Lawan Fast Fashion: Menelisik Fenomena 'Thrifting' yang Berubah dari Pakaian Murahan Menjadi Simbol Estetika Papan Atas

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 11:58 WIB
Dulu beli baju bekas dicap
Dulu beli baju bekas dicap 'nggak modal', sekarang malah jadi tren fashion paling elite di kalangan anak muda!. Fenomena thrifting kini resmi naik kelas. Bukan cuma soal berburu harga miring, tapi sudah bergeser menjadi simbol kepedulian lingkungan dan status sosial baru yang dianggap keren banget (ilustrasi thrifting)

RADARBONANG.ID – Jika kita memutar waktu sekitar sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, aktivitas membeli pakaian bekas sering kali dipandang sebelah mata.

Kegiatan berburu baju di pasar-pasar loak tradisional identik dengan masyarakat kelas menengah ke bawah yang mencari alternatif sandang dengan harga super murah.

Ada semacam stigma sosial yang melekat: memakai baju bekas berarti Anda tidak mampu membeli baju baru di toko retail atau pusat perbelanjaan.

Namun, dinamika dunia mode selalu penuh kejutan. Di pertengahan dekade 2020-an ini, stigma tersebut telah runtuh sepenuhnya.

Aktivitas yang kini populer dengan istilah thrifting telah mengalami evolusi budaya yang luar biasa.

Baca Juga: Sengaja Begadang Jam 2 Pagi Demi Punya Me Time? Hati-hati Tren Revenge Bedtime Procrastination Bisa Rusak Tubuhmu!

Membeli pakaian bekas tidak lagi dianggap sebagai tanda keterbatasan finansial.

Sebaliknya, di kalangan Gen Z dan Milenial urban, thrifting telah menjelma menjadi sebuah tren gaya hidup kelas atas, simbol estetika yang terkurasi, dan bahkan sebuah pernyataan status sosial baru.

Pergeseran Paradigma: Dari "Murahan" Menjadi "Eksklusif"

Salah satu pemicu utama mengapa thrifting naik kelas adalah kejenuhan anak muda terhadap produk-produk fast fashion.

Merek-merek pakaian massal yang ada di mal memang menawarkan pakaian baru yang selalu mengikuti tren global dengan harga terjangkau.

Namun, dampaknya adalah keseragaman gaya. Banyak anak muda merasa tidak nyaman ketika mereka datang ke suatu acara dan menemukan orang lain mengenakan baju dengan motif dan potongan yang persis sama.

Thrifting menawarkan solusi yang sangat bertolak belakang: eksklusivitas.

Saat berburu di toko thrift, pakaian yang Anda temukan umumnya hanya ada satu potong dengan ukuran dan desain yang unik, sering kali berasal dari era mode puluhan tahun lalu yang tidak lagi diproduksi.

Ketika seorang anak muda berhasil menemukan jaket vintage atau kemeja bermotif langka dari tahun 90-an yang masih dalam kondisi prima, hal itu dianggap sebagai sebuah prestasi.

Kemampuan menemukan "harta karun" di antara tumpukan baju bekas dan keahlian memadupadankannya (styling) kini dipandang sebagai cerminan selera seni dan kreativitas yang tinggi. Di sinilah letak gengsi baru tersebut.

Kesadaran Lingkungan sebagai Nilai Jual Utama

Selain faktor estetika dan keunikan gaya, dorongan terbesar di balik populernya gaya hidup thrifting di era modern adalah meningkatnya kesadaran akan isu-isu lingkungan (sustainability).

Generasi muda saat ini jauh lebih peka terhadap dampak buruk yang ditimbulkan oleh industri tekstil raksasa terhadap bumi.

Industri fast fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi air terbesar di dunia dan menghasilkan limbah karbon yang masif akibat proses produksi yang terus-menerus.

Bagi anak muda modern, mengadopsi gaya hidup sustainable fashion dengan cara membeli pakaian bekas adalah sebuah bentuk aktivisme lingkungan yang nyata.

Dengan memperpanjang masa pakai sebuah pakaian, mereka berkontribusi langsung dalam mengurangi jumlah limbah tekstil yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menekan permintaan produksi baju baru.

Memakai baju thrift kini membawa pesan moral yang kuat: "Saya bergaya tanpa merusak bumi."

Nilai etis inilah yang membuat thrifting terasa jauh lebih elite dan bermakna dibandingkan sekadar konsumtif membeli baju baru di toko retail modern.

Digitalisasi dan Menjamurnya Toko Thrift Premium

Evolusi thrifting menjadi gaya hidup premium juga tidak lepas dari peran teknologi dan media sosial.

Dulu, berburu baju bekas menuntut seseorang untuk siap panas-panasan dan berteman dengan debu di pasar loak.

Sekarang, pengalaman tersebut telah bergeser ke ranah digital yang jauh lebih nyaman dan estetik.

Media sosial seperti Instagram dan TikTok kini dipenuhi oleh ribuan akun thrift shop terkurasi.

Para pemilik toko digital ini melakukan pekerjaan berat untuk konsumen: mereka berburu ke pasar loak, mencuci baju hingga bersih dan wangi, menyetrikanya dengan rapi, lalu memotretnya dengan model dan pencahayaan yang profesional layaknya katalog majalah mode papan atas.

Hasilnya, harga baju bekas yang sudah terkurasi ini bisa melambung tinggi, bahkan sering kali melebihi harga baju baru di mal.

Anehnya, para pembeli dari kalangan menengah ke atas sama sekali tidak keberatan membayar mahal. 

Bagi mereka, yang dibeli bukan lagi sekadar fungsi dari sepotong kain bekas, melainkan nilai sejarah, keunikan merek vintage, dan estetika visual yang ditawarkan.

Tantangan Baru di Balik Tren Thrifting

Meskipun membawa banyak dampak positif bagi lingkungan dan kreativitas fashion, naiknya kelas tren thrifting ini bukannya tanpa kritik.

Baca Juga: Jangan Terjebak FOMO! Ini Trik Rahasia Liburan Estetik Tanpa Bikin Dompet Kering dan Terlilit Utang Paylater

Fenomena melonjaknya harga baju bekas akibat tingginya permintaan dari kalangan kelas menengah atas memicu isu baru yang disebut sebagai gentrifikasi thrifting.

Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa masyarakat kelas bawah, yang awalnya benar-benar bergantung pada baju bekas murah untuk kebutuhan sandang primer mereka, kini mulai tersingkir karena harga-harga di pasar loak ikut terkerek naik demi memfasilitasi kebutuhan gaya hidup anak muda kota.

Kendati demikian, tren ini membuktikan satu hal penting: definisi keren dalam dunia mode telah berubah.

Keren tidak lagi berarti membeli barang paling baru dan paling mahal dari etalase toko mewah. 

Keren di era modern adalah tentang bagaimana Anda menghargai sepotong pakaian, merawat cerita di baliknya, dan bangga tampil beda sembari menjaga kelestarian bumi. Jadi, sudahkah Anda mengintip koleksi baju vintage di lemari hari ini?

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
tren thrifting baju bekas fashion ramah lingkungan gaya hidup sustainable fashion tips padu padan baju bekas gengsi thrifting anak muda