IKEA Effect Terungkap, Ini Alasan Psikologis Kenapa Barang yang Dirakit Sendiri Terasa Jauh Lebih Berharga daripada yang Sudah Jadi

Siska Yudianti • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 15:46 WIB
Kenapa meja yang dirakit sendiri terasa lebih berharga daripada yang sudah jadi? Ternyata ada penjelasan ilmiah dari dunia psikologi bernama IKEA Effect. Bias ini juga terjadi saat membangun bisnis, membuat konten, hingga merancang karya sendiri. (istockphoto.com)
Kenapa meja yang dirakit sendiri terasa lebih berharga daripada yang sudah jadi? Ternyata ada penjelasan ilmiah dari dunia psikologi bernama IKEA Effect. Bias ini juga terjadi saat membangun bisnis, membuat konten, hingga merancang karya sendiri. (istockphoto.com)

RADARBONANG.ID – Pernah merasa sebuah meja yang Anda rakit sendiri terasa jauh lebih berharga dibandingkan meja yang dibeli dalam kondisi siap pakai?.

Atau mungkin Anda merasa masakan buatan sendiri jauh lebih nikmat, meskipun tampilannya tidak sesempurna hidangan restoran?

Perasaan tersebut ternyata bukan sekadar emosi sesaat.

Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah IKEA Effect, sebuah bias kognitif yang membuat seseorang cenderung memberikan nilai lebih tinggi terhadap sesuatu yang mereka buat, susun, atau rakit sendiri.

Fenomena ini semakin banyak ditemukan di era modern, terutama di kalangan generasi muda yang gemar melakukan aktivitas DIY (Do It Yourself), membuat kerajinan tangan, merakit furnitur, membangun bisnis dari nol, hingga menciptakan konten digital secara mandiri.

Baca Juga: Tak Terima Putrinya Bekerja Sampai Tengah Malam, Ruben Onsu Siapkan Langkah Hukum terhadap Pihak Terkait

Di balik rasa bangga tersebut, ternyata ada cara kerja otak yang menarik untuk dipahami.

IKEA Effect, Saat Usaha Membuat Sesuatu Terasa Lebih Bernilai

Istilah IKEA Effect pertama kali diperkenalkan pada tahun 2011 oleh para peneliti perilaku konsumen yang mengamati bagaimana seseorang memberikan penilaian terhadap barang hasil rakitannya sendiri.

Nama fenomena ini diambil dari perusahaan furnitur asal Swedia, IKEA, yang terkenal dengan konsep furnitur bongkar-pasang.

Pelanggan tidak hanya membeli produk, tetapi juga harus meluangkan waktu dan tenaga untuk merakitnya sebelum bisa digunakan.

Dalam berbagai penelitian, para peserta diminta menyusun furnitur sederhana, membuat kotak penyimpanan, hingga melipat origami.

Hasilnya cukup mengejutkan.

Sebagian besar peserta memberikan penilaian yang jauh lebih tinggi terhadap hasil karya mereka sendiri dibandingkan penilaian orang lain terhadap benda yang sama. Bahkan, meskipun hasilnya tidak sempurna, mereka tetap menganggapnya lebih bernilai.

Hal tersebut menunjukkan bahwa proses menciptakan sesuatu mampu meningkatkan keterikatan emosional terhadap hasil akhirnya.

Mengapa Otak Bisa Berpikir Seperti Itu?

Psikolog menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan alami untuk merasa kompeten dan mampu menyelesaikan tantangan.

Ketika seseorang berhasil menyelesaikan sebuah pekerjaan, sekecil apa pun, otak akan memberikan rasa puas sebagai bentuk penghargaan atas usaha yang telah dilakukan.

Semakin besar tenaga, waktu, dan perhatian yang dicurahkan, semakin tinggi pula nilai emosional yang diberikan terhadap benda tersebut.

Inilah alasan mengapa banyak orang merasa bangga setelah berhasil merakit lemari, memasang rak dinding, menyelesaikan puzzle ribuan keping, merakit komputer, hingga memperbaiki barang yang rusak sendiri.

Pada akhirnya, yang membuat benda tersebut terasa spesial bukan hanya fungsi atau bentuknya, melainkan cerita perjuangan yang melekat selama proses pembuatannya.

Bukan Sekadar Membeli Produk, tetapi Menciptakan Pengalaman

Selama ini banyak orang mengira konsep furnitur bongkar-pasang hanya bertujuan menekan biaya produksi dan distribusi.

Padahal, ada faktor psikologis yang ikut berperan besar.

Ketika seseorang membuka kemasan, membaca petunjuk, memasang baut satu per satu, hingga akhirnya melihat furnitur berdiri dengan sempurna, secara tidak sadar ia sedang membangun hubungan emosional dengan barang tersebut.

Proses tersebut menciptakan rasa pencapaian yang sulit diperoleh ketika membeli produk yang sudah siap digunakan.

Tak heran apabila banyak pelanggan mengaku puas meskipun harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk merakit sebuah meja, kursi, atau lemari.

Dalam kondisi ini, pengalaman selama proses menjadi sama berharganya dengan produk yang berhasil diselesaikan.

IKEA Effect Ternyata Juga Terjadi di Dunia Digital

Fenomena ini tidak hanya berlaku pada furnitur.

Di era media sosial dan ekonomi kreatif, IKEA Effect muncul dalam berbagai aktivitas digital yang dilakukan setiap hari.

Misalnya ketika seseorang mendesain presentasi sendiri, membuat logo usaha, menyusun playlist lagu favorit, mengedit video, membangun kanal YouTube, mengembangkan akun media sosial, hingga menciptakan desain produk secara mandiri.

Walaupun hasilnya mungkin belum sesempurna karya profesional, banyak orang tetap merasa lebih bangga karena mengetahui seluruh proses di balik pembuatannya.

Hal serupa juga sering dirasakan oleh pelaku UMKM.

Logo pertama, kemasan sederhana, foto produk hasil jepretan sendiri, hingga desain awal sebuah merek sering kali memiliki nilai emosional yang sangat tinggi karena menjadi saksi perjalanan membangun usaha dari nol.

Bahkan bagi para kreator konten, video yang diedit sendiri sering kali terasa lebih membanggakan dibandingkan video yang seluruh prosesnya dikerjakan oleh orang lain.

Semakin Besar Usaha, Semakin Sulit Melepaskan

Menariknya, IKEA Effect juga menjelaskan mengapa seseorang sulit membuang atau mengganti barang yang dibuat sendiri.

Benda tersebut tidak lagi dipandang sebagai objek biasa, tetapi telah menjadi bagian dari identitas dan pengalaman pribadi.

Itulah sebabnya banyak orang tetap menyimpan kerajinan masa sekolah, buku catatan lama, karya seni sederhana, atau proyek pertama yang sebenarnya sudah tidak digunakan lagi.

Nilai sentimental yang terbentuk sering kali jauh lebih besar dibandingkan nilai ekonominya.

Ada Sisi Negatif yang Perlu Diwaspadai

Meski memiliki banyak dampak positif, IKEA Effect juga bisa membuat seseorang kehilangan objektivitas.

Karena terlalu bangga terhadap hasil kerja sendiri, seseorang dapat memberikan penilaian yang berlebihan terhadap kualitas produknya.

Dalam dunia bisnis, kondisi ini kerap membuat pelaku usaha sulit menerima kritik dari pelanggan.

Mereka merasa produk yang dibuat sudah cukup baik karena mengingat besarnya usaha yang telah dikeluarkan, padahal konsumen belum tentu memiliki pandangan yang sama.

Baca Juga: Daftar Transfer Terbesar MLB Trade Deadline 2026, Siapa yang Paling Diuntungkan Jelang Perburuan World Series?

Fenomena serupa juga dialami mahasiswa saat menyusun skripsi, desainer ketika membuat karya, maupun penulis yang telah menghabiskan waktu berbulan-bulan menyelesaikan sebuah proyek.

Semakin besar usaha yang dicurahkan, semakin berat pula menerima revisi atau masukan dari orang lain.

Karena itu, memahami IKEA Effect menjadi penting agar seseorang tetap mampu menghargai proses tanpa kehilangan kemampuan untuk menerima kritik dan melakukan perbaikan.

Pada akhirnya, jika suatu hari Anda merasa rak buku hasil rakitan sendiri terlihat jauh lebih keren dibandingkan produk serupa di toko, bisa jadi bukan karena kualitasnya memang lebih baik.

Melainkan karena otak sedang menjalankan IKEA Effect, sebuah bias psikologi yang membuat setiap tetes usaha terasa sama berharganya dengan hasil yang berhasil diwujudkan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
IKEA Effect psikologi IKEA Effect bias psikologi DIY dan psikologi kenapa barang rakitan sendiri lebih berharga