RADARBONAG.ID — Liburan selama ini sering dikaitkan dengan hotel mewah, kamar dengan pemandangan kota, kolam renang tanpa batas, restoran populer, hingga berbagai spot yang menarik untuk diabadikan di media sosial.
Namun, cara anak muda memaknai liburan perlahan mengalami perubahan.
Sebagian Gen Z kini justru mulai tertarik dengan pengalaman yang jauh lebih sederhana.
Alih-alih menghabiskan waktu di hotel bintang lima, mereka memilih pergi ke desa, kawasan pedesaan, atau kampung adat untuk mencari suasana yang tenang.
Bukan selalu karena persoalan biaya.
Pilihan tersebut muncul karena banyak anak muda mulai menyadari bahwa perjalanan mahal belum tentu membuat pikiran benar-benar beristirahat.
Di tengah notifikasi yang terus berdatangan, pekerjaan yang tidak mengenal tempat, serta tekanan media sosial untuk selalu terlihat produktif, suasana tenang menjadi sesuatu yang semakin dicari.
Fenomena ini dapat dilihat sebagai bagian dari tren sanctuary travel, yakni perjalanan yang lebih berorientasi pada ketenangan, pemulihan diri, dan kesempatan untuk menjauh sejenak dari rutinitas.
Bukan Lagi Mengejar Hotel Estetik
Dulu, kualitas liburan mungkin diukur dari seberapa nyaman hotel yang ditempati atau seberapa menarik destinasi yang berhasil dikunjungi.
Kini, sebagian wisatawan muda mulai memiliki ukuran yang berbeda.
Tempat sederhana dengan suasana tenang bisa terasa jauh lebih berharga dibandingkan kamar hotel mewah jika mampu membuat pikiran benar-benar beristirahat.
Bangun pagi dengan suara burung, berjalan melewati rumah tradisional, menikmati makanan rumahan, atau duduk di teras tanpa terus-menerus memeriksa ponsel bisa menjadi pengalaman yang sulit didapatkan di tengah kota.
Bahkan, tidak melakukan apa-apa selama beberapa jam justru dapat menjadi bagian paling menyenangkan dari perjalanan.
Konsep tersebut sejalan dengan slow travel, yaitu gaya bepergian yang lebih mengutamakan kualitas pengalaman dibandingkan banyaknya destinasi yang berhasil dikunjungi.
Kampung Adat Jadi Ruang untuk “Reset”
Kampung adat memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan destinasi wisata modern.
Lingkungan yang lebih dekat dengan alam, ritme kehidupan masyarakat yang relatif tenang, rumah tradisional, makanan lokal, serta berbagai aktivitas warga dapat memberikan pengalaman yang jauh dari rutinitas perkotaan.
Bagi Gen Z yang sehari-hari sangat dekat dengan teknologi, suasana seperti ini bisa terasa seperti tombol reset.
Ponsel tetap dibawa. Internet mungkin masih tersedia.
Namun, lingkungan sekitar membuat seseorang memiliki lebih banyak alasan untuk meletakkan ponsel dan menikmati apa yang ada di depan mata.
Wisatawan dapat mencoba berbagai aktivitas lokal, belajar kerajinan tradisional, mencicipi makanan khas, berjalan-jalan di sekitar permukiman, atau sekadar berbincang dengan warga.
Perjalanan pun tidak lagi hanya tentang pertanyaan, “Mau pergi ke mana?”
Tetapi berubah menjadi, “Setelah pulang nanti, aku ingin merasa seperti apa?”
Tidak Semua Momen Harus Masuk Instagram
Salah satu perubahan menarik dalam tren perjalanan anak muda adalah mulai munculnya keinginan untuk menikmati pengalaman tanpa harus mendokumentasikan semuanya.
Selama bertahun-tahun, media sosial membuat perjalanan sering terasa seperti proyek konten.
Setiap tempat harus difoto. Setiap makanan harus diunggah. Setiap aktivitas seolah perlu masuk Instagram Story.
Padahal, kondisi tersebut terkadang membuat seseorang justru terlalu sibuk mendokumentasikan liburan daripada menikmatinya.
Dalam konsep sanctuary travel, tekanan tersebut mulai dilepaskan.
Tidak harus mencari sudut foto terbaik. Tidak perlu membuat jadwal perjalanan yang terlalu padat.
Bahkan, tidak masalah jika ada satu hari yang hanya diisi dengan berjalan kaki, makan, membaca buku, atau duduk menikmati suasana.
Kesederhanaan justru menjadi bagian dari pengalaman.
Pikiran Lebih Tenang, Dompet Juga Bisa Lebih Aman
Ada keuntungan lain yang membuat perjalanan ke desa atau kampung adat menarik bagi wisatawan muda.
Biaya perjalanan dapat dirancang lebih fleksibel.
Staycation di hotel populer biasanya membutuhkan biaya untuk kamar, makanan, transportasi, hingga berbagai aktivitas tambahan.
Ketika berada di destinasi populer, godaan untuk mencoba restoran viral, berbelanja, atau mengikuti aktivitas berbayar juga semakin besar.
Sementara itu, perjalanan ke kawasan pedesaan bisa dibuat lebih sederhana.
Wisatawan dapat memilih penginapan lokal, menikmati makanan yang disediakan masyarakat, menggunakan kendaraan bersama, atau mengikuti aktivitas lokal yang tidak selalu membutuhkan biaya besar.
Namun, murah bukan berarti bebas aturan.
Wisatawan tetap harus menghormati norma masyarakat setempat dan tidak menganggap kampung adat hanya sebagai latar foto.
Liburan ke Kampung Adat Tetap Harus Bertanggung Jawab
Semakin populernya destinasi berbasis masyarakat juga membawa tanggung jawab bagi wisatawan.
Ketika memasuki kawasan adat, pengunjung perlu memahami aturan yang berlaku.
Jangan sembarangan memasuki area tertentu, mengambil foto warga tanpa izin, membuang sampah, atau melakukan aktivitas yang bertentangan dengan kebiasaan masyarakat setempat.
Wisatawan juga dapat memberikan dampak positif dengan membeli makanan, kerajinan, atau produk lokal.
Dengan begitu, perjalanan bukan hanya memberikan pengalaman bagi wisatawan, tetapi juga ikut mendukung ekonomi masyarakat.
Konsep sanctuary travel seharusnya bukan sekadar mencari ketenangan untuk diri sendiri, melainkan tetap memperhatikan lingkungan dan komunitas yang menjadi tuan rumah.
Definisi “Healing” Mulai Berubah
Fenomena ini memperlihatkan adanya perubahan dalam cara anak muda memandang liburan.
Jika sebelumnya perjalanan mewah sering dianggap sebagai simbol keberhasilan, kini definisi tersebut mulai berkembang.
Liburan tidak harus mahal untuk memberikan pengalaman berharga.
Desa wisata, kampung adat, kawasan pedesaan, hingga destinasi alam dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin beristirahat dari rutinitas.
Yang dicari bukan lagi sekadar fasilitas, melainkan waktu, ruang, dan ketenangan.
Ketiganya justru menjadi sesuatu yang sulit diperoleh ketika seseorang terus hidup dalam ritme kota yang cepat.
Tidak Harus Menjauh Jauh untuk Mendapatkan Ketenangan
Menariknya, sanctuary travel juga tidak selalu berarti harus pergi ke tempat yang sangat jauh.
Konsep tersebut bisa dimulai dari perjalanan singkat ke daerah yang suasananya lebih tenang.
Satu atau dua hari tanpa jadwal padat mungkin sudah cukup untuk memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.
Yang terpenting bukan seberapa jauh seseorang pergi, melainkan seberapa mampu ia benar-benar melepaskan diri dari rutinitas.
Sebab, pergi jauh tetapi tetap sibuk membuka laptop dan memeriksa notifikasi setiap beberapa menit tidak jauh berbeda dengan berada di rumah.
Ketika Tidak Melakukan Apa-Apa Justru Jadi Kemewahan
Pada akhirnya, tren sanctuary travel menunjukkan bahwa kemewahan dalam perjalanan sedang mengalami perubahan makna.
Dulu, kemewahan identik dengan fasilitas mahal.
Baca Juga: Ini Dia Tips Menghemat Pulsa dan Token Listrik yang Sering Bikin Pengeluaran Membengkak
Sekarang, bagi sebagian orang, kemewahan justru berarti memiliki waktu untuk duduk tanpa terburu-buru, tidur tanpa alarm, berjalan tanpa mengejar jadwal, dan menikmati percakapan tanpa harus melihat layar.
Karena itu, jika mulai merasa bosan dengan itinerary yang terlalu padat, kafe yang selalu ramai, atau staycation yang ternyata tetap membuat sibuk, mungkin sudah waktunya mencoba cara berlibur yang berbeda.
Bisa jadi, tempat untuk benar-benar “healing” bukanlah hotel paling mahal atau destinasi yang sedang viral.
Mungkin justru ada di sebuah kampung sederhana yang membuat seseorang lupa bahwa dunia di luar sana sedang berlomba untuk bergerak semakin cepat.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang