RADARBONAG.ID – Selama beberapa tahun terakhir, sedotan kertas menjadi simbol perubahan menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Berbagai kedai kopi, restoran cepat saji, hingga gerai minuman kekinian mulai meninggalkan sedotan plastik dan beralih ke sedotan berbahan kertas sebagai bagian dari kampanye pengurangan sampah plastik.
Bagi banyak orang, khususnya generasi muda yang semakin peduli terhadap isu lingkungan, memilih sedotan kertas terasa seperti langkah sederhana yang dapat membantu menjaga bumi.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa persoalan ini ternyata tidak sesederhana memilih bahan yang berbeda.
Sedotan kertas memang memiliki sejumlah keunggulan dibanding sedotan plastik, terutama dalam mengurangi ketergantungan pada plastik berbahan bakar fosil. Namun, bukan berarti produk ini bebas dari dampak lingkungan.
Baca Juga: Ramai Keluhan Akun WhatsApp Terblokir Massal, Begini Penjelasan Resmi Meta dan Penyebab Sementara
Menilai Produk Tidak Cukup dari Bahannya
Dalam dunia lingkungan, para peneliti tidak hanya melihat apakah suatu produk terbuat dari plastik, kertas, atau bahan lainnya.
Mereka menggunakan metode yang dikenal sebagai Life Cycle Assessment (LCA) atau analisis siklus hidup.
Metode ini menghitung dampak lingkungan sejak bahan baku diambil dari alam, diproses di pabrik, didistribusikan ke konsumen, digunakan, hingga akhirnya menjadi limbah.
Artinya, sebuah produk baru bisa disebut lebih ramah lingkungan setelah seluruh proses tersebut diperhitungkan, bukan hanya karena berasal dari bahan tertentu.
Produksi Kertas Juga Membutuhkan Banyak Sumber Daya
Kertas memang berasal dari bahan yang dapat diperbarui, seperti kayu.
Namun proses pembuatannya tetap memerlukan air dalam jumlah besar, energi listrik, hingga bahan kimia untuk menghasilkan produk yang kuat dan aman digunakan.
Jika permintaan terhadap produk berbahan dasar kertas terus meningkat, kebutuhan bahan baku juga akan bertambah.
Meski banyak produsen kini memanfaatkan kayu dari hutan tanaman industri yang dikelola secara berkelanjutan, proses produksi tetap menghasilkan emisi karbon yang perlu diperhitungkan.
Karena itu, mengganti plastik dengan kertas belum tentu secara otomatis menghilangkan seluruh dampak terhadap lingkungan.
Tidak Semua Sedotan Kertas Mudah Didaur Ulang
Fakta lain yang sering luput dari perhatian adalah tidak semua sedotan kertas dapat didaur ulang dengan mudah.
Agar tidak cepat lembek saat digunakan, sebagian produk dilengkapi lapisan pelindung yang membuatnya lebih tahan terhadap cairan.
Lapisan tersebut dapat menyulitkan proses daur ulang di beberapa fasilitas pengolahan sampah.
Selain itu, sedotan yang telah tercampur sisa minuman atau makanan sering kali tidak memenuhi syarat untuk didaur ulang sehingga akhirnya tetap berakhir di tempat pembuangan akhir.
Dengan kata lain, label "biodegradable" atau "mudah terurai" tidak selalu berlaku sama pada seluruh produk yang beredar di pasaran.
Persoalan Terbesar Justru Budaya Sekali Pakai
Banyak pakar lingkungan menilai bahwa persoalan utama bukan terletak pada pilihan antara plastik atau kertas, melainkan pada budaya penggunaan produk sekali pakai.
Baik sedotan plastik maupun sedotan kertas umumnya hanya digunakan selama beberapa menit sebelum dibuang.
Selama pola konsumsi seperti ini terus berlangsung, volume sampah akan tetap tinggi meskipun material yang digunakan berbeda.
Karena itu, perubahan bahan memang merupakan langkah positif, tetapi belum mampu menyelesaikan persoalan limbah secara menyeluruh.
Lalu Mengapa Banyak Brand Beralih ke Sedotan Kertas?
Meski bukan solusi sempurna, sedotan kertas tetap dipilih banyak perusahaan karena memiliki beberapa keunggulan dibanding sedotan plastik.
Sedotan plastik berukuran kecil sehingga sulit dipilah dan didaur ulang menggunakan sistem pengelolaan sampah konvensional.
Akibatnya, sedotan plastik menjadi salah satu jenis sampah yang paling sering ditemukan mencemari sungai, pantai, hingga lautan dan berpotensi membahayakan satwa liar.
Karena alasan tersebut, penggunaan sedotan kertas dipandang sebagai langkah transisi untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.
Kebiasaan Sehari-hari Lebih Berpengaruh
Para pemerhati lingkungan sepakat bahwa dampak terbesar justru berasal dari perubahan perilaku masyarakat.
Banyak jenis minuman sebenarnya dapat dinikmati tanpa sedotan.
Jika memang membutuhkannya, penggunaan sedotan yang dapat dipakai berulang kali, seperti berbahan stainless steel, silikon, bambu, atau kaca, dinilai lebih berkelanjutan selama digunakan dalam jangka panjang.
Selain itu, membawa tumbler sendiri, menggunakan alat makan yang dapat dipakai berulang kali, serta mengurangi produk sekali pakai juga menjadi langkah yang dinilai lebih efektif dalam menekan timbulan sampah.
Baca Juga: Telegram Kembali ke App Store Setelah Sempat Dihapus Apple, Ini Penyebab dan Penjelasan Resminya
Sustainability Bukan Sekadar Ganti Material
Kesadaran mengenai gaya hidup berkelanjutan kini mulai berkembang.
Jika beberapa tahun lalu kepedulian terhadap lingkungan identik dengan penggunaan sedotan kertas, kini semakin banyak masyarakat memahami bahwa sustainability berarti mengurangi konsumsi yang tidak perlu, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta meminimalkan limbah.
Pada akhirnya, sedotan kertas tetap dapat menjadi bagian dari solusi.
Namun, dampak terbesar terhadap lingkungan justru berasal dari perubahan kebiasaan sehari-hari.
Sebab, produk yang paling ramah lingkungan sering kali bukan sekadar yang terbuat dari bahan tertentu, melainkan produk yang dapat digunakan berulang kali atau bahkan tidak perlu digunakan sama sekali.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang