Ikut Tren agar Dianggap Gaul atau Tetap Pegang Prinsip? Dilema Remaja yang Diam-Diam Mengganggu Kesehatan Mental

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:07 WIB
Di era media sosial, mengikuti tren sering dianggap cara agar tetap diterima lingkungan. Namun, di balik keinginan untuk terlihat gaul, banyak remaja diam-diam menghadapi tekanan mental dan kebingungan mencari jati diri. (ilustrasi)
Di era media sosial, mengikuti tren sering dianggap cara agar tetap diterima lingkungan. Namun, di balik keinginan untuk terlihat gaul, banyak remaja diam-diam menghadapi tekanan mental dan kebingungan mencari jati diri. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Di era media sosial yang bergerak serba cepat, tren baru bisa muncul hanya dalam hitungan jam.

Hari ini sebuah gaya berpakaian menjadi viral, besok berganti dengan tantangan baru, istilah baru, atau kebiasaan baru yang dianggap "kekinian". 

Di tengah derasnya arus informasi tersebut, banyak remaja menghadapi dilema yang tidak selalu terlihat oleh orang lain: haruskah mengikuti tren agar diterima lingkungan, atau tetap memegang prinsip meski berisiko dianggap berbeda?

Sekilas persoalan ini mungkin terdengar sepele. Namun bagi remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri, keputusan tersebut bisa menjadi sumber tekanan emosional yang cukup besar.

Keinginan untuk diterima sering kali berbenturan dengan nilai-nilai yang sebenarnya ingin dipertahankan.

Lalu, mengapa fenomena ini begitu kuat memengaruhi kehidupan remaja?

Baca Juga: Peluang Karier Marketing Makin Cerah di Era AI, Perusahaan Kini Berebut Talenta dengan Skill Digital dan Analitik

Media Sosial Membuat Tren Berganti Lebih Cepat dari Sebelumnya

Kemunculan platform seperti TikTok, Instagram, hingga X membuat penyebaran tren berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.

Algoritma media sosial terus menampilkan konten yang sedang populer sehingga pengguna merasa seolah-olah semua orang melakukan hal yang sama.

Mulai dari gaya berpakaian, tempat nongkrong, cara berbicara, musik yang didengarkan, hingga barang yang digunakan, semuanya dapat berubah menjadi standar sosial yang tidak tertulis.

Bagi sebagian remaja, mengikuti tren bukan lagi sekadar hiburan, melainkan cara untuk tetap merasa menjadi bagian dari kelompoknya.

Akibatnya, muncul anggapan bahwa jika tidak mengikuti tren, seseorang akan dianggap kurang gaul, tidak mengikuti perkembangan zaman, atau sulit diajak bergaul.

FOMO, Ketakutan yang Tidak Selalu Disadari

Salah satu dampak dari derasnya arus tren adalah munculnya fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.

FOMO tidak selalu terlihat secara langsung. Namun perasaan ini dapat membuat seseorang terus-menerus membuka media sosial, membandingkan dirinya dengan orang lain, hingga merasa harus mengikuti setiap tren yang muncul.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu kelelahan mental karena seseorang merasa tidak pernah benar-benar "cukup". Saat satu tren berhasil diikuti, tren baru sudah muncul dan kembali menimbulkan tekanan.

Pada akhirnya, banyak remaja mengikuti sesuatu bukan karena benar-benar menyukainya, melainkan karena takut merasa tertinggal.

Ketika Prinsip Bertemu Tekanan Sosial

Di sisi lain, setiap orang memiliki nilai dan prinsip yang terbentuk dari keluarga, pengalaman hidup, maupun keyakinan pribadi.

Tidak semua tren sesuai dengan nilai tersebut. Ada remaja yang merasa tidak nyaman mengikuti gaya hidup tertentu, enggan melakukan tantangan viral yang berisiko, atau memilih tidak ikut kebiasaan yang menurutnya kurang sesuai.

Namun mempertahankan prinsip bukanlah hal mudah.

Tekanan dari lingkungan sering kali muncul dalam bentuk yang halus, seperti candaan, sindiran, atau rasa takut tidak diajak berkumpul bersama teman.

Perasaan ingin diterima membuat sebagian remaja akhirnya memilih berkompromi dengan dirinya sendiri.

Mereka mengikuti tren di depan banyak orang, tetapi di dalam hati merasa tindakan tersebut bukanlah sesuatu yang benar-benar mereka inginkan.

Baca Juga: Kejagung Periksa Tiga Saksi Kasus Dugaan TPPU Febrie Adriansyah, Enam Saksi Mangkir Akan Dipanggil Kembali

Mengikuti Tren Tidak Selalu Berdampak Buruk

Perlu dipahami bahwa tidak semua tren memiliki dampak negatif.

Banyak tren yang justru membawa manfaat, seperti gaya hidup sehat, membaca buku, olahraga rutin, belajar keterampilan baru, hingga meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental.

Mengikuti tren positif bahkan bisa menjadi pintu untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.

Masalah muncul ketika seseorang merasa harus mengikuti semua tren tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, atau nilai yang diyakininya.

Saat keputusan lebih banyak didasarkan pada tekanan sosial dibandingkan kesadaran diri, identitas seseorang perlahan dapat menjadi kabur.

Mengapa Remaja Lebih Rentan Terpengaruh?

Secara psikologis, masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas.

Pada fase ini, seseorang mulai mencari jawaban atas pertanyaan seperti, "Siapa saya?" dan "Saya ingin dikenal sebagai orang seperti apa?"

Dalam proses tersebut, pengakuan dari lingkungan memiliki pengaruh yang cukup besar.

Remaja cenderung ingin diterima oleh kelompok pertemanan, mendapatkan apresiasi, dan merasa menjadi bagian dari komunitas.

Media sosial memperkuat proses itu dengan menghadirkan berbagai ukuran popularitas, mulai dari jumlah pengikut, tanda suka, komentar, hingga konten yang masuk halaman rekomendasi.

Semua itu dapat menciptakan kesan bahwa penerimaan sosial bergantung pada seberapa mampu seseorang mengikuti apa yang sedang viral.

Bagaimana Menyikapi Tren dengan Bijak?

Mengikuti tren bukan berarti kehilangan jati diri, selama seseorang tetap memiliki batasan yang jelas.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

Dengan memiliki filter yang sehat, seseorang tetap bisa menikmati perkembangan zaman tanpa harus mengorbankan identitasnya.

Baca Juga: Self-Healing Tak Selalu Harus Liburan, Penelitian Ungkap Berbagi Bisa Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kebahagiaan

Menjadi Diri Sendiri adalah Keberanian yang Sesungguhnya

Di tengah dunia digital yang terus berubah, mempertahankan jati diri justru menjadi tantangan terbesar.

Mengikuti tren memang dapat membantu seseorang merasa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Namun prinsip hidup merupakan fondasi yang akan tetap bertahan ketika tren datang dan pergi.

Tidak semua hal yang viral harus diikuti, dan tidak semua perbedaan berarti seseorang tertinggal.

Pada akhirnya, keseimbangan menjadi kunci. Menyesuaikan diri dengan perubahan adalah hal yang baik, tetapi tetap mengenali nilai yang diyakini jauh lebih penting agar seseorang tidak kehilangan arah dalam perjalanan menemukan dirinya sendiri.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
tren remaja media sosial dan remaja jati diri remaja fomo kesehatan mental remaja