Sering Doom Scrolling? Penelitian Sebut Kebiasaan Ini Dapat Memicu Respons Trauma hingga Mengganggu Sistem Otak

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:12 WIB
Masih sering scrolling berita buruk sampai berjam-jam? Hati-hati, penelitian menunjukkan doom scrolling dapat memengaruhi cara kerja otak, memicu hormon stres, hingga mengganggu kesehatan mental. (Ilustrasi)
Masih sering scrolling berita buruk sampai berjam-jam? Hati-hati, penelitian menunjukkan doom scrolling dapat memengaruhi cara kerja otak, memicu hormon stres, hingga mengganggu kesehatan mental. (Ilustrasi) 

RADARBONAG.ID – Di era media sosial, menggulir layar ponsel selama berjam-jam sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihindari.

Tidak sedikit orang yang menghabiskan waktu membaca berbagai kabar buruk, mulai dari bencana, konflik, kecelakaan, hingga isu-isu yang memicu kecemasan. Aktivitas tersebut dikenal sebagai doom scrolling.

Sekilas, kebiasaan ini terlihat tidak berbahaya. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental dan bahkan memengaruhi cara kerja otak.

Pembahasan mengenai fenomena tersebut diulas oleh Abigail Limuria dan Cania Citta dalam tayangan kanal YouTube Malaka Books, yang mengupas sejumlah hasil penelitian mengenai hubungan antara doom scrolling, stres, dan respons biologis tubuh.

Baca Juga: 20 Tahun Hidup Berdampingan dengan Tambang, Warga Rantau Bakula Mengaku Kehilangan Air Bersih hingga Lahan Pertanian Rusak

Studi Ungkap Paparan Berita Negatif Bisa Memicu Respons Trauma

Salah satu penelitian yang disoroti berkaitan dengan tragedi pengeboman Boston Marathon di Amerika Serikat.

Menurut Abigail Limuria, penelitian tersebut menemukan fakta yang cukup mengejutkan. Orang-orang yang menghabiskan waktu sekitar enam jam sehari mengikuti pemberitaan mengenai tragedi tersebut melalui media memiliki tingkat stres dan respons trauma yang sangat tinggi.

Bahkan, dalam beberapa kasus, respons psikologis yang dialami kelompok tersebut disebut lebih berat dibandingkan sebagian korban yang berada langsung di lokasi kejadian.

"Yang ditemukan adalah orang-orang yang melakukan doom scrolling sekitar enam jam per hari mengalami respons trauma atau PTSD yang mirip, bahkan pada banyak kasus lebih tinggi dibanding sebagian korban pengeboman," jelas Abigail dalam tayangan Malaka Books.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa otak manusia dapat memberikan respons yang sangat kuat terhadap informasi yang diterima, meskipun ancaman tersebut tidak dialami secara langsung.

Otak Sulit Membedakan Ancaman Nyata dan Informasi di Layar

Menurut penjelasan Abigail, secara biologis otak manusia belum berkembang untuk sepenuhnya membedakan ancaman yang benar-benar terjadi di depan mata dengan ancaman yang hanya dilihat melalui layar ponsel.

Ketika seseorang membaca atau melihat tayangan yang memicu rasa takut, cemas, atau marah, otak tetap menganggap informasi tersebut sebagai ancaman yang perlu direspons.

Akibatnya, tubuh akan melepaskan hormon kortisol dan adrenalin, dua hormon yang berperan dalam mekanisme menghadapi situasi berbahaya.

Dalam kondisi normal, hormon tersebut membantu seseorang tetap waspada ketika menghadapi ancaman nyata.

Namun, jika dipicu terus-menerus akibat paparan berita negatif tanpa jeda, tubuh akan berada dalam kondisi stres berkepanjangan.

Sistem Pengendali Emosi Ikut Terganggu

Paparan stres yang berlangsung terus-menerus tidak hanya membuat seseorang merasa cemas, tetapi juga dapat memengaruhi sistem kerja otak.

Abigail menjelaskan bahwa kebiasaan doom scrolling berpotensi mengganggu dua mekanisme penting, yakni stress regulation system atau sistem pengaturan stres dan reward system, yaitu sistem yang membuat seseorang mampu merasakan kebahagiaan atau kepuasan.

Ketika kedua sistem tersebut terganggu, seseorang menjadi lebih sulit mengendalikan emosinya.

Gejalanya dapat berupa rasa cemas yang muncul terus-menerus, sulit berkonsentrasi, mudah panik, gangguan tidur, hingga muncul ketegangan fisik seperti bahu atau leher yang terasa kaku.

Selain itu, aktivitas sederhana yang sebelumnya menyenangkan, seperti berkumpul dengan keluarga, membaca buku, atau menikmati hobi, perlahan terasa kurang menarik karena sistem penghargaan di otak tidak lagi bekerja secara optimal.

Algoritma Media Sosial Membuat Doom Scrolling Sulit Dihentikan

Fenomena ini semakin rumit karena didukung oleh algoritma media sosial.

Platform digital dirancang untuk menampilkan konten yang dianggap paling menarik perhatian pengguna.

Sayangnya, konten yang memancing emosi negatif sering kali memperoleh interaksi lebih tinggi dibandingkan informasi biasa.

Hal inilah yang melahirkan fenomena rage bait, yaitu konten yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan, perdebatan, atau kecemasan demi meningkatkan jumlah tayangan dan interaksi.

Semakin lama seseorang berinteraksi dengan konten seperti itu, semakin banyak pula rekomendasi serupa yang muncul di linimasa. Akibatnya, pengguna terjebak dalam siklus doom scrolling yang sulit diputus.

Cara Mengurangi Dampak Doom Scrolling

Dalam diskusi tersebut, Cania Citta menekankan bahwa langkah paling penting adalah menyadari kebiasaan doom scrolling sebelum dampaknya semakin besar.

Ia menyarankan agar setiap orang mulai menetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari sehingga tidak menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengonsumsi berita negatif.

"Mencari alternatif untuk keluar dari doom scrolling trap sangat penting. Bisa dengan berjalan-jalan di taman, membaca buku, atau aktivitas lain. Bagus juga kalau punya alokasi waktu yang tegas untuk scrolling supaya efek buruknya bisa berkurang," ujar Cania.

Selain membatasi screen time, aktivitas fisik seperti berjalan kaki, berolahraga, bertemu teman, atau membaca buku cetak juga dapat membantu mengalihkan perhatian sekaligus memberikan kesempatan bagi otak untuk kembali bekerja secara lebih seimbang.

Pada akhirnya, mengikuti perkembangan informasi memang penting. Namun, menjaga kesehatan mental tidak kalah penting.

Mengatur waktu dalam mengonsumsi berita serta memberikan jeda bagi otak untuk beristirahat menjadi langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi dampak negatif doom scrolling dalam kehidupan sehari-hari.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@malakabooksid
hormon kortisol doom scrolling dampak doom scrolling Malaka Books kesehatan mental