Dari Turut Berduka ke Video Meme dalam Hitungan Detik, Benarkah Media Sosial Membuat Empati Kita Menurun?

Widodo • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:32 WIB
Kita makin cepat melihat penderitaan orang lain, tapi apakah kita masih benar-benar merasakannya? (Ilustrasi)
Kita makin cepat melihat penderitaan orang lain, tapi apakah kita masih benar-benar merasakannya? (Ilustrasi) 

RADARBONAG.ID — Pernah merasa baru saja melihat kabar duka di media sosial, tetapi beberapa detik kemudian sudah tertawa melihat video lucu?

Di era digital, perubahan emosi seperti itu bukan sesuatu yang aneh.

Dalam satu kali membuka media sosial, pengguna bisa menemukan berbagai jenis konten yang datang hampir tanpa jeda.

Video hiburan muncul setelah berita kecelakaan. Unggahan tentang bencana disusul konten komedi.

Setelah itu muncul perdebatan panas, kisah percintaan, berita selebritas, hingga promosi produk dalam sesi live shopping.

Semua bercampur di layar yang sama.

Baca Juga: Destry Damayanti Jadi Pilihan Tunggal Prabowo untuk Gubernur Bank Indonesia, Begini Rekam Jejaknya di Dunia Keuangan

Kondisi tersebut perlahan mengubah cara manusia menerima dan merespons emosi.

Bukan berarti manusia kehilangan kemampuan untuk berempati, tetapi derasnya informasi membuat perhatian dan respons emosional menjadi semakin singkat.

Lantas, apakah kebiasaan scrolling benar-benar bisa membuat seseorang kehilangan empati?

Empati Manusia Sebenarnya Tidak Hilang

Jawabannya tidak sesederhana mengatakan bahwa media sosial membuat manusia menjadi tidak peduli.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science oleh Gregory John Depow dan tim dari University of Toronto justru menunjukkan bahwa empati masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang memiliki banyak kesempatan untuk merasakan empati dalam aktivitas sehari-hari.

Pengalaman empati yang benar-benar dirasakan juga berkaitan dengan perilaku membantu orang lain serta kesejahteraan psikologis.

Artinya, kemampuan manusia untuk memahami dan merasakan kondisi orang lain sebenarnya tetap ada.

Persoalannya adalah bagaimana kemampuan tersebut bekerja ketika seseorang terus-menerus menerima rangsangan emosional dari layar.

Ketika Tragedi Berubah Menjadi Konten

Coba bayangkan berapa banyak berita buruk yang bisa muncul dalam satu hari.

Kecelakaan, bencana alam, konflik, kekerasan, kehilangan orang terdekat, hingga kisah pribadi seseorang dapat muncul di linimasa tanpa perlu dicari.

Pada satu sisi, akses informasi tersebut membuat masyarakat lebih cepat mengetahui apa yang sedang terjadi.

Namun, terlalu banyak paparan terhadap penderitaan juga dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosional.

Kondisi yang sering dikaitkan dengan situasi tersebut adalah compassion fatigue atau kelelahan berempati.

Seseorang yang terlalu sering terpapar kisah penderitaan dapat mengalami kejenuhan emosional sehingga respons terhadap peristiwa serupa perlahan menjadi lebih datar.

Bukan karena tidak peduli, tetapi karena otak terus menerima terlalu banyak rangsangan.

Akhirnya, tragedi yang seharusnya menggugah emosi bisa terasa seperti konten lain yang lewat begitu saja.

Jempol Bergerak Lebih Cepat daripada Pikiran

Media sosial juga mendorong pengguna untuk memberikan respons secepat mungkin.

Like, komentar, repost, quote, emoji, hingga reaksi emosional dapat diberikan hanya dalam hitungan detik.

Masalahnya, kecepatan tidak selalu berjalan bersama kedalaman.

Seseorang mungkin langsung menuliskan komentar sebelum memahami keseluruhan peristiwa.

Bahkan dalam kasus tertentu, kolom komentar berubah menjadi tempat mencari siapa yang salah sebelum fakta sebenarnya diketahui.

Konten yang seharusnya menjadi ruang untuk memberikan dukungan justru berubah menjadi arena penghakiman.

Di sinilah empati digital menghadapi tantangan.

Algoritma Ikut Memengaruhi Reaksi Kita

Cara kerja platform media sosial juga memiliki peran dalam fenomena tersebut.

Konten yang menimbulkan reaksi kuat seperti kemarahan, keterkejutan, atau kontroversi cenderung menarik perhatian dan interaksi pengguna.

Akibatnya, konten semacam itu berpotensi terus muncul di linimasa.

Pengguna kemudian terbiasa melihat informasi yang dirancang untuk memancing reaksi spontan.

Lama-kelamaan, kemampuan untuk berhenti sejenak, memahami konteks, dan memikirkan dampak sebuah unggahan dapat kalah cepat dibandingkan dorongan untuk langsung memberikan respons.

Kita akhirnya tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga ikut masuk ke dalam siklus emosi yang terus bergerak.

Lebih Dekat di Layar, Tapi Bisa Jauh di Dunia Nyata

Ironisnya, kemajuan teknologi membuat manusia semakin mudah terhubung, tetapi tidak selalu membuat hubungan menjadi lebih dekat.

Seseorang bisa memiliki ratusan atau bahkan ribuan teman di media sosial, tetapi belum tentu mengetahui bahwa orang terdekatnya sedang mengalami masalah.

Kita bisa dengan cepat mengirim emoji untuk menunjukkan dukungan kepada seseorang di internet, tetapi lupa menanyakan kabar teman sendiri.

Bisa mengikuti drama seorang figur publik selama berhari-hari, tetapi tidak sadar bahwa orang di sekitar kita sedang membutuhkan teman bicara.

Padahal, empati tidak berhenti pada reaksi.

Empati membutuhkan usaha untuk memahami kondisi orang lain dan, ketika diperlukan, hadir secara nyata.

Media Sosial Tidak Selalu Menjadi Masalah

Meski memiliki sisi negatif, media sosial sebenarnya juga dapat menjadi alat yang sangat kuat untuk membangun solidaritas.

Penggalangan dana, kampanye kemanusiaan, pencarian orang hilang, hingga bantuan bagi korban bencana dapat menyebar dengan cepat melalui platform digital.

Orang-orang yang bahkan tidak pernah bertemu bisa bekerja sama membantu seseorang yang sedang mengalami kesulitan.

Dalam situasi seperti ini, teknologi justru memperluas jangkauan empati.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata pada media sosial.

Yang lebih penting adalah bagaimana manusia memilih menggunakan teknologi tersebut.

Empati Digital Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Menjadi lebih berempati di dunia digital tidak berarti harus memberikan komentar pada setiap unggahan yang menyedihkan.

Terkadang, bentuk kepedulian justru muncul melalui tindakan yang jauh lebih sederhana.

Misalnya, tidak menyebarkan video korban kecelakaan hanya demi mendapatkan perhatian.

Tidak ikut menghakimi seseorang sebelum informasi lengkap tersedia.

Menghapus keinginan untuk membuat lelucon dari penderitaan orang lain.

Bisa juga dengan menghubungi teman yang tiba-tiba menghilang dari percakapan, mendengarkan seseorang tanpa buru-buru memberikan nasihat, atau memberikan bantuan ketika memang mampu.

Hal-hal tersebut mungkin tidak mendapatkan banyak like.

Namun, nilainya jauh lebih besar daripada sekadar reaksi di layar.

Belajar Berhenti Sebelum Ikut Bereaksi

Di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi sesuatu yang penting.

Tidak semua konten harus dikomentari. Tidak semua perdebatan harus diikuti.

Tidak semua tragedi harus dijadikan tontonan.

Baca Juga: Jangan Panik! Ini Cara Tetap Tenang Saat Menghadapi Situasi Darurat di Jalan agar Tak Salah Ambil Keputusan

Ada kalanya kita cukup membaca, memahami, lalu memilih tidak memperpanjang sesuatu yang tidak memberikan manfaat.

Empati membutuhkan ruang untuk berpikir.

Karena itu, mungkin tantangan terbesar manusia di era media sosial bukan lagi bagaimana mendapatkan lebih banyak informasi, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia ketika informasi datang terlalu banyak dan terlalu cepat.

Pada akhirnya, dunia digital tidak kekurangan reaksi.

Yang semakin dibutuhkan adalah manusia yang mau berhenti scrolling sejenak, melihat orang lain sebagai manusia, dan benar-benar bertanya: apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
empati digital compassion fatigue empati Gen Z dampak media sosial fenomena media sosial