RADARBONAG.ID – Menjelajahi hutan, mendaki gunung, atau berwisata ke kawasan alam memang menawarkan pengalaman yang menyenangkan.
Namun, aktivitas tersebut juga memiliki risiko, salah satunya bertemu ular liar.
Jika mengalami gigitan ular, banyak orang masih percaya bahwa luka harus segera disedot, disayat, atau diikat dengan kuat agar racun tidak menyebar.
Padahal, menurut dokter spesialis emergensi dan toksinologi, cara tersebut justru tidak dianjurkan dan berpotensi memperburuk kondisi korban.
Karena itu, memahami pertolongan pertama yang benar menjadi hal penting agar korban mendapatkan penanganan yang tepat sebelum tiba di fasilitas kesehatan.
Jangan Sedot atau Sayat Luka Gigitan
Dokter spesialis emergensi dan toksinologi dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K) menegaskan bahwa tindakan menyedot, menyayat, atau mengeluarkan darah dari luka gigitan ular bukanlah cara yang benar.
Menurutnya, bisa ular umumnya menyebar melalui sistem limfatik (getah bening), bukan langsung melalui pembuluh darah.
Oleh sebab itu, mengisap luka tidak akan mengeluarkan racun dari tubuh.
Sebaliknya, tindakan tersebut justru dapat meningkatkan risiko infeksi maupun memperparah cedera.
Selain itu, mengikat bagian tubuh yang tergigit terlalu kencang juga tidak dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan.
Anggap Semua Gigitan Ular Sebagai Kondisi Darurat
Banyak orang mencoba menebak apakah ular yang menggigit berbisa atau tidak sebelum mencari pertolongan medis.
Padahal, menurut dr. Tri Maharani, cara berpikir tersebut cukup berbahaya.
Indonesia memiliki ratusan spesies ular, termasuk sekitar 180 jenis ular berbisa dan sekitar 300 jenis ular tidak berbisa, sehingga masyarakat awam sangat sulit mengidentifikasi jenis ular hanya dari penampilannya.
Karena itu, setiap gigitan ular sebaiknya diperlakukan sebagai keadaan darurat medis hingga terbukti sebaliknya.
Pertolongan Pertama yang Dianjurkan
Alih-alih menyedot atau mengikat luka, langkah pertama yang dianjurkan adalah melakukan imobilisasi, yaitu membatasi gerakan pada anggota tubuh yang tergigit.
Tujuannya agar penyebaran racun melalui sistem getah bening berlangsung lebih lambat.
Jika memungkinkan, bagian tubuh yang terkena gigitan dapat dipasang bidai sederhana menggunakan benda yang kaku agar tetap diam selama perjalanan menuju fasilitas kesehatan.
Selain itu, korban dianjurkan untuk:
- Tetap tenang dan tidak panik.
- Mengurangi gerakan tubuh seminimal mungkin.
- Segera menuju rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.
- Melepaskan cincin, gelang, atau aksesori pada anggota tubuh yang tergigit karena pembengkakan bisa terjadi.
Hindari Berlari atau Berjalan Terlalu Jauh
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan korban adalah tetap berjalan atau bahkan berlari mencari pertolongan.
Menurut dr. Tri Maharani, aktivitas otot yang berlebihan dapat mempercepat kerja sistem limfatik sehingga racun menyebar lebih cepat ke bagian tubuh lain.
Apabila gigitan terjadi pada kaki, korban sebaiknya dibantu orang lain menuju kendaraan atau ditandu agar tidak perlu berjalan jauh.
Semakin sedikit gerakan yang dilakukan, semakin baik peluang memperlambat penyebaran racun hingga mendapatkan penanganan medis.
Jangan Melawan atau Menangkap Ular
Jika bertemu ular saat berada di alam terbuka, hal terpenting adalah menjaga jarak.
Dr. Tri Maharani mengingatkan agar masyarakat tidak mencoba menangkap, memukul, atau mendekati ular hanya untuk memastikan jenisnya.
Sebagian besar ular menggigit sebagai bentuk pertahanan diri ketika merasa terancam.
Karena itu, langkah paling aman adalah memberi ruang agar ular pergi dengan sendirinya dan menghindari segala bentuk konfrontasi.
Persiapan Sebelum Beraktivitas di Alam
Untuk mengurangi risiko gigitan ular saat traveling atau mendaki, wisatawan juga disarankan melakukan beberapa langkah pencegahan, seperti:
- Menggunakan sepatu tertutup dan celana panjang.
- Tetap berada di jalur pendakian atau jalur resmi.
- Menghindari memasukkan tangan ke lubang, semak, atau tumpukan batu tanpa memastikan keamanannya.
- Membawa alat komunikasi yang dapat digunakan untuk meminta bantuan darurat.
Dengan pengetahuan yang benar, risiko komplikasi akibat gigitan ular dapat diminimalkan.
Yang terpenting, jangan mempercayai mitos lama seperti menyedot atau mengikat luka dengan kuat.
Pertolongan pertama yang tepat dan penanganan medis secepat mungkin menjadi kunci utama untuk meningkatkan peluang pemulihan korban.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : travel.detik.com