Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Diburu! Kimpul Naik Kelas Jadi Umbi Lokal yang Punya Nilai Jual Tinggi

Siska Yudianti • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 11:50 WIB
Bukan ubi, bukan talas biasa! Kimpul yang dulu identik dengan makanan sederhana kini mulai naik kelas. Bisa diolah jadi keripik, donat, bolu sampai dessert kekinian. (kompas.com)
Bukan ubi, bukan talas biasa! Kimpul yang dulu identik dengan makanan sederhana kini mulai naik kelas. Bisa diolah jadi keripik, donat, bolu sampai dessert kekinian. (kompas.com)

RADARBONAG.ID — Di tengah derasnya tren makanan kekinian, dessert estetik, hingga berbagai camilan impor, pangan lokal ternyata masih mampu mencuri perhatian.

Salah satunya adalah kimpul, umbi yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian anak muda.

Bahan pangan tradisional ini belakangan mulai banyak dibicarakan setelah muncul dalam berbagai konten kuliner di media sosial.

Kimpul yang dahulu lebih sering ditemukan sebagai makanan sederhana kini mulai diolah menjadi berbagai menu modern.

Ada yang menjadikannya keripik, donat, bolu, kolak, hingga aneka dessert dengan tampilan yang jauh lebih kekinian.

Fenomena tersebut membuat banyak orang penasaran.

Sebenarnya, apa itu kimpul dan mengapa umbi yang selama ini identik dengan makanan tradisional mulai memiliki nilai jual yang menarik?

Baca Juga: Kejagung Didesak Bongkar Jaringan TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Pakar Hukum: Jangan Berhenti di Tiga Tersangka

Kimpul Itu Apa?

Kimpul merupakan kelompok tanaman umbi-umbian dari genus Xanthosoma yang masih berkerabat dengan talas.

Karena kemiripannya, kimpul terkadang dianggap sama dengan talas, padahal keduanya merupakan jenis tanaman yang berbeda.

Bagian umbinya dapat diolah menjadi makanan setelah dimasak dengan cara yang tepat.

Tekstur kimpul setelah matang cenderung lembut dan bertepung.

Karakter tersebut membuatnya cukup fleksibel untuk diolah menjadi berbagai jenis makanan, baik tradisional maupun modern.

Di sejumlah daerah, kimpul sudah lama dikenal sebagai salah satu sumber pangan lokal.

Namun, popularitasnya sempat kalah dibandingkan kentang, singkong, dan ubi jalar yang lebih mudah ditemukan dalam berbagai produk makanan.

Baca Juga: Knalpot Brong Masih Dianggap Keren? Tren Modifikasi Motor Kini Berbenturan dengan Kenyamanan dan Aturan di Jalan

Perubahan tren konsumsi membuat pangan lokal seperti kimpul kembali mendapatkan perhatian.

Jika sebelumnya kimpul identik dengan olahan sederhana seperti kukusan atau rebusan, kini kreativitas pelaku kuliner membuatnya memiliki wajah baru.

Kimpul dapat diolah menjadi keripik dengan berbagai varian rasa, bolu, donat, kroket, puree, hingga aneka kue.

Bahkan, tekstur yang lembut membuatnya berpotensi digunakan sebagai bahan dalam kreasi dessert.

Perubahan cara penyajian inilah yang membuat kimpul terlihat lebih menarik bagi generasi muda.

Pangan yang sebelumnya dianggap sederhana kini bisa dikemas dengan konsep modern, mulai dari desain kemasan hingga penyajian yang cocok untuk konten media sosial.

Media Sosial Ikut Mengangkat Namanya

Tidak bisa dipungkiri, media sosial memiliki peran besar dalam membuat bahan pangan tradisional kembali dikenal.

Ketika sebuah makanan tampil menarik di video pendek atau foto, rasa penasaran pengguna dapat muncul dalam waktu singkat.

Kimpul pun mendapatkan momentum tersebut.

Konten yang memperlihatkan proses pengolahan kimpul menjadi makanan modern membuat sebagian warganet baru mengetahui bahwa umbi tersebut ternyata dapat digunakan untuk berbagai kreasi kuliner.

Dari sinilah muncul efek berantai.

Orang yang awalnya tidak mengenal kimpul mulai mencari tahu, mencoba membeli, hingga ikut membuat olahan sendiri di rumah.

Punya Kandungan Karbohidrat dan Serat

Selain menawarkan fleksibilitas dalam pengolahan, kimpul juga memiliki kandungan gizi yang membuatnya menarik sebagai bagian dari pola makan beragam.

Seperti kelompok umbi lainnya, kimpul merupakan sumber karbohidrat. Umbi ini juga mengandung serat serta sejumlah vitamin dan mineral.

Kandungan tersebut membuat kimpul dapat menjadi salah satu alternatif sumber pangan, terutama jika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.

Namun, klaim bahwa kimpul otomatis lebih sehat dibandingkan semua jenis umbi lainnya tentu tidak tepat.

Nilai gizi akhirnya juga dipengaruhi oleh porsi, cara pengolahan, serta bahan tambahan yang digunakan.

Kimpul yang direbus tentu berbeda profil gizinya dengan kimpul yang diolah menjadi makanan tinggi gula atau digoreng.

Bisa Disulap Menjadi Banyak Produk

Salah satu alasan kimpul berpotensi menarik perhatian industri kuliner adalah fleksibilitasnya.

Dengan kreativitas yang tepat, bahan pangan lokal ini dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti:

Bentuk olahan tersebut menunjukkan bahwa pangan lokal tidak harus selalu disajikan menggunakan resep tradisional.

Justru, perpaduan bahan lokal dengan teknik dan konsep modern dapat membuka pasar baru.

Ada Peluang Bisnis untuk UMKM

Popularitas pangan lokal juga dapat menciptakan peluang ekonomi.

Pelaku UMKM dapat membeli bahan baku dari petani, kemudian mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.

Perbedaan harga antara bahan mentah dan produk siap konsumsi dapat menciptakan ruang usaha, meski tentu biaya produksi seperti minyak, gula, bahan tambahan, kemasan, tenaga kerja, distribusi, dan pemasaran tetap harus diperhitungkan.

Konsep tersebut juga bisa dikembangkan menjadi produk oleh-oleh khas daerah.

Apalagi konsumen saat ini tidak hanya mencari makanan yang enak. Mereka juga tertarik pada produk yang memiliki cerita, identitas lokal, serta konsep unik.

Kimpul memiliki modal cerita tersebut karena merupakan bagian dari kekayaan pangan tradisional Indonesia.

Momentum Menghidupkan Pangan Lokal

Fenomena kimpul juga menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang belum sepenuhnya dikembangkan.

Selama ini, sebagian konsumen lebih familiar dengan kentang, gandum, atau berbagai bahan pangan yang sudah populer secara global.

Padahal, berbagai daerah di Indonesia memiliki beragam jenis umbi dan tanaman pangan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Jika inovasi pengolahan, pemasaran, dan kualitas produk terus ditingkatkan, pangan lokal bukan hanya mampu bersaing di pasar domestik, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari identitas kuliner daerah.

Jangan Sampai Hanya Viral Sesaat

Popularitas kimpul memang mendapatkan dorongan besar dari media sosial.

Namun, tantangan berikutnya adalah mempertahankan minat konsumen setelah tren mereda.

Kualitas produk, konsistensi rasa, keamanan pangan, kemasan, harga, serta ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting agar kimpul tidak sekadar menjadi makanan yang viral selama beberapa minggu.

Baca Juga: Jangan Asal Makan! 6 Kebiasaan Sepele Ini Ternyata Bisa Memengaruhi Penyerapan Nutrisi dalam Tubuh

Jika dikembangkan dengan serius, kimpul justru bisa menjadi contoh bagaimana bahan pangan tradisional mendapatkan kehidupan baru.

Dari makanan sederhana di pedesaan, kimpul dapat naik kelas menjadi bahan baku berbagai produk kuliner modern.

Pada akhirnya, tren ini bukan hanya tentang satu jenis umbi yang sedang ramai dibicarakan.

Lebih jauh, kimpul menunjukkan bahwa pangan lokal Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar jika dipadukan dengan kreativitas, teknologi pengolahan, dan strategi pemasaran yang tepat.

Bisa jadi, makanan yang selama ini dianggap sederhana justru sedang menunggu momen untuk menjadi bintang baru di meja makan generasi muda.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
manfaat kimpul kimpul viral umbi lokal Indonesia olahan kimpul kekinian bisnis kimpul