Bisa Meniru Suara Manusia hingga Tembakan, Relawan SAR Ungkap Sosok Aneh di Gunung Salak: “Sepertinya Bukan Hantu”

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:59 WIB
Ada sosok misterius yang disebut mampu menirukan berbagai suara, mulai dari suara manusia, kompor, resleting tenda hingga suara tembakan. Namun yang bikin merinding, Mas Bima justru mengaku tidak tahu sebenarnya sosok tersebut apa. (youtube.com/@PrasodjoMuhammadReal)
Ada sosok misterius yang disebut mampu menirukan berbagai suara, mulai dari suara manusia, kompor, resleting tenda hingga suara tembakan. Namun yang bikin merinding, Mas Bima justru mengaku tidak tahu sebenarnya sosok tersebut apa. (youtube.com/@PrasodjoMuhammadReal)

RADARBONANG.ID — Gunung Salak bukan hanya dikenal sebagai salah satu kawasan pegunungan dengan medan yang menantang.

Di balik hutan lebat dan jalur pendakian yang cukup ekstrem, tersimpan pula berbagai cerita dari mereka yang pernah menjalankan operasi pencarian dan penyelamatan di kawasan tersebut.

Salah satu kisah menarik datang dari Mas Bima, relawan SAR yang membagikan pengalaman selama bertugas di Gunung Salak dalam sebuah podcast YouTube milik Prasodjo Muhammad.

Dalam perbincangan tersebut, Mas Bima menceritakan sejumlah kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan hanya dengan pengalaman pendakian biasa.

Ia bahkan menyebut ada beberapa kejadian yang membuat dirinya dan seniornya memiliki pandangan berbeda mengenai fenomena misterius di kawasan Gunung Salak.

Baca Juga: Logika Frimawan Resmi Tamat, Episode Terakhir Bareng Jenda dan Pascol Malah Bikin Ngakak dengan Debat Absurd

Suara yang Meniru dari Balik Pepohonan

Salah satu pengalaman yang diceritakan Mas Bima terjadi pada 2009 ketika dirinya terlibat dalam proses evakuasi seorang pendaki yang mengalami hipotermia.

Di tengah operasi tersebut, ia bersama rekannya mendengar suara dari arah pepohonan.

Awalnya, suara tersebut terdengar seperti suara kompor yang biasa digunakan oleh mereka ketika berada di lapangan.

Namun, yang membuat situasi menjadi aneh, suara itu seolah-olah menirukan suara yang sebelumnya mereka hasilkan.

Tidak berhenti di sana. Mas Bima juga mengaku pernah mendengar suara dirinya sendiri seperti sedang memanggil dari lokasi lain, padahal saat itu ia tidak sedang berbicara.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu kejadian yang paling membekas baginya.

Jejak Pendaki yang Dinilai Tidak Masuk Akal

Kisah berikutnya terjadi sekitar 2012 ketika tim SAR melakukan pencarian terhadap seorang pendaki yang dilaporkan hilang.

Dalam proses pencarian, tim menemukan data tracking yang menurut Mas Bima terasa janggal.

Jejak tersebut digambarkan bergerak sangat lurus melewati medan yang sebenarnya cukup sulit.

Jalurnya bahkan disebut melewati pohon tumbang dan area dengan kontur ekstrem hingga bagian yang menyerupai tebing vertikal.

Kondisi tersebut membuat tim mempertanyakan bagaimana seseorang bisa melewati jalur itu tanpa perlengkapan khusus.

Situasi semakin membuat suasana pencarian terasa mencekam ketika tim mulai mendengar suara tangisan perempuan.

Menurut cerita Mas Bima, suara tersebut muncul berulang-ulang dengan pola yang hampir persis sama.

Bukan sekadar terdengar sekali kemudian menghilang, suara tangisan itu justru seperti mengulang pola yang sama berkali-kali.

Pendaki yang dicari akhirnya ditemukan, tetapi lokasinya berada cukup jauh dari area yang sebelumnya menjadi titik pencarian.

Kondisinya juga disebut mengalami kebingungan atau seperti tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi.

Melihat Sosok Tinggi dengan Tubuh Tidak Lazim

Pengalaman ketiga terjadi sekitar 2015 ketika Mas Bima mendampingi kegiatan pelatihan survival.

Saat berada di kawasan hutan, ia bersama seorang senior yang disebut Abah Iwan mengaku melihat sosok dengan bentuk tubuh yang tidak biasa.

Sosok tersebut digambarkan memiliki tubuh tinggi dan kurus, dengan warna kulit yang tampak pucat serta tangan dan kaki yang terlihat sangat panjang.

Namun, menurut cerita Mas Bima, sosok tersebut tidak menunjukkan tindakan menyerang.

Hal lain justru membuat pengalaman itu semakin aneh.

Sosok yang mereka lihat disebut kembali menirukan suara dari lingkungan sekitar.

Salah satunya adalah suara resleting tenda. Bahkan, suara tembakan peringatan yang baru saja dilepaskan Abah Iwan juga disebut seperti ditiru kembali.

Bagi Mas Bima, pola tersebut berbeda dengan cerita mistis yang selama ini umum beredar di masyarakat.

Dianggap Seperti "Kolektor" Suara

Dari beberapa pengalaman tersebut, Mas Bima dan Abah Iwan kemudian memiliki sebuah kesimpulan pribadi.

Mereka menduga fenomena yang dialami bukan sekadar gangguan makhluk halus seperti yang selama ini dikenal dalam cerita masyarakat.

Menurut penuturan Mas Bima, perilakunya justru lebih menyerupai sesuatu yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dan mengumpulkan atau menirukan berbagai suara yang menarik perhatiannya.

Ia menggambarkannya seperti "kolektor".

Meski demikian, anggapan tersebut merupakan interpretasi berdasarkan pengalaman pribadi mereka dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

Kemungkinan lain yang juga muncul dalam pembicaraan adalah dugaan bahwa sosok tersebut merupakan sesuatu yang bersifat fisik dan belum teridentifikasi.

Namun sampai sekarang, tidak ada bukti ilmiah yang dapat memastikan keberadaan entitas seperti yang digambarkan dalam cerita tersebut.

Pesan Mas Bima untuk Para Pendaki

Di balik cerita misteri tersebut, pesan Mas Bima justru berkaitan erat dengan keselamatan pendakian.

Ia mengingatkan bahwa mendaki gunung bukan sekadar aktivitas wisata. Bagi seseorang yang belum memiliki pengalaman cukup, kondisi alam bisa berubah menjadi situasi berbahaya dalam waktu singkat.

Salah satu hal yang ditekankan adalah pengetahuan mengenai hipotermia.

Pendaki juga tidak boleh sembarangan meminta korban hipotermia untuk terus berjalan apabila kondisi fisiknya sudah kehilangan tenaga. Penanganan harus dilakukan dengan tepat sesuai kondisi korban.

Mas Bima juga mengingatkan pendaki agar tidak memaksakan diri ketika tersesat.

Jika kehilangan jalur, berhenti dan lakukan evaluasi menjadi pilihan yang jauh lebih aman daripada terus berjalan tanpa arah.

Menurut pengalaman tim SAR, banyak persoalan justru terjadi ketika pendaki mulai turun dari gunung karena kondisi fisik sudah menurun dan konsentrasi berkurang.

Peluit Bisa Menjadi Penyelamat

Selain perlengkapan navigasi, peluit juga menjadi salah satu perlengkapan sederhana yang disarankan selalu dibawa pendaki.

Suara peluit memiliki karakter yang lebih mudah terdengar dari jarak jauh dibandingkan teriakan manusia, terutama di tengah hutan dengan kondisi angin dan vegetasi yang rapat.

Baca Juga: Pemprov Sumut Siapkan Rp2 Miliar untuk Bangun Rumah Produksi Kelapa di Nias Utara, Petani Bakal Dapat Fasilitas Pengolahan

Dalam situasi darurat, pola sinyal SOS yang umum digunakan adalah tiga tiupan panjang, tiga tiupan pendek, kemudian tiga tiupan panjang.

Kisah yang dibagikan Mas Bima dalam podcast Prasodjo Muhammad pada akhirnya bukan hanya soal misteri Gunung Salak.

Cerita tersebut juga menunjukkan betapa banyak hal di alam liar yang belum tentu mudah dipahami manusia.

Terlepas dari apakah pengalaman tersebut berkaitan dengan fenomena alam, kesalahan persepsi, suara yang terbawa kondisi lingkungan, atau sesuatu yang hingga kini belum diketahui, keselamatan tetap menjadi hal utama.

Bagi pendaki, memahami medan, membawa perlengkapan yang sesuai, menguasai navigasi, mengetahui pertolongan pertama, dan tidak memaksakan diri ketika kondisi memburuk jauh lebih penting daripada mencoba membuktikan sebuah cerita misterius di tengah hutan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@PrasodjoMuhammadReal
misteri Gunung Salak Mas Bima SAR pendaki Gunung Salak fenomena Gunung Salak basarnas