RADARBONAG.ID – Fenomena childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak masih menjadi topik yang terus memicu perdebatan di tengah masyarakat.
Tidak sedikit diskusi di media sosial yang memperlihatkan perbedaan pandangan tajam antara generasi Baby Boomers dengan Generasi Z mengenai pilihan hidup tersebut.
Sebagian orang menganggap keputusan untuk tidak memiliki anak bertentangan dengan nilai keluarga yang selama ini diyakini.
Di sisi lain, banyak anak muda menilai pilihan itu merupakan hak pribadi yang tidak seharusnya dihakimi.
Konten kreator Fariz Gamal menilai perbedaan cara pandang tersebut bukanlah persoalan siapa yang paling benar.
Baca Juga: Tanpa Disadari, Smartphone Sudah Mengatur Rutinitas Harian Kita, Benarkah Kamu Mengalaminya?
Menurutnya, setiap generasi dibentuk oleh kondisi sosial, ekonomi, dan perkembangan zaman yang berbeda sehingga menghasilkan perspektif yang juga berbeda.
Cara Pandang Boomers Terbentuk dari Kondisi Masa Lalu
Fariz menjelaskan bahwa generasi Baby Boomers yang lahir sekitar tahun 1946 hingga 1964 hidup di masa ketika kondisi ekonomi dan fasilitas publik belum semaju sekarang.
Pada periode tersebut, akses terhadap layanan kesehatan masih terbatas sehingga angka harapan hidup belum setinggi saat ini.
Banyak keluarga memilih memiliki lebih banyak anak karena berbagai alasan, mulai dari menjaga keberlangsungan keturunan hingga membantu pekerjaan keluarga.
Selain itu, sistem perlindungan finansial seperti dana pensiun, investasi, maupun asuransi belum berkembang luas.
Akibatnya, anak sering dipandang sebagai harapan yang kelak dapat membantu orang tua ketika memasuki usia lanjut.
"Di zamannya Boomers belum ada yang namanya investasi atau asuransi pensiun. Maka tak heran kalau mereka berpikir anak adalah 'asuransi' atau investasi masa tua," ungkap Fariz.
Pandangan tersebut lahir bukan karena kesalahan suatu generasi, melainkan merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi yang mereka hadapi pada masanya.
Gen Z Tumbuh di Era Digital dengan Pilihan yang Lebih Banyak
Berbeda dengan Boomers, Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan internet yang memungkinkan mereka mengakses informasi secara lebih cepat.
Saat ini, literasi keuangan, investasi, perencanaan pensiun, hingga pengelolaan aset dapat dipelajari dengan mudah melalui berbagai platform digital.
Kondisi tersebut membuat banyak anak muda tidak lagi menganggap memiliki anak sebagai bentuk jaminan ekonomi di masa depan.
Selain itu, Generasi Z juga menghadapi tantangan ekonomi yang berbeda.
Harga rumah yang terus meningkat, biaya pendidikan yang semakin mahal, hingga kebutuhan pengasuhan anak menjadi faktor yang dipertimbangkan sebelum memutuskan membangun keluarga.
Bagi sebagian anak muda, memiliki anak bukan hanya soal kesiapan emosional, tetapi juga kesiapan finansial agar dapat memberikan kehidupan yang layak.
Kesadaran terhadap Kesehatan Mental Turut Memengaruhi Pilihan
Fariz juga menyoroti bahwa perubahan cara pandang Generasi Z tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi.
Anak muda saat ini lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental, trauma masa kecil, pola pengasuhan, hingga pengalaman hidup yang kurang menyenangkan di dalam keluarga.
Sebagian orang memilih untuk tidak memiliki anak karena merasa belum siap secara psikologis menjadi orang tua.
Ada pula yang khawatir akan mengulangi pola pengasuhan yang pernah mereka alami saat kecil.
Kesadaran ini membuat keputusan memiliki anak menjadi sesuatu yang dipikirkan secara lebih matang dibandingkan sekadar mengikuti norma sosial.
Karena itu, menurut Fariz, pilihan menjadi orang tua maupun memilih childfree lahir dari pertimbangan yang sangat personal dan tidak bisa disamaratakan.
Penurunan Angka Kelahiran Juga Memiliki Dampak bagi Negara
Meski menghormati pilihan individu, Fariz mengingatkan bahwa penurunan angka kelahiran dalam jangka panjang tetap memiliki konsekuensi terhadap pembangunan nasional.
Apabila jumlah kelahiran terus menurun, suatu negara dapat menghadapi fenomena aging population atau penuaan penduduk.
Kondisi ini menyebabkan proporsi masyarakat usia produktif semakin kecil, sementara jumlah penduduk lanjut usia meningkat.
Situasi tersebut berpotensi memberi tekanan terhadap sistem jaminan sosial, pelayanan kesehatan, hingga produktivitas ekonomi.
Namun demikian, Fariz menilai bonus demografi bukan sekadar soal banyaknya jumlah penduduk usia muda.
Yang jauh lebih penting adalah kualitas sumber daya manusia yang dimiliki suatu negara.
"Bonus demografi itu harus orang yang berkualitas dan punya skill. Kalau tidak terdidik, itu bukan bonus, tapi beban demografi," tegasnya.
Dengan kata lain, peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, dan kesempatan kerja tetap menjadi faktor utama agar bonus demografi benar-benar memberikan manfaat.
Memiliki Anak Maupun Childfree Sama-sama Membutuhkan Tanggung Jawab
Fariz menekankan bahwa setiap orang memiliki hak menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk memilih memiliki anak atau menjalani kehidupan tanpa anak.
Namun, ketika seseorang telah memutuskan menjadi orang tua, tanggung jawab terhadap anak harus menjadi prioritas utama.
Baca Juga: Muhammad Raihan Fadila Persembahkan Emas untuk Indonesia, Jadi Modal Penting Menuju Olimpiade 2028
Menurutnya, anak berhak memperoleh kasih sayang, pendidikan, perlindungan, serta lingkungan yang sehat untuk tumbuh dan berkembang.
"Anak itu tidak pernah minta dilahirkan. Jadi kalau memilih punya anak, tolong bertanggung jawab dan uruslah dengan baik," tutup Fariz.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai childfree tidak seharusnya berubah menjadi konflik antargenerasi.
Boomers maupun Gen Z memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda sehingga wajar apabila cara mereka memandang keluarga, masa depan, dan tanggung jawab juga tidak selalu sama.
Memahami perbedaan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun dialog yang lebih sehat tanpa saling menghakimi.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : youtube.com/@brogamal