Self-Healing Tak Selalu Harus Liburan, Penelitian Ungkap Berbagi Bisa Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kebahagiaan

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:34 WIB
Selama ini self-healing identik dengan liburan atau me time. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa berbagi kepada sesama juga bisa meningkatkan kebahagiaan, mengurangi stres, dan memperkuat kesehatan mental. (ilustrasi)
Selama ini self-healing identik dengan liburan atau me time. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa berbagi kepada sesama juga bisa meningkatkan kebahagiaan, mengurangi stres, dan memperkuat kesehatan mental. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Ketika berbicara tentang self-healing, banyak orang langsung membayangkan liburan ke tempat wisata, menikmati staycation, menjalani perawatan di spa, atau meluangkan waktu untuk me time.

Cara-cara tersebut memang bisa membantu meredakan penat setelah menjalani rutinitas yang melelahkan.

Namun, ternyata ada satu cara sederhana yang sering luput dari perhatian, padahal manfaatnya bagi kesehatan mental telah didukung berbagai penelitian. Cara tersebut adalah berbagi kepada sesama.

Mulai dari membantu teman, menyumbang sesuai kemampuan, menjadi relawan, hingga sekadar mendengarkan keluh kesah orang lain, semua bentuk kebaikan itu ternyata tidak hanya memberikan manfaat bagi penerimanya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Minuman, Ini Alasan Secangkir Kopi Sering Jadi Tempat Pulang Setelah Hari yang Melelahkan

Orang yang memberi pun dapat merasakan dampak positif bagi kesehatan mentalnya.

Lantas, mengapa berbagi bisa menjadi salah satu bentuk self-healing yang efektif?

Self-Healing Tidak Selalu Harus Mengeluarkan Banyak Biaya

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-healing semakin populer, terutama di kalangan generasi muda.

Banyak orang menganggap proses memulihkan diri harus dilakukan dengan aktivitas yang membutuhkan biaya besar, seperti berlibur, menginap di hotel, atau menikmati berbagai hiburan.

Padahal, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari apa yang kita terima.

Sebaliknya, membantu orang lain justru mampu menghadirkan kepuasan emosional yang lebih bertahan lama dibandingkan kesenangan sesaat yang diperoleh dari membeli barang atau menikmati hiburan.

Artinya, proses penyembuhan diri tidak selalu harus mahal. Bahkan, tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan dampak emosional yang besar.

Otak Melepaskan Hormon Kebahagiaan Saat Berbuat Baik

Dari sisi ilmiah, ada alasan mengapa seseorang merasa lebih tenang setelah melakukan kebaikan.

Saat seseorang membantu orang lain, otak akan melepaskan beberapa zat kimia yang berhubungan dengan rasa bahagia dan nyaman, di antaranya:

Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai helper's high, yaitu perasaan hangat, lega, dan bahagia yang muncul setelah melakukan tindakan yang bermakna bagi orang lain.

Menariknya, efek tersebut tidak harus muncul dari tindakan besar. Hal-hal sederhana seperti membantu rekan kerja, mentraktir teman, memberi makan hewan terlantar, atau mendengarkan seseorang yang sedang bercerita juga dapat memunculkan respons positif tersebut.

Mengapa Berbagi Bisa Membantu Proses Penyembuhan Diri?

Ada beberapa alasan mengapa aktivitas berbagi sering kali memberikan manfaat bagi kesehatan mental.

1. Mengurangi Fokus pada Pikiran Negatif

Saat seseorang mengalami stres atau overthinking, pikirannya cenderung hanya berputar pada masalah yang sedang dihadapi.

Dengan membantu orang lain, perhatian perlahan bergeser sehingga pikiran negatif tidak lagi mendominasi.

Perubahan fokus ini dapat membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

2. Meningkatkan Rasa Berharga

Ketika seseorang menyadari bahwa tindakannya mampu membantu orang lain, muncul perasaan bahwa dirinya memiliki manfaat.

Perasaan ini berkontribusi meningkatkan self-worth atau penghargaan terhadap diri sendiri, yang menjadi salah satu aspek penting dalam kesehatan mental.

3. Memperkuat Hubungan Sosial

Berbagi sering kali menghadirkan interaksi yang lebih hangat dengan orang lain.

Hubungan sosial yang sehat diketahui menjadi salah satu faktor pelindung terhadap stres, kecemasan, maupun rasa kesepian.

4. Membantu Tubuh Lebih Rileks

Melakukan aktivitas positif dapat memicu respons relaksasi alami dalam tubuh.

Akibatnya, detak jantung menjadi lebih stabil, ketegangan berkurang, dan pikiran terasa lebih tenang.

Manusia Tidak Hanya Membutuhkan Kesenangan, tetapi Juga Makna

Di tengah kehidupan modern, tidak sedikit orang yang merasa hampa meskipun kebutuhan materinya telah terpenuhi.

Banyak pakar psikologi menilai kondisi tersebut terjadi karena manusia tidak hanya membutuhkan hiburan atau kesenangan, tetapi juga rasa memiliki tujuan hidup.

Salah satu cara menemukan makna tersebut adalah melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Ketika seseorang menyadari bahwa kehadirannya membawa dampak positif, muncul kepuasan batin yang sering kali tidak bisa digantikan oleh pencapaian materi semata.

Berbagi Tidak Harus dalam Jumlah Besar

Masih banyak orang yang menganggap berbagi identik dengan menyumbangkan uang dalam jumlah besar.

Padahal, makna berbagi jauh lebih luas daripada itu.

Beberapa contoh sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

Nilai sebuah kebaikan tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya bantuan, melainkan oleh ketulusan dan konsistensi dalam melakukannya.

Tetap Perlu Menjaga Keseimbangan

Meski memiliki banyak manfaat, para ahli juga mengingatkan bahwa berbagi bukanlah solusi untuk semua persoalan.

Jika seseorang sedang mengalami tekanan psikologis yang berat, berbagi sebaiknya menjadi pelengkap, bukan satu-satunya cara mengatasi masalah.

Proses self-healing tetap membutuhkan keseimbangan melalui istirahat yang cukup, menjaga pola hidup sehat, melakukan refleksi diri, serta mencari bantuan profesional apabila diperlukan.

Dengan pendekatan yang seimbang, kesehatan mental dapat terjaga dengan lebih baik.

Saat Membantu Orang Lain, Diri Kita Pun Ikut Bertumbuh

Sering kali kita berpikir bahwa kebahagiaan datang ketika mendapatkan sesuatu.

Baca Juga: Tak Cukup Berhenti di Pelaksana, Penyidikan Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Diminta Diusut hingga Pihak di Level Atas

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa memberi juga dapat menghadirkan kebahagiaan yang mendalam.

Setiap senyum yang berhasil kita hadirkan, setiap beban yang berhasil kita ringankan, dan setiap perhatian yang kita berikan kepada orang lain sering kali ikut menyembuhkan bagian dari diri kita sendiri.

Mungkin itulah mengapa berbagi tidak pernah kehilangan maknanya.

Bukan hanya karena mampu membuat orang lain merasa lebih baik, tetapi juga karena dalam setiap tindakan kebaikan, kita sedang membangun ketenangan, rasa syukur, dan kesehatan mental bagi diri sendiri.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
self healing manfaat berbagi psikologi berbagi helper's hi kesehatan mental