Awal Bulan Nongkrong di Coffee Shop, Akhir Bulan Ngopi Sachet? Fenomena Ini Ternyata Dialami Banyak Gen Z

Widodo • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 11:37 WIB
Awal bulan nongkrong di coffee shop terasa biasa, tapi saat tanggal tua datang, kopi sachet sering jadi penyelamat. Ternyata, ada fenomena latte factor yang membuat pengeluaran kecil berubah menjadi besar tanpa disadari. (Muhammad Azlan Syah/Radar Bonang)
Awal bulan nongkrong di coffee shop terasa biasa, tapi saat tanggal tua datang, kopi sachet sering jadi penyelamat. Ternyata, ada fenomena latte factor yang membuat pengeluaran kecil berubah menjadi besar tanpa disadari. (Muhammad Azlan Syah/Radar Bonang)

RADARBONANG.ID – Tanggal baru berganti. Saldo rekening masih penuh, dompet terasa tebal, dan notifikasi gajian atau uang bulanan baru saja masuk. Rasanya, mampir ke coffee shop sepulang kerja atau kuliah bukan keputusan yang perlu dipikirkan lama.

"Es kopi susu satu, sekalian croffle."

Kalimat sederhana itu terdengar begitu ringan di awal bulan. Namun, suasana sering berubah ketika kalender mulai mendekati tanggal tua.

Menu favorit yang biasanya dipesan tanpa melihat harga perlahan berganti menjadi kopi sachet yang diseduh di rumah, atau bahkan cukup air putih sambil menunggu tanggal gajian berikutnya.

Sekilas terdengar seperti candaan yang sering beredar di media sosial. Namun faktanya, kondisi ini benar-benar dialami banyak anak muda.

Di balik meme "awal bulan nongkrong, akhir bulan ngopi sachet", tersimpan cerita tentang perubahan gaya hidup sekaligus tantangan mengelola keuangan di era modern.

Baca Juga: 234 Korban Berhasil Dievakuasi dari KM Mutiara Sentosa II yang Terbakar, TNI AL Terjunkan Kapal Perang dan Pesawat

Coffee Shop Kini Bukan Sekadar Tempat Minum Kopi

Bagi Generasi Z dan milenial, coffee shop telah mengalami perubahan fungsi yang cukup besar.

Jika dulu kedai kopi identik dengan tempat menikmati minuman hangat, kini coffee shop menjadi ruang multifungsi.

Ada yang datang untuk mengerjakan skripsi, bekerja secara remote, bertemu klien, rapat informal, hingga sekadar mencari suasana baru untuk melepas penat.

Tidak sedikit pula yang memilih coffee shop karena desain interiornya yang estetik, pencahayaan yang menarik, musik yang nyaman, serta koneksi Wi-Fi yang mendukung produktivitas.

Dengan kata lain, yang dibeli bukan hanya secangkir kopi, tetapi juga pengalaman.

Ketika Pengalaman Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

Dalam dunia pemasaran, kondisi ini dikenal dengan istilah experience economy.

Artinya, konsumen modern tidak lagi hanya membayar sebuah produk, tetapi juga suasana dan pengalaman yang menyertainya.

Aroma kopi yang baru diseduh, interior yang Instagramable, playlist musik yang menenangkan, hingga sudut ruangan yang cocok dijadikan latar foto menjadi bagian dari nilai yang dirasakan pelanggan.

Tak heran jika banyak orang rela mengeluarkan uang lebih demi menikmati pengalaman tersebut.

Namun, pengalaman tentu memiliki harga.

Pengeluaran Kecil yang Ternyata Besar

Harga segelas kopi kekinian umumnya berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp45 ribu.

Nominal tersebut mungkin terasa ringan jika hanya dikeluarkan sekali.

Masalahnya, kebiasaan membeli kopi setiap hari kerja dapat menghasilkan pengeluaran yang jauh lebih besar dari perkiraan.

Jika rata-rata seseorang membeli kopi seharga Rp35 ribu selama lima hari dalam seminggu, total pengeluaran dalam satu bulan bisa mencapai ratusan ribu rupiah, bahkan mendekati Rp1 juta ketika ditambah camilan atau makanan pendamping.

Padahal, uang sebesar itu bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain seperti tabungan, investasi, dana darurat, atau cicilan.

Mengenal Latte Factor, Kebiasaan Kecil yang Menguras Dompet

Fenomena ini dikenal dengan istilah latte factor, konsep yang dipopulerkan oleh penulis keuangan David Bach.

Intinya sederhana.

Pengeluaran kecil yang dilakukan secara berulang sering kali tidak terasa. Namun ketika diakumulasikan dalam jangka waktu panjang, jumlahnya bisa cukup besar.

Bukan berarti membeli kopi adalah kesalahan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kebiasaan tersebut dilakukan tanpa perencanaan hingga mengganggu kondisi keuangan.

Karena itu, banyak perencana keuangan menekankan bahwa yang perlu dikendalikan bukan secangkir kopinya, melainkan pola konsumsi seseorang.

Anak Muda Mulai Lebih Selektif Saat Membeli Kopi

Di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, perilaku konsumen juga mulai berubah.

Berbagai survei menunjukkan masyarakat kini lebih mempertimbangkan harga, promo, dan manfaat yang diperoleh sebelum membeli makanan maupun minuman.

Tak sedikit anak muda yang mulai berburu diskon melalui aplikasi, memanfaatkan program loyalitas pelanggan, menggunakan voucher digital, hingga membawa tumbler sendiri agar memperoleh potongan harga.

Sebagian lainnya mulai menikmati kopi racikan sendiri di rumah menggunakan alat seduh sederhana.

Selain lebih hemat, aktivitas tersebut juga menjadi hobi baru yang menyenangkan.

Menikmati Kopi Tetap Bisa, Asal Tahu Prioritas

Fenomena "awal bulan nongkrong, akhir bulan ngopi sachet" memang sering dijadikan bahan candaan di media sosial.

Namun, di balik humor itu terdapat pelajaran penting mengenai literasi keuangan.

Menikmati secangkir kopi bukanlah sesuatu yang harus dihindari.

Justru, memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja keras merupakan hal yang wajar.

Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara memenuhi keinginan dan menjaga kesehatan finansial.

Membuat anggaran khusus untuk hiburan atau nongkrong bisa menjadi solusi agar kebiasaan tersebut tidak mengganggu kebutuhan utama.

Baca Juga: Korlantas Polri dan Jasa Marga Siapkan Strategi Hadapi Libur Nataru 2026, Arus Wisata hingga Truk ODOL Jadi Fokus

Dengan cara itu, seseorang tetap dapat menikmati suasana coffee shop tanpa harus khawatir saldo rekening menipis sebelum akhir bulan.

Kopi Bukan Musuh, Kebiasaanlah yang Menentukan

Pada akhirnya, secangkir kopi tidak pernah menjadi penyebab utama kondisi keuangan seseorang.

Yang menentukan adalah frekuensi, konsistensi, dan kemampuan mengatur prioritas pengeluaran.

Sesekali menikmati kopi favorit di coffee shop tentu tidak menjadi masalah.

Namun, jika dilakukan setiap hari tanpa perhitungan, kebiasaan kecil tersebut dapat berubah menjadi pengeluaran besar yang sering luput dari perhatian.

Menikmati kopi memang memberikan rasa nyaman. Tetapi melihat saldo rekening tetap aman ketika tanggal tua datang, tentu menghadirkan ketenangan yang tidak kalah nikmat.

Mungkin, keseimbangan antara menikmati hidup dan mengelola keuangan itulah "racikan" terbaik yang perlu dimiliki oleh generasi muda saat ini.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
literasi keuangan kopi kekinian coffee shop Gen Z latte factor gaya hidup anak muda