Bicara Film Seni Merayu Tuhan, Arie Kriting dan Habib Jafar Ungkap Peran Tak Biasa sebagai Marbot Masjid dan Bouncer Klub Malam

Ika Nur Jannah • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 18:32 WIB
Habib Jafar jadi bouncer klub malam, Arie Kriting malah berperan sebagai marbot masjid! Dua karakter yang terlihat kontras ini ternyata menjadi bagian dari film Seni Merayu Tuhan. Habib Jafar juga mengungkap dirinya sempat tak tahu arti "bouncer" saat pertama ditawari peran. Film ini bakal tayang 13 Agustus 2026. (Sumber Foto: Tangkapan layar YouTube @Dedy Corbuzier)
Habib Jafar jadi bouncer klub malam, Arie Kriting malah berperan sebagai marbot masjid! Dua karakter yang terlihat kontras ini ternyata menjadi bagian dari film Seni Merayu Tuhan. Habib Jafar juga mengungkap dirinya sempat tak tahu arti "bouncer" saat pertama ditawari peran. Film ini bakal tayang 13 Agustus 2026. (Sumber Foto: Tangkapan layar YouTube @Dedy Corbuzier)

RADARBONAG.ID — Film Seni Merayu Tuhan menjadi salah satu topik menarik yang dibahas dalam podcast Deddy Corbuzier bersama Habib Jafar, Arie Kriting, dan Nino.

Episode tersebut diunggah di kanal YouTube pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Obrolan yang berlangsung santai tersebut tidak hanya membahas film yang akan segera tayang, tetapi juga diwarnai cerita tentang persahabatan, kenangan terhadap mendiang Vidi, hingga pengalaman unik para pemain ketika menjalani proses produksi.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah peran yang dimainkan Habib Jafar dan Arie Kriting dalam film tersebut.

Habib Jafar justru mendapat karakter sebagai bouncer klub malam, sementara Arie Kriting dipercaya memerankan sosok marbot masjid.

Dua peran tersebut terdengar cukup kontras dengan sosok keduanya yang selama ini dikenal publik.

Baca Juga: Sejarah Baru Premier League! Sembilan Klub Ganti Manajer Sekaligus, Liga Inggris Musim 2026/2027 Masuki Era Baru

Habib Jafar Sempat Tak Tahu Arti Bouncer

Dalam podcast tersebut, Habib Jafar mengungkap cerita menarik di balik keterlibatannya dalam film Seni Merayu Tuhan.

Ia mengaku sempat tidak mengetahui secara pasti arti istilah "bouncer" ketika pertama kali ditawari peran.

Saat proses casting, pihak produser hanya menyebut karakter tersebut sebagai seorang bouncer tanpa memberikan penjelasan lebih jauh mengenai pekerjaan yang dilakukan karakter itu.

Karena tidak mengetahui bahwa bouncer yang dimaksud merupakan penjaga klub malam, Habib Jafar akhirnya menerima tawaran tersebut.

"Kalau seandainya nyebutnya bouncer klub malam, mungkin saya tidak akan ngambil. Karena produsernya di awal bilang, ini tuh bouncer. Saya tidak tahu bouncer," ungkap Habib Jafar.

Pengakuan tersebut sontak menjadi bagian menarik dalam perbincangan karena karakter yang ia mainkan cukup berbeda dari citra dirinya yang dikenal sebagai pendakwah dan figur publik.

Arie Kriting Berperan sebagai Marbot Masjid

Sementara Habib Jafar tampil sebagai bouncer klub malam, Arie Kriting justru mendapat peran yang berhubungan dengan lingkungan masjid.

Komika asal Indonesia Timur tersebut berperan sebagai seorang marbot masjid.

Perbedaan karakter tersebut menjadi salah satu daya tarik film Seni Merayu Tuhan.

Kehadiran kedua tokoh dengan karakter yang berlawanan menunjukkan bahwa film ini tidak ingin menyajikan cerita agama secara hitam-putih.

Justru melalui karakter yang beragam, penonton diajak melihat perjalanan manusia dalam menjalani kehidupan, mencari makna spiritual, serta menghadapi hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Bukan Film Religi Konvensional

Habib Jafar menjelaskan bahwa Seni Merayu Tuhan tidak bisa disebut sebagai film religi dalam pengertian yang umum.

Film tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai coming of age, yaitu cerita tentang perjalanan seseorang menuju proses pendewasaan.

Perjalanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan.

Menurut Habib Jafar, cerita di dalam film juga menyentuh persoalan spiritual, kehidupan sosial, pertemanan, hingga hubungan keluarga.

"Karena bukan film religi, tapi lebih ke coming of age, perjalanan untuk menjadi dewasa yang baik secara spiritual, kemudian secara sosial dengan teman-temannya, kemudian secara family juga, dengan ibunya," jelas Habib Jafar.

Konsep tersebut membuat film ini berusaha membawa tema spiritual melalui kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui aktivitas keagamaan.

Terinspirasi dari Buku Karya Habib Jafar

Film Seni Merayu Tuhan memiliki keterkaitan dengan buku karya Habib Jafar yang juga menggunakan judul Seni Merayu Tuhan.

Namun, Habib Jafar menegaskan bahwa buku tersebut bukan novel maupun karya fiksi.

Buku itu merupakan kumpulan esai yang membahas perjalanan spiritual manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

"Terinspirasi saja di buku aku. Buku aku judulnya Seni Merayu Tuhan, bukan novel, bukan fiksi. Bahkan kumpulan esai," ujar Habib Jafar.

Gagasan mengenai perjalanan spiritual dalam buku tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi dalam pengembangan film.

Meski demikian, cerita film dibuat dalam format yang lebih luas dengan memasukkan unsur sosial dan keluarga.

Tentang Perjalanan Menjadi Lebih Baik

Salah satu pesan utama yang ingin disampaikan Habib Jafar melalui karya tersebut adalah bahwa menjadi manusia yang lebih baik merupakan sebuah proses.

Tidak ada perubahan yang terjadi secara instan.

Seseorang perlu menjalani perjalanan sedikit demi sedikit, memperbaiki diri secara konsisten, dan mempertahankan proses tersebut.

Habib Jafar menyebut perjalanan spiritual yang dimaksud berkaitan dengan bagaimana seseorang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik secara perlahan.

Yang terpenting bukan hanya perubahan sesaat, melainkan kemampuan untuk terus mempertahankannya.

Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan istilah istikamah, yakni konsistensi dalam menjalani kebaikan.

Dibumbui Cerita Persahabatan

Sebelum membahas film, podcast tersebut juga dibuka dengan cerita mengenai mendiang Vidi yang merupakan sahabat mereka.

Arie Kriting bahkan menceritakan pengalaman unik ketika mengenakan sebuah kemeja yang ia kira merupakan pakaian peninggalan Vidi.

Ternyata, pakaian tersebut merupakan milik adik Vidi bernama Fadi.

Arie awalnya mengenakan kemeja tersebut karena menganggap ada semangat sahabatnya yang ingin terus ia bawa.

"Ini dari lemari Fidi. Tadi gua pikir wah biar semangatnya Fidi terus terbawa juga dan ada rasanya di gua," ujar Arie Kriting.

Kisah tersebut kemudian menjadi bahan candaan sekaligus menghadirkan suasana haru dalam obrolan.

Cerita tentang pakaian tersebut juga menggambarkan kedekatan mereka sebagai sahabat yang terbiasa berbagi berbagai hal.

Seni Merayu Tuhan Segera Tayang

Film Seni Merayu Tuhan dijadwalkan tayang pada 13 Agustus 2026.

Baca Juga: Kisah Horor Desa Way Bluru Viral, Berawal dari Kematian Bayu hingga Warga Ramai-Ramai Tinggalkan Kampung

Dengan menggabungkan perjalanan spiritual, kehidupan sosial, pertemanan, dan hubungan keluarga, film tersebut menawarkan pendekatan yang berbeda dibandingkan film religi pada umumnya.

Ditambah dengan kehadiran Arie Kriting sebagai marbot masjid dan Habib Jafar sebagai bouncer klub malam, film ini menyimpan sejumlah karakter yang cukup unik untuk dinantikan.

Bagi Habib Jafar, Seni Merayu Tuhan bukan sekadar cerita tentang agama, melainkan tentang perjalanan manusia untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Pesan tersebut menjadi inti dari perjalanan spiritual yang ingin disampaikan melalui film, yakni memperbaiki diri sedikit demi sedikit, tetap konsisten, dan terus berusaha menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@corbuzier
Seni Merayu Tuhan Habib Jafar Arie Kriting film Seni Merayu Tuhan deddy corbuzier