Kenapa Banyak Orang Kini Bangga Bilang 'Nggak Ikut'? Tren JOMO Disebut Ampuh Kurangi Stres dan Jaga Kesehatan Mental

Defy Maulida Puspaaji • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 09:35 WIB
Tak semua ajakan harus diterima, dan tak semua tren wajib diikuti. Inilah alasan semakin banyak Gen Z memilih gaya hidup JOMO atau Joy of Missing Out. Ternyata, berani melewatkan sesuatu justru bisa membuat hidup lebih tenang, hemat, dan bahagia. (ilustrasi)
Tak semua ajakan harus diterima, dan tak semua tren wajib diikuti. Inilah alasan semakin banyak Gen Z memilih gaya hidup JOMO atau Joy of Missing Out. Ternyata, berani melewatkan sesuatu justru bisa membuat hidup lebih tenang, hemat, dan bahagia. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Di era media sosial, banyak orang pernah merasa harus selalu mengikuti tren terbaru, menghadiri setiap acara, atau sekadar memastikan dirinya tidak tertinggal dari teman-teman.

Perasaan takut melewatkan sesuatu itu dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO).

Namun, belakangan muncul tren yang justru menjadi kebalikan dari FOMO. Namanya adalah Joy of Missing Out (JOMO).

Alih-alih merasa cemas ketika tidak ikut tren atau melewatkan suatu acara, orang yang menerapkan JOMO justru merasa lega, tenang, bahkan lebih bahagia.

Gaya hidup ini semakin populer, terutama di kalangan Generasi Z yang mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Baca Juga: Mengenang Diding Boneng, Ini Daftar Film Ikonik yang Membuat Namanya Melekat di Hati Penonton Indonesia

JOMO, Cara Baru Menikmati Hidup Tanpa Tekanan

JOMO merupakan pola pikir yang mendorong seseorang untuk menikmati hidup sesuai kebutuhannya sendiri tanpa merasa harus selalu hadir di setiap momen atau mengikuti setiap tren yang sedang viral.

Jika FOMO membuat seseorang terus memeriksa media sosial agar tidak ketinggalan informasi, JOMO justru mengajarkan bahwa melewatkan sesuatu bukanlah sebuah kerugian.

Orang yang menerapkan JOMO memahami bahwa waktu, tenaga, dan perhatian adalah sumber daya yang terbatas.

Karena itu, mereka memilih menggunakannya untuk aktivitas yang benar-benar memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Pilihan tersebut bisa sesederhana menolak ajakan nongkrong karena ingin beristirahat, tidak membeli barang yang sedang viral, atau memilih menghabiskan akhir pekan bersama keluarga dibanding mengejar agenda yang padat.

Mengapa JOMO Semakin Diminati Gen Z?

Popularitas JOMO tidak muncul begitu saja. Banyak anak muda mulai merasakan kelelahan akibat tekanan media sosial yang membuat mereka merasa harus selalu aktif, produktif, dan mengikuti gaya hidup tertentu.

Setiap hari, linimasa dipenuhi unggahan tentang liburan, pencapaian karier, barang baru, hingga kehidupan yang terlihat sempurna.

Tanpa disadari, hal itu mendorong seseorang untuk terus membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh tentang perjuangan di baliknya.

Kesadaran inilah yang membuat semakin banyak orang memilih berhenti mengejar validasi dari dunia maya dan mulai fokus pada kehidupan nyata.

Lebih Hemat, Lebih Tenang, dan Lebih Produktif

Salah satu manfaat yang paling sering dirasakan dari menerapkan JOMO adalah kondisi mental yang lebih stabil.

Saat seseorang tidak lagi merasa harus mengikuti semua tren, tekanan untuk tampil sempurna pun berkurang. Pikiran menjadi lebih tenang karena tidak terus-menerus dibebani rasa takut tertinggal.

Selain itu, JOMO juga membantu mengendalikan pengeluaran. Banyak tren di media sosial yang mendorong perilaku konsumtif, mulai dari membeli pakaian terbaru, mencoba makanan viral, hingga mengikuti berbagai aktivitas yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Dengan lebih selektif dalam mengambil keputusan, seseorang dapat mengelola keuangan dengan lebih bijak dan menghindari pembelian impulsif.

Waktu yang sebelumnya habis untuk mengejar tren pun bisa dialihkan ke aktivitas yang lebih bermanfaat, seperti membaca buku, berolahraga, belajar keterampilan baru, atau sekadar beristirahat.

Tidak Semua Kesempatan Harus Diambil

Banyak orang menganggap bahwa menolak ajakan atau melewatkan suatu acara adalah bentuk kehilangan kesempatan.

Padahal, kenyataannya tidak semua kesempatan harus diambil.

JOMO mengajarkan bahwa mengatakan "tidak" pada satu hal berarti memberikan ruang untuk hal lain yang mungkin lebih penting.

Misalnya, memilih tidak menghadiri pesta karena ingin menyelesaikan pekerjaan, beristirahat setelah seminggu penuh beraktivitas, atau menikmati waktu berkualitas bersama keluarga.

Keputusan seperti ini bukan tanda seseorang kurang pergaulan, melainkan bentuk kemampuan menetapkan prioritas.

JOMO Bukan Berarti Antisosial

Masih ada anggapan bahwa orang yang menerapkan JOMO adalah pribadi yang tertutup atau enggan bersosialisasi.

Padahal, pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.

JOMO bukan tentang menghindari interaksi sosial, melainkan memilih hubungan dan aktivitas yang benar-benar bermakna.

Seseorang tetap bisa bertemu teman, menghadiri acara, atau aktif di media sosial. Bedanya, semua itu dilakukan karena memang diinginkan, bukan karena takut dianggap ketinggalan.

Baca Juga: Korlantas Polri dan Jasa Marga Siapkan Strategi Hadapi Libur Nataru 2026, Arus Wisata hingga Truk ODOL Jadi Fokus

Dengan cara ini, hubungan sosial yang terjalin justru menjadi lebih berkualitas karena didasari keinginan, bukan tekanan.

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Pada akhirnya, JOMO bukan sekadar tren yang ramai dibicarakan di media sosial.

Lebih dari itu, JOMO menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang atau seberapa banyak pengalaman yang dibagikan secara online.

Menikmati waktu sendiri, mengurangi distraksi, dan berani melewatkan hal-hal yang tidak penting justru bisa menjadi langkah untuk menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas hidup.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kemampuan untuk berkata "cukup" dan memilih apa yang benar-benar berarti menjadi keterampilan yang semakin berharga.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang mengikuti semua yang sedang viral, melainkan menemukan ritme yang paling sesuai dengan diri sendiri dan menjalani hari dengan lebih tenang serta penuh kesadaran.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
tren JOMO Joy Of Missing Out kesehatan mental Gen Z fomo gaya hidup Gen Z