatu yang sangat menarik: respons instan.
Ketika mengunggah foto dan mendapatkan banyak komentar positif, seseorang bisa merasa senang dan lebih percaya diri.
Sebaliknya, ketika unggahan hanya mendapatkan sedikit respons, muncul rasa kecewa atau bahkan mempertanyakan diri sendiri.
"Kenapa nggak ada yang like?"
"Foto aku jelek, ya?"
"Kok postingan orang lain ramai, punyaku sepi?"
Padahal, jumlah interaksi di media sosial tidak bisa digunakan sebagai ukuran objektif mengenai nilai seseorang.
Sebuah foto yang sepi like bukan berarti orang yang mengunggahnya kurang menarik.
Sebaliknya, unggahan dengan ribuan like juga tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lebih berharga dibandingkan orang lain.
Namun, ketika kebiasaan mencari validasi berlangsung terus-menerus, batas antara ingin berbagi dan ingin mendapatkan pengakuan bisa semakin kabur.
Kenapa Validasi Orang Lain Bisa Terasa Menyenangkan?
Mendapatkan pujian, perhatian, atau respons positif tentu menyenangkan.
Ketika sebuah unggahan mendapatkan banyak interaksi, seseorang bisa merasa diperhatikan dan diterima.
Pengalaman positif tersebut kemudian dapat mendorong keinginan untuk mendapatkannya kembali.
Dari sinilah kebiasaan kecil bisa terbentuk.
Awalnya hanya membuka Instagram setelah mengunggah foto. Kemudian mengecek lagi beberapa menit kemudian.
Setelah itu kembali melihat notifikasi sebelum tidur.
Lama-kelamaan, mengecek respons bukan lagi sekadar rasa penasaran, tetapi terasa seperti kebutuhan.
Ketika notifikasi tidak kunjung bertambah, muncul rasa gelisah atau kecewa.
Pada titik tertentu, seseorang bukan lagi menikmati media sosial, melainkan mulai bergantung pada respons yang diberikan orang lain.
Gen Z Tumbuh di Tengah Budaya Personal Branding
Generasi Z tumbuh ketika internet dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mereka tidak hanya menggunakan media sosial untuk melihat kehidupan orang lain, tetapi juga membangun citra dirinya sendiri di ruang digital.
Feed harus terlihat menarik.
Foto liburan dibuat estetik.
Karier ingin terlihat berkembang.
Gaya berpakaian mengikuti tren.
Bahkan aktivitas sehari-hari bisa dipikirkan dari sudut pandang, "Kalau di-upload, bakal kelihatan keren nggak?"
Fenomena tersebut membuat sebagian orang merasa harus terus menunjukkan versi terbaik dirinya.
Masalahnya, kehidupan nyata tidak selalu seperti unggahan media sosial.
Seseorang bisa terlihat bahagia di Instagram, tetapi sebenarnya sedang mengalami hari yang buruk. Bisa terlihat sukses di LinkedIn, tetapi masih merasa bingung dengan kehidupannya. Bisa mengunggah liburan mewah, tetapi belum tentu kehidupannya sempurna.
Media sosial hanya memperlihatkan bagian yang dipilih untuk ditampilkan.
Saat Validasi Mulai Mengendalikan Keputusan
Ketergantungan terhadap approval orang lain dapat terlihat dari keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seseorang ingin menggunakan pakaian tertentu tetapi mengurungkan niat karena takut mendapat komentar negatif.
Ada pula yang ingin menyampaikan pendapat, tetapi akhirnya menghapus postingan karena takut tidak disukai.
Bahkan pilihan tempat makan, destinasi liburan, gaya rambut, hingga aktivitas tertentu bisa dipilih bukan karena benar-benar diinginkan, melainkan karena sedang populer dan dianggap menarik oleh orang lain.
Coba sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:
"Aku melakukan ini karena memang menginginkannya, atau karena ingin mendapatkan pengakuan?"
Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa menjadi cara sederhana untuk mengetahui apakah keputusan kita masih berasal dari keinginan pribadi atau sudah terlalu dipengaruhi penilaian orang lain.
Jangan Sampai Hidup Hanya untuk Terlihat Baik
Ada perbedaan antara menjaga penampilan dan terus-menerus berusaha terlihat sempurna.
Tidak ada salahnya mengunggah foto terbaik, membangun personal branding, atau menikmati pujian dari orang lain.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika semua itu menjadi sumber utama rasa percaya diri.
Kalau setiap unggahan harus mendapatkan respons positif agar merasa bahagia, maka suasana hati kita secara tidak langsung sudah berada di tangan orang lain.
Hari ini ramai komentar, kita senang.
Besok sepi respons, kita merasa tidak cukup baik.
Siklus tersebut bisa melelahkan jika berlangsung terus-menerus.
Cara Mengurangi Ketergantungan pada Validasi
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba untuk membangun kembali rasa percaya diri dari dalam diri sendiri.
Pertama, kurangi kebiasaan mengecek like dan views.
Setelah mengunggah sesuatu, cobalah tidak langsung membuka aplikasi berulang kali. Biarkan postingan berjalan tanpa harus terus dipantau.
Kedua, berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar.
Apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Membandingkan kehidupan nyata dengan highlight kehidupan orang lain jelas tidak seimbang.
Ketiga, nikmati pengalaman tanpa harus mengunggahnya.
Makan makanan enak tidak harus selalu difoto. Jalan-jalan tidak harus selalu dibuat story.
Ada momen yang tetap berharga meskipun tidak diketahui siapa pun.
Keempat, belajar memberikan apresiasi kepada diri sendiri.
Tidak semua pencapaian membutuhkan tepuk tangan dari orang lain.
Berhasil menyelesaikan sesuatu, belajar keterampilan baru, bertahan melewati hari yang sulit, atau berani mencoba sesuatu yang baru juga layak diapresiasi meskipun tidak ada yang mengetahuinya.
Kelima, berikan waktu untuk offline.
Sesekali jauhkan diri dari media sosial. Gunakan waktu tersebut untuk berbicara dengan orang terdekat, melakukan hobi, berolahraga, atau sekadar menikmati waktu tanpa harus memikirkan bagaimana sesuatu akan terlihat di layar.
Percaya Diri Tidak Harus Menunggu Approval
Pada akhirnya, percaya diri bukan berarti membuat semua orang menyukai kita.
Justru, salah satu bentuk kedewasaan adalah mampu tetap merasa cukup meskipun tidak mendapatkan tepuk tangan dari orang lain.
Like bisa berubah, Views bisa turun, Komentar bisa hilang, Tren juga akan berganti.
Namun, nilai diri seseorang tidak seharusnya ikut naik turun hanya karena angka yang muncul di layar.
Media sosial seharusnya menjadi alat untuk berekspresi, bukan menjadi rapor yang menentukan seberapa berharga diri kita.
Sebab pada akhirnya, kamu tidak harus disukai semua orang untuk tetap menjadi seseorang yang berharga.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang