Journaling Ternyata Bukan Sekadar Buku Harian, Ini Manfaatnya untuk Kesehatan Mental Menurut Psikolog

Widodo • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 14:54 WIB
Di tengah notifikasi yang tak pernah berhenti dan rutinitas yang melelahkan, journaling menjadi kebiasaan sederhana yang kembali digemari Gen Z. (ilustrasi)
Di tengah notifikasi yang tak pernah berhenti dan rutinitas yang melelahkan, journaling menjadi kebiasaan sederhana yang kembali digemari Gen Z. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Di tengah derasnya notifikasi media sosial, padatnya jadwal pekerjaan, hingga tuntutan untuk selalu produktif, banyak orang merasa pikirannya tak pernah benar-benar beristirahat.

Berbagai hal menumpuk di kepala, mulai dari target pekerjaan, masalah pribadi, hingga kecemasan tentang masa depan.

Di tengah kondisi tersebut, muncul satu kebiasaan sederhana yang kembali populer, terutama di kalangan Gen Z dan milenial, yaitu journaling.

Meski sering dianggap hanya sebagai buku harian, praktik ini ternyata memiliki manfaat yang jauh lebih besar, terutama untuk membantu menjaga kesehatan mental.

Tak sedikit psikolog dan pakar kesehatan mental menyebut journaling sebagai salah satu cara sederhana untuk mengenali emosi, mengelola stres, sekaligus meningkatkan kesadaran diri.

Menariknya, aktivitas ini tidak membutuhkan biaya mahal. Cukup dengan selembar kertas atau aplikasi catatan di ponsel, siapa pun bisa mulai melakukannya.

Baca Juga: PSSI Resmi Jual Tiket Indonesia vs Singapura, Kuota Suporter Garuda Hanya 254 Lembar untuk Laga ASEAN Championship 2026

Journaling Bukan Sekadar Menulis Cerita Sehari-hari

Banyak orang mengira journaling sama seperti buku harian yang berisi rangkaian aktivitas sehari-hari.

Padahal, journaling lebih berfokus pada proses menuangkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara jujur tanpa perlu memikirkan tata bahasa atau apakah tulisan tersebut akan dibaca orang lain.

Seseorang bisa menuliskan rasa cemas sebelum presentasi, rasa kecewa setelah menghadapi konflik, hingga hal-hal kecil yang membuatnya merasa bersyukur.

Tidak ada aturan baku mengenai apa yang harus ditulis.

Justru kebebasan inilah yang membuat journaling menjadi ruang aman untuk berdialog dengan diri sendiri.

Mengapa Menulis Bisa Membantu Pikiran Lebih Tenang?

Pernah merasa kepala penuh dengan berbagai pikiran yang saling bertabrakan?

Menurut psikolog, menulis membantu otak mengubah pikiran yang abstrak menjadi sesuatu yang lebih terstruktur.

Ketika emosi dituangkan dalam bentuk kata-kata, seseorang lebih mudah memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Praktik ini dikenal sebagai expressive writing, yaitu mengekspresikan pikiran dan emosi melalui tulisan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa expressive writing dapat membantu mengurangi tingkat stres, meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), hingga membantu seseorang mengenali pola emosi yang terus berulang.

Dengan kata lain, journaling bukan menyelesaikan masalah secara instan, tetapi membantu seseorang memproses apa yang sedang dialami dengan lebih sehat.

Banyak Orang Menjadikannya Rutinitas Harian

Kini semakin banyak orang yang memasukkan journaling ke dalam aktivitas pagi maupun malam.

Sebagian memilih menulis sebelum memulai pekerjaan agar pikiran terasa lebih fokus.

Sementara yang lain melakukannya sebelum tidur sebagai cara menutup hari dan melepaskan beban pikiran.

Durasinya pun tidak perlu lama.

Bahkan, meluangkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit sudah cukup untuk menuliskan berbagai hal yang sedang memenuhi kepala.

Konsistensi jauh lebih penting dibandingkan panjang pendeknya tulisan.

Tidak Harus Punya Buku Mahal

Salah satu alasan journaling semakin digemari adalah karena dapat dilakukan dengan sangat sederhana.

Tidak perlu membeli buku catatan estetik atau perlengkapan khusus.

Buku tulis biasa, secarik kertas, bahkan aplikasi catatan di ponsel sudah cukup menjadi media untuk menulis.

Tulisan juga tidak harus rapi.

Tidak ada yang akan memberikan nilai atau mengoreksi isi jurnal.

Yang terpenting adalah kejujuran terhadap diri sendiri.

Ada Banyak Jenis Journaling yang Bisa Dicoba

Journaling tidak selalu berbentuk cerita panjang.

Beberapa metode yang populer antara lain:

Setiap orang dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Menjadi Ruang Aman di Tengah Media Sosial

Di era digital, hampir setiap momen kehidupan mudah dibagikan ke media sosial.

Namun, tidak semua perasaan nyaman untuk dipublikasikan.

Journaling menawarkan pengalaman yang berbeda.

Tidak ada tombol like, tidak ada komentar, dan tidak ada tuntutan untuk terlihat sempurna.

Semua tulisan hanya ditujukan untuk diri sendiri.

Bagi sebagian orang, inilah yang membuat journaling terasa lebih melegakan dibanding sekadar mencurahkan isi hati di media sosial.

Bukan Pengganti Bantuan Profesional

Meski memiliki banyak manfaat, para ahli mengingatkan bahwa journaling bukanlah pengganti terapi maupun penanganan profesional.

Aktivitas ini lebih tepat dipandang sebagai salah satu bentuk perawatan diri (self-care) yang membantu menjaga kesehatan psikologis sehari-hari.

Apabila seseorang mengalami stres berat, kecemasan berkepanjangan, depresi, atau gangguan mental yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater tetap menjadi langkah yang dianjurkan.

Baca Juga: Nurman Herin Menyusul Jadi Tersangka Kasus TPPU Febrie Adriansyah, Kejagung Sebut Sudah Kantongi Dua Alat Bukti

Kebiasaan Kecil yang Memberi Dampak Besar

Berbagai lembaga kesehatan, seperti American Psychological Association (APA), Mayo Clinic, National Health Service (NHS), hingga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sama-sama menyoroti manfaat menulis jurnal sebagai salah satu cara membantu mengelola stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Mungkin satu halaman jurnal tidak langsung menyelesaikan semua masalah.

Namun, menulis memberi kesempatan untuk berhenti sejenak, memahami diri sendiri, dan melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih jernih.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, menyediakan waktu beberapa menit untuk menulis bisa menjadi bentuk perhatian sederhana kepada diri sendiri.

Karena terkadang, proses menyembuhkan bukan dimulai dari jawaban atas semua masalah, melainkan dari keberanian untuk mengakui apa yang sedang dirasakan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
cara mengelola stres manfaat journaling expressive writing journaling kesehatan mental