RADARBONANG.ID – Hampir setiap orang pernah mengalami kesemutan, baik di tangan maupun kaki.
Kondisi ini biasanya muncul setelah duduk bersila terlalu lama, menyilangkan kaki, atau tidur dengan posisi yang menekan salah satu anggota tubuh.
Pada umumnya, kesemutan akan hilang dalam hitungan menit setelah posisi tubuh diubah.
Namun, jika keluhan muncul terlalu sering, berlangsung lama, atau disertai gejala lain, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele.
Dalam dunia medis, kesemutan dikenal sebagai parestesia, yaitu sensasi seperti ditusuk jarum, mati rasa, terbakar, atau kebas pada bagian tubuh tertentu.
Parestesia dapat menjadi pertanda adanya gangguan pada saraf, sirkulasi darah, hingga penyakit kronis.
Lantas, apa saja penyebab tangan dan kaki sering kesemutan?
Posisi Tubuh yang Menekan Saraf
Penyebab paling umum adalah tekanan pada saraf akibat posisi tubuh yang kurang tepat.
Misalnya, duduk bersila terlalu lama, menopang kepala dengan tangan dalam waktu lama, atau tidur dengan lengan tertindih badan.
Tekanan tersebut menghambat aliran darah dan mengganggu fungsi saraf untuk sementara.
Kesemutan jenis ini umumnya akan hilang dengan sendirinya setelah posisi tubuh diperbaiki dan aliran darah kembali lancar.
Kekurangan Vitamin B
Vitamin B, terutama vitamin B12, memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan sistem saraf.
Jika tubuh kekurangan vitamin ini, fungsi saraf dapat terganggu sehingga memicu kesemutan yang berulang, terutama pada tangan dan kaki.
Selain kesemutan, penderita juga dapat mengalami tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan keseimbangan apabila kekurangan vitamin B12 berlangsung cukup lama.
Diabetes Dapat Merusak Saraf
Diabetes menjadi salah satu penyebab kesemutan kronis yang paling sering ditemukan.
Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak saraf, terutama pada bagian kaki dan tangan. Kondisi ini dikenal sebagai neuropati diabetik.
Gejala biasanya dimulai dengan rasa kebas, kesemutan, atau sensasi seperti terbakar pada ujung jari kaki sebelum akhirnya menjalar ke bagian tubuh lainnya.
Karena itu, penderita diabetes perlu menjaga kadar gula darah tetap stabil untuk mengurangi risiko kerusakan saraf.
Gangguan Sirkulasi Darah
Aliran darah yang tidak lancar juga dapat menyebabkan kesemutan.
Saat pasokan oksigen dan nutrisi menuju jaringan tubuh berkurang, saraf tidak dapat bekerja secara optimal sehingga muncul sensasi kebas atau kesemutan.
Kondisi ini lebih berisiko dialami oleh perokok, penderita kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, maupun penyakit pembuluh darah.
Saraf Terjepit
Kesemutan yang hanya terjadi pada satu sisi tubuh dan disertai nyeri bisa menjadi tanda saraf terjepit.
Saraf terjepit sering terjadi pada leher maupun tulang belakang akibat perubahan struktur tulang, cedera, atau bantalan tulang belakang yang menonjol.
Selain kesemutan, penderita biasanya merasakan nyeri yang menjalar hingga ke lengan atau kaki serta kelemahan otot.
Efek Samping Obat dan Penyakit Autoimun
Beberapa jenis obat, seperti obat kemoterapi atau obat tertentu untuk mengatasi infeksi, dapat menimbulkan efek samping berupa kesemutan.
Selain itu, penyakit autoimun seperti lupus atau rheumatoid arthritis juga dapat menyebabkan peradangan yang memengaruhi fungsi saraf.
Meskipun tidak umum, kondisi ini tetap perlu diperhatikan apabila kesemutan muncul setelah menjalani pengobatan tertentu.
Kapan Kesemutan Harus Diwaspadai?
Kesemutan perlu segera diperiksakan apabila muncul berulang tanpa penyebab yang jelas, berlangsung lebih dari beberapa menit, atau semakin sering terjadi.
Terlebih jika disertai gejala seperti kelemahan otot, sulit berjalan, nyeri hebat, gangguan penglihatan, sulit berbicara, atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh.
Gejala-gejala tersebut dapat mengarah pada gangguan saraf yang lebih serius dan membutuhkan penanganan medis segera.
Cara Mengurangi Risiko Kesemutan
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi risiko kesemutan.
Mulailah dengan menghindari duduk atau berdiri dalam posisi yang sama terlalu lama.
Jika bekerja di depan komputer, usahakan untuk berdiri dan melakukan peregangan setiap satu jam sekali.
Konsumsi makanan bergizi yang kaya vitamin B, seperti ikan, telur, daging tanpa lemak, susu, dan sayuran hijau.
Rutin berolahraga juga membantu melancarkan sirkulasi darah sehingga kesehatan saraf tetap terjaga.
Bagi penderita diabetes, menjaga kadar gula darah tetap terkendali menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut.
Selain itu, hindari kebiasaan merokok dan batasi konsumsi alkohol karena keduanya dapat meningkatkan risiko gangguan saraf.
Jangan Abaikan Sinyal dari Tubuh
Kesemutan memang sering kali tidak berbahaya, terutama jika terjadi akibat posisi tubuh yang kurang tepat.
Namun, apabila keluhan muncul berulang, berlangsung lama, atau disertai gejala lain, jangan menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Mengenali penyebab kesemutan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
Jika keluhan tidak kunjung membaik atau semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang