Logika Frimawan Resmi Tamat, Episode Terakhir Bareng Jenda dan Pascol Malah Bikin Ngakak dengan Debat Absurd

Ika Nur Jannah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 12:18 WIB
Logika Frimawan tamat, tapi logikanya malah makin ke mana-mana! Episode terakhir bareng Jenda Munthe dan Pascol diwarnai debat absurd soal MBG, "terjun ke lapangan", lele hingga tukang fotokopi. Menurut kamu, siapa yang paling bikin gagal fokus? (Sumber Foto: Tangkapan layar YouTube @Dedy Corby)
Logika Frimawan tamat, tapi logikanya malah makin ke mana-mana! Episode terakhir bareng Jenda Munthe dan Pascol diwarnai debat absurd soal MBG, "terjun ke lapangan", lele hingga tukang fotokopi. Menurut kamu, siapa yang paling bikin gagal fokus? (Sumber Foto: Tangkapan layar YouTube @Dedy Corby)

RADARBONAG.ID — Perjalanan program Logika Frimawan akhirnya sampai di penghujung episode.

Alih-alih ditutup dengan pembahasan serius dan penuh kesimpulan, episode pamungkas justru menghadirkan kekacauan khas yang membuat penonton tertawa.

Episode terakhir tersebut menghadirkan dua komika, Jenda Munthe dan Pascol, sebagai bintang tamu.

Keduanya menjadi lawan diskusi Indra Frimawan dalam sebuah percakapan yang sejak awal sudah menunjukkan tanda-tanda bakal berjalan di luar dugaan.

Program tersebut tayang melalui kanal YouTube Deddy Corbuzier dan menghadirkan berbagai topik yang sebenarnya cukup serius.

Namun, cara para pengisi acara mengolah pembahasan membuat diskusi berubah menjadi perdebatan absurd.

Baca Juga: Knalpot Brong Masih Dianggap Keren? Tren Modifikasi Motor Kini Berbenturan dengan Kenyamanan dan Aturan di Jalan

Salah satu topik yang sempat dibicarakan adalah mengenai potensi penyalahgunaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahas MBG, Jawaban Pascol Malah Bikin Bingung

Indra Frimawan membuka diskusi dengan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya penyalahgunaan dalam pelaksanaan program MBG.

Ia meminta Jenda dan Pascol memberikan pandangan mengenai persoalan tersebut.

"Menurut kalian MBG ini banyak yang menyalahgunakan atau tidak?" tanya Frimawan.

Alih-alih membahas persoalan anggaran, distribusi, atau pengawasan, Pascol justru memberikan jawaban yang membuat arah pembicaraan menjadi semakin tidak terduga.

Menurutnya, persoalan bisa muncul ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi makanan.

"Kalau kebanyakan makan, itu berat-berat yang ada," ujar Pascol.

Jawaban tersebut kemudian membuka ruang perdebatan baru mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan penyalahgunaan makanan.

Pembahasan yang seharusnya dapat berkembang menjadi diskusi serius justru berubah menjadi permainan logika khas para komika.

Anggaran MBG Berujung Debat soal "Terjun ke Lapangan"

Frimawan kemudian mencoba mengarahkan pembahasan pada persoalan efektivitas anggaran.

Ia mempertanyakan apakah penambahan anggaran dapat membantu meningkatkan kualitas makanan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak.

Jenda mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui secara detail bagaimana mekanisme alokasi anggaran dalam program tersebut.

Namun, ia memiliki satu solusi sederhana.

Menurut Jenda, evaluasi harus dilakukan dengan melihat kondisi secara langsung di lapangan.

"Kalau aku sebenarnya nggak terlalu tahu sistem alokasinya gimana.

Misalkan anggarannya dibagi beberapa saya nggak tahu. Caranya adalah kita terjun ke lapangan," kata Jenda.

Pernyataan tersebut seharusnya menjadi penutup yang cukup masuk akal.

Namun, Pascol kembali menemukan celah untuk membuat diskusi semakin absurd.

Kata "terjun" yang digunakan Jenda justru dipertanyakan dan dikaitkan dengan penggunaan parasut.

Frimawan kemudian berusaha meluruskan bahwa istilah "terjun ke lapangan" yang dimaksud bukan benar-benar terjun dari udara.

"Terjun itu maksudnya adalah masuk ke dalam di situ. Masalah parasut itu kan pengandaian dalam tanda kutip," jelas Frimawan.

Perdebatan kecil tersebut menjadi salah satu momen yang menggambarkan karakter utama Logika Frimawan: pembahasan sederhana bisa berkembang menjadi percakapan yang sama sekali tidak terduga.

Bukan Cuma MBG, Topiknya Makin Random

Episode terakhir tidak hanya membahas MBG.

Sejumlah topik lain juga ikut dilemparkan dalam percakapan, mulai dari persoalan "orang dalam", peluang tukang es batu menjadi kaya raya, tukang fotokopi yang disebut sebagai pecinta kopi, hingga pertanyaan absurd mengenai apakah seseorang bisa mengalami stres karena tidak mampu menyetrika.

Setiap pertanyaan kemudian mendapat respons yang berbeda dari para bintang tamu.

Tidak ada jawaban yang benar-benar berjalan lurus.

Justru dari perbedaan cara berpikir itulah muncul berbagai momen komedi yang menjadi ciri khas program tersebut.

Indra Frimawan sebagai host juga harus berkali-kali mengembalikan arah pembicaraan ketika diskusi mulai melebar ke berbagai hal yang tidak berkaitan dengan topik awal.

Lele Belum Matang Ikut Masuk ke Perdebatan

Salah satu unsur lain yang membuat episode pamungkas semakin tidak terduga adalah munculnya pembahasan mengenai makanan, termasuk perdebatan tentang lele yang belum matang.

Topik tersebut kembali menunjukkan bagaimana sebuah pertanyaan sederhana dapat berkembang menjadi perdebatan panjang ketika dibahas dengan "logika" versi para komika.

Alih-alih mencari jawaban paling masuk akal, percakapan justru menikmati proses saling melempar argumen.

Inilah yang membuat penonton tidak hanya menunggu kesimpulan, tetapi juga penasaran dengan ke mana arah pembicaraan berikutnya.

Ditutup dengan Pesan tentang Stres

Setelah melewati berbagai perdebatan yang penuh kelucuan, episode terakhir akhirnya sampai pada bagian penutup.

Frimawan menyampaikan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki beban dan tingkat stres masing-masing.

Pernyataan tersebut masih berkaitan dengan pembahasan sebelumnya mengenai kemampuan menyetrika dan apakah ketidakmampuan melakukan pekerjaan tersebut bisa menjadi sumber stres.

Bagi Frimawan, persoalan stres tidak sesederhana bisa atau tidak bisa menyetrika.

Setiap orang mempunyai persoalan dan tekanan yang berbeda dalam kehidupannya.

"Terima kasih semua sudah menyaksikan episode akhir ini dari kami," ujar Frimawan saat menutup episode pamungkas.

Perjalanan Logika Frimawan Resmi Berakhir

Dengan berakhirnya episode tersebut, perjalanan Logika Frimawan pun resmi ditutup.

Program ini menawarkan konsep yang cukup berbeda.

Alih-alih menghadirkan diskusi dengan pola tanya jawab konvensional, setiap episode membiarkan logika para pengisi acara berkembang ke arah yang tidak selalu bisa ditebak.

Baca Juga: Meriahkan HUT Ke-81 RI, Sekretariat Kabinet Gelar Lomba 17 Agustus yang Penuh Tawa dan Semangat Kebersamaan

Episode terakhir bersama Jenda Munthe dan Pascol pun terasa seperti rangkuman dari karakter program tersebut.

Ada pembahasan serius, ada pertanyaan sederhana, ada jawaban yang sulit ditebak, dan tentu saja perdebatan yang justru semakin lucu ketika para pengisi acara berusaha mempertahankan logika masing-masing.

Bagi penonton, tamatnya program ini mungkin meninggalkan rasa penasaran sekaligus kenangan atas berbagai percakapan absurd yang muncul sepanjang episodenya.

Sebab, seperti namanya, Logika Frimawan memang tidak selalu meminta penonton mencari jawaban paling masuk akal.

Kadang, justru perjalanan menuju jawaban yang tidak masuk akal itulah yang menjadi sumber kelucuannya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@corbuzier
Logika Frimawan episode terakhir Indra Frimawan Jenda Munthe Pascol Logika Frimawan