RADARBONANG.ID - Bukan buru-buru melipir ke apotek terdekat untuk memborong obat kimia beraneka warna, sebagian besar Gen Z justru memilih kembali pada ritual warisan nenek moyang: minyak kayu putih dan bawang merah.
Ya, kombinasi tradisional yang kerap diasosiasikan dengan metode pengobatan ala ibu rumah tangga ini mendadak kembali naik daun di kalangan anak muda.
Di linimasa media sosial seperti TikTok dan X, lelucon mengenai "dikerok pakai bawang merah adalah koentji" menjelma menjadi tren naratif yang sarat akan realitas kaum muda perkotaan.
Fenomena unik ini memicu pertanyaan besar: bagaimana sebenarnya efektivitas kebiasaan turun-temurun ini jika dibedah melalui kacamata medis modern? Apakah ini murni sugesti, atau ada sains di balik khasiatnya?
Ketika "Masuk Angin" Menyerang Pertahanan Anak Kos
Bagi generasi yang hidup dalam ritme serba cepat, hustle culture, dan paparan AC kantor selama delapan jam sehari, "masuk angin" bukan lagi sekadar istilah kuno.
Ini adalah musuh bersama yang datang tanpa diundang, mengintai di balik tumpukan tenggat waktu pekerjaan.
Namun, ada hal menarik yang terjadi belakangan ini.
Alih-alih mempercayai pil penawar nyeri kimiawi yang sering kali memicu kekhawatiran efek samping jangka panjang, Gen Z justru menemukan kenyamanan psikologis sekaligus fisik pada terapi kerokan.
Sensasi hangat dari gesekan benda tumpul—mulai dari koin logam hingga bawang merah yang diiris—dianggap jauh lebih ampuh merontokkan pegal-pegal seketika.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang yang sangat menarik.
Di era digital yang serba instan, kearifan lokal justru bertindak sebagai penyelamat darurat yang paling membumi bagi kaum muda.
Mereka mendambakan kepraktisan yang ekonomis sekaligus kehangatan emosional yang mengingatkan mereka pada rumah.
Fakta Medis di Balik Tren Kerokan dan Bawang Merah
Secara ilmiah, istilah "masuk angin" sebenarnya tidak pernah dikenal dalam kamus kedokteran barat.
Apa yang sering dirasakan seseorang sebagai masuk angin—seperti badan linu, demam ringan, pegal-pegal, kembung, dan rasa tidak enak badan—biasanya merupakan gejala awal dari kelelahan akut, flu ringan, infeksi virus, atau ketegangan otot akibat stres.
Lalu, bagaimana dunia medis memandang efektivitas kerokan dan penggunaan bawang merah?
1. Penjelasan Ilmiah Terapi Kerokan
Dari sudut pandang medis, kerokan memang tidak menyembuhkan penyakit yang mendasari gejala masuk angin secara langsung (seperti membunuh virus).
Namun, tindakan ini terbukti memberikan efek fisiologis nyata yang membuat tubuh terasa lebih rileks melalui beberapa mekanisme biologis:
-
Pelepasan Hormon Endorfin: Gesekan pada kulit memicu trauma ringan di permukaan. Sebagai respons alami, sistem saraf pusat melepaskan hormon endorfin dan enkefalin yang bertindak sebagai painkiller atau pereda nyeri alami tubuh.
-
Dilatasi Pembuluh Darah (Vasodilatasi): Gesekan dari kerokan dan sensasi hangat dari minyak memicu pembuluh darah kapiler di bawah kulit melebar. Hal ini secara otomatis memperlancar sirkulasi darah lokal, menghantarkan oksigen lebih baik, dan mengurangi ketegangan otot yang kaku.
-
Efek Plasebo yang Menenangkan: Rasa nyaman yang ditimbulkan dari sensasi hangat dan perhatian saat dikerok memberikan efek psikologis positif yang mempercepat pemulihan subjektif seseorang.
Kendati demikian, dokter tetap mengingatkan agar tidak terlalu sering melakukan kerokan dengan tekanan yang terlalu keras. Hal itu berisiko merusak pembuluh darah kapiler secara berlebihan dan memicu iritasi kulit.
2. Kandungan Bawang Merah Menurut Sains
Bawang merah (Allium cepa) bukan sekadar bumbu dapur penyedap rasa mie instan anak kos.
Tanaman ini sejak lama digunakan dalam pengobatan herbal karena kaya akan zat bioaktif yang terbukti secara ilmiah memiliki manfaat kesehatan:
-
Zat Antioksidan dan Anti-inflamasi: Bawang merah mengandung kuersetin (quercetin) dan sulfur yang memiliki sifat anti-inflamasi (pereda radang) serta antioksidan tinggi untuk menangkal radikal bebas.
-
Efek Hangat Alami: Ketika diiris atau dihancurkan, senyawa belerang di dalamnya dapat membantu memberikan sensasi hangat saat dibalurkan ke kulit, yang membantu melegakan otot yang tegang.
-
Membantu Melegakan Pernapasan: Aroma khas yang menyengat dari bawang merah juga berfungsi sebagai dekongestan ringan alami yang membantu meringankan hidung tersumbat akibat flu ringan.
Harmoni Antara Modernitas dan Kebijaksanaan Tubuh
Transformasi perilaku ini membuktikan bahwa Gen Z bukanlah generasi yang sepenuhnya anti-tradisi.
Mereka sangat adaptif, memadukan gaya hidup modern yang serba cepat dengan kearifan lokal warisan leluhur saat tubuh mulai memberikan tanda-tanda kelelahan ekstrem.
Dunia kedokteran modern pun tidak melarang masyarakat untuk menggunakan metode tradisional seperti kerokan dan bawang merah sebagai pertolongan pertama rumahan (home remedy).
Cara ini sangat aman dilakukan selama gejalanya masih tergolong ringan akibat kelelahan fisik atau perubahan cuaca yang tidak menentu.
Namun, garis tegas harus ditarik jika gejala "masuk angin" tersebut berlanjut hingga disertai demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius, sesak napas, muntah terus-menerus, atau nyeri dada yang intens.
Jika hal itu terjadi, metode tradisional wajib segera dihentikan. Anda harus segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis serta penanganan medis yang akurat dari dokter profesional.
Jadi, di tengah bisingnya tren kesehatan global yang menawarkan berbagai suplemen mahal, terbukti bahwa bawang merah dan minyak hangat masih memegang takhta tertinggi sebagai pertolongan pertama pada kecelakaan fisik ala anak muda—asalkan tetap dilakukan secara bijak dan tahu batasan!
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang