Lihat Gedung, Kapal, atau Patung Raksasa Langsung Merinding? Bisa Jadi Kamu Mengalami Megalofobia

Widodo • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 11:26 WIB
Kenapa lihat kapal raksasa atau gedung pencakar langit malah bikin merinding? Bisa jadi cuma rasa tak nyaman, tapi pada sebagian orang, ketakutan terhadap benda berukuran sangat besar dapat berkaitan dengan megalofobia. (ilustrasi)
Kenapa lihat kapal raksasa atau gedung pencakar langit malah bikin merinding? Bisa jadi cuma rasa tak nyaman, tapi pada sebagian orang, ketakutan terhadap benda berukuran sangat besar dapat berkaitan dengan megalofobia. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID — Pernah merasa tubuh tiba-tiba merinding ketika melihat kapal berukuran sangat besar? Atau merasa tidak nyaman saat berdiri di bawah gedung pencakar langit, melihat patung raksasa, bendungan, hingga gambar planet yang ditampilkan dalam ukuran ekstrem?

Bagi sebagian orang, benda-benda tersebut mungkin terlihat mengagumkan.

Namun, bagi orang lain, ukurannya yang sangat besar justru dapat menimbulkan rasa takut dan tidak nyaman.

Belakangan, istilah megalofobia semakin sering muncul di media sosial. Berbagai video yang menampilkan objek berukuran raksasa kerap membuat warganet mengaku merinding, merasa tidak nyaman, bahkan memilih untuk segera menggulir layar.

Fenomena tersebut membuat megalofobia menjadi salah satu istilah psikologi yang ramai diperbincangkan, terutama di kalangan pengguna media sosial dan Gen Z.

Baca Juga: Milanisti Indonesia Sudah Bikin Koreo Ratusan Juta, AC Milan Malah Dibantai Chelsea 0-3

Namun, apakah setiap orang yang merasa merinding melihat benda besar bisa disebut mengalami megalofobia?

Megalofobia Bukan Sekadar Rasa Merinding

Megalofobia merujuk pada ketakutan intens terhadap objek yang berukuran sangat besar.

Dalam konteks psikologi, kondisi ini berkaitan dengan specific phobia atau fobia spesifik, yakni ketakutan yang kuat dan menetap terhadap objek atau situasi tertentu.

Pemicu ketakutan setiap orang bisa berbeda.

Ada orang yang merasa takut melihat kapal laut berukuran raksasa. Ada pula yang tidak nyaman dengan pesawat besar, gedung pencakar langit, jembatan, bendungan, patung monumental, gunung, atau objek lain yang ukurannya jauh lebih besar dari manusia.

Pada sebagian orang, bahkan gambar atau video objek tersebut sudah cukup untuk menimbulkan rasa tidak nyaman.

Namun, sekadar merasa "ngeri" atau merinding ketika melihat sesuatu yang sangat besar belum tentu berarti seseorang mengalami fobia.

Ketika Otak Menganggap Benda Besar sebagai Ancaman

Rasa takut pada fobia bukan sekadar dibuat-buat.

Ketika seseorang berhadapan dengan objek yang menjadi pemicu, otak dapat mempersepsikan situasi tersebut sebagai ancaman. Sistem tubuh kemudian mengaktifkan respons yang dikenal sebagai fight or flight.

Akibatnya, tubuh dapat menunjukkan berbagai reaksi fisik.

Detak jantung bisa meningkat, napas menjadi lebih cepat, telapak tangan berkeringat, tubuh gemetar, pusing, hingga muncul dorongan kuat untuk menjauh dari objek tersebut.

Pada tingkat tertentu, rasa takut juga dapat berkembang menjadi serangan panik.

Padahal, benda yang dilihat sebenarnya belum tentu memberikan ancaman nyata.

Inilah salah satu hal yang membedakan rasa takut biasa dengan fobia.

Respons emosional yang muncul bisa jauh lebih kuat dibandingkan tingkat bahaya sebenarnya.

Kenapa Seseorang Bisa Mengalami Megalofobia?

Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan mengapa seseorang mengalami megalofobia.

Seperti berbagai jenis fobia lainnya, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor.

Pengalaman buruk atau traumatis di masa lalu dapat menjadi salah satu pemicu.

Misalnya, seseorang pernah mengalami kejadian menakutkan yang berkaitan dengan objek berukuran besar.

Faktor genetik dan temperamen juga dapat berperan dalam kecenderungan seseorang mengalami gangguan kecemasan.

Selain itu, lingkungan dan proses belajar juga mungkin berpengaruh.

Seseorang dapat mengembangkan respons takut setelah melihat orang lain menunjukkan ketakutan terhadap objek tertentu.

Menariknya, tidak semua penderita dapat mengingat kapan rasa takut tersebut pertama kali muncul.

Tidak Semua Orang yang Merinding Mengalami Fobia

Istilah megalofobia yang viral di media sosial terkadang digunakan terlalu longgar.

Seseorang yang merasa tidak nyaman, geli, atau merinding ketika melihat kapal raksasa belum tentu memiliki fobia.

Dalam konteks klinis, fobia spesifik biasanya ditandai oleh ketakutan atau kecemasan yang intens, menetap, dan tidak sebanding dengan bahaya sebenarnya.

Yang lebih penting, kondisi tersebut dapat membuat seseorang menghindari objek atau situasi tertentu hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Karena itu, diagnosis tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan konten media sosial atau daftar ciri-ciri di internet.

Penilaian mengenai kondisi psikologis perlu dilakukan oleh tenaga profesional.

Kenapa Megalofobia Viral di Media Sosial?

Munculnya berbagai konten berskala ekstrem membuat fenomena ini semakin mudah ditemukan di internet.

Media sosial dipenuhi video kapal pesiar yang tampak sangat besar ketika berada dekat dermaga, pesawat berukuran jumbo, turbin angin raksasa, bendungan, gedung pencakar langit, hingga perbandingan ukuran manusia dengan objek luar angkasa.

Konten seperti itu dapat memberikan sensasi visual yang kuat.

Bagi sebagian pengguna, melihat perbandingan ukuran ekstrem terasa mengagumkan. Namun, bagi orang yang sensitif terhadap objek berukuran sangat besar, visual tersebut justru dapat memicu rasa tidak nyaman.

Di berbagai komunitas daring, termasuk forum yang membahas megalofobia, pengguna juga sering berbagi pengalaman mengenai sensasi yang mereka rasakan ketika melihat objek berukuran masif.

Hal tersebut menunjukkan bahwa persepsi manusia terhadap ukuran dapat menghasilkan respons emosional yang berbeda-beda.

Megalofobia Bisa Ditangani

Kabar baiknya, fobia spesifik termasuk kondisi yang dapat ditangani.

Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif.

Terapi ini membantu seseorang mengenali pola pikir dan respons yang berkaitan dengan rasa takut, kemudian mempelajari cara menghadapi kecemasan tersebut.

Pendekatan lain yang dapat digunakan adalah exposure therapy, yaitu menghadapkan seseorang pada objek atau situasi yang memicu rasa takut secara bertahap dan terkontrol.

Tujuannya bukan memaksa seseorang menghadapi ketakutan secara tiba-tiba, melainkan membantu tubuh dan pikiran belajar bahwa situasi tersebut dapat dihadapi dengan aman.

Dalam kondisi tertentu, tenaga medis juga dapat mempertimbangkan penggunaan obat untuk membantu mengendalikan gejala kecemasan.

Jenis penanganan tentu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Kapan Harus Mencari Bantuan?

Jika melihat benda raksasa hanya membuat seseorang merasa sedikit merinding, hal tersebut belum tentu menjadi masalah.

Baca Juga: Febrie Adriansyah Dijemput dari Rutan KPK dengan Tangan Terborgol, Dikawal TNI Menuju Kejagung untuk Jalani Pemeriksaan

Namun, jika ketakutan terasa sangat intens, membuat seseorang terus-menerus menghindari tempat tertentu, mengganggu pekerjaan, perjalanan, aktivitas sosial, atau kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat.

Jadi, tidak perlu buru-buru memberi label diri sendiri hanya karena merasa aneh ketika melihat benda berukuran sangat besar.

Megalofobia bukan sekadar tren atau istilah yang sedang viral. Bagi orang yang benar-benar mengalaminya, rasa takut tersebut bisa terasa nyata dan mengganggu.

Memahami perbedaan antara rasa tidak nyaman biasa dan fobia menjadi langkah penting agar seseorang tidak salah menilai kondisi dirinya.

Sebab, ketika rasa takut mulai mengambil alih aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional bukan berarti berlebihan.

Justru, memahami apa yang sedang dirasakan dapat menjadi langkah awal untuk mengelola ketakutan dengan lebih baik.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
megalofobia fobia benda besar megalophobia Gen Z penyebab megalofobia cara mengatasi megalofobia