RADARBONAG.ID – Pernah merasa bersalah setelah membeli pakaian baru, menikmati secangkir kopi favorit, atau memesan makanan yang sebenarnya sudah lama diinginkan? Padahal, uang yang digunakan berasal dari hasil kerja keras sendiri.
Fenomena ini ternyata cukup banyak dialami oleh orang dewasa.
Alih-alih merasa senang, sebagian orang justru dihantui pikiran bahwa uang tersebut seharusnya ditabung, diberikan kepada keluarga, atau digunakan untuk kebutuhan yang dianggap lebih penting.
Dalam dunia psikologi, kondisi ini bukan sekadar kebiasaan berhemat.
Perasaan bersalah saat menggunakan uang untuk diri sendiri bisa berakar dari pengalaman masa kecil, pola asuh, hingga cara seseorang dibesarkan dalam memandang uang dan nilai dirinya.
Mengutip Geediting, berikut beberapa pengalaman yang dapat membentuk pola pikir tersebut hingga terbawa sampai dewasa.
1. Tumbuh dalam Keluarga dengan Kondisi Ekonomi Sulit
Anak yang besar di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi umumnya belajar bahwa uang adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.
Kebiasaan ini memang dapat membentuk sikap hemat yang positif.
Namun, pada sebagian orang, pengalaman tersebut berkembang menjadi rasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang untuk kebutuhan pribadi, meskipun kondisi keuangan mereka sudah jauh lebih baik.
Mereka cenderung merasa setiap pengeluaran harus memiliki alasan yang benar-benar penting.
2. Terlalu Sering Mendengar "Kita Tidak Punya Uang"
Kalimat seperti "Kita tidak punya uang untuk itu" mungkin terdengar biasa ketika diucapkan orang tua.
Namun, jika terus-menerus didengar sejak kecil, pesan tersebut dapat tertanam menjadi keyakinan bahwa keinginan pribadi bukanlah sesuatu yang layak dipenuhi.
Akibatnya, saat dewasa seseorang lebih mudah mengesampingkan kebutuhannya sendiri dan merasa bersalah ketika mencoba menikmati hasil kerja kerasnya.
3. Selalu Diajarkan Mengutamakan Orang Lain
Mengajarkan anak untuk peduli kepada orang lain merupakan hal yang baik.
Namun, jika dilakukan secara berlebihan hingga kebutuhan diri sendiri selalu dianggap nomor dua, seseorang bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa memenuhi keinginan pribadi adalah tindakan egois.
Padahal, memperhatikan kebutuhan diri sendiri juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan fisik maupun mental.
4. Jarang Mendapat Apresiasi atau Hadiah
Sebagian orang tumbuh tanpa banyak menerima penghargaan atas usaha yang telah dilakukan.
Akibatnya, muncul keyakinan bahwa mereka tidak pantas memperoleh sesuatu yang menyenangkan.
Saat akhirnya mampu membeli hadiah untuk diri sendiri, muncul rasa bersalah karena merasa belum cukup layak untuk menikmatinya.
5. Memikul Tanggung Jawab Keluarga Sejak Kecil
Ada anak yang sejak usia dini sudah terbiasa membantu memenuhi kebutuhan keluarga, baik secara emosional maupun finansial.
Pengalaman tersebut membuat mereka terbiasa mendahulukan kepentingan orang lain.
Ketika sudah dewasa, pola tersebut tetap terbawa sehingga menggunakan uang untuk diri sendiri terasa seperti mengabaikan tanggung jawab.
6. Pernah Dimarahi Karena Membeli Sesuatu
Pengalaman dimarahi karena membeli barang yang dianggap tidak penting dapat meninggalkan bekas psikologis.
Walaupun peristiwa itu telah lama berlalu, otak masih mengaitkan aktivitas berbelanja dengan rasa takut, malu, atau bersalah.
Akibatnya, setiap kali ingin membeli sesuatu, muncul keraguan meskipun sebenarnya kebutuhan tersebut wajar.
7. Dibesarkan dengan Pola Asuh Perfeksionis
Orang tua yang selalu menuntut anak agar membuat keputusan terbaik dalam segala hal dapat membentuk kebiasaan terlalu keras terhadap diri sendiri.
Ketika hendak membeli sesuatu untuk kesenangan, mereka langsung mempertanyakan apakah keputusan tersebut benar-benar tepat.
Jika jawabannya tidak benar-benar "sempurna", rasa bersalah pun muncul.
8. Merasa Harus Berkorban Sebelum Berhak Menikmati Hasil
Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus terus memberi, bekerja keras, atau berkorban sebelum pantas menerima sesuatu.
Selama merasa belum melakukan cukup banyak hal, mereka cenderung menunda menikmati hasil jerih payahnya sendiri.
Padahal, menghargai diri sendiri tidak harus menunggu semua target hidup tercapai.
9. Mengalami Parentifikasi Emosional
Dalam psikologi, parentifikasi emosional terjadi ketika seorang anak harus mengambil peran layaknya orang dewasa untuk menjaga kondisi emosional keluarga.
Anak terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain dan mengabaikan perasaannya sendiri.
Ketika dewasa, kebiasaan tersebut membuat mereka merasa tidak nyaman jika mulai memprioritaskan diri, termasuk dalam hal menggunakan uang untuk kebutuhan pribadi.
10. Tidak Pernah Belajar Hubungan yang Sehat dengan Uang
Banyak keluarga mengajarkan pentingnya menabung dan berhemat, tetapi jarang membahas bahwa uang juga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.
Akibatnya, seseorang memandang setiap pengeluaran sebagai sesuatu yang buruk, termasuk untuk kebutuhan self-care, belajar keterampilan baru, atau menikmati waktu bersama keluarga.
Padahal, menggunakan uang secara bijak untuk menjaga kesejahteraan diri bukanlah bentuk pemborosan.
Bagaimana Cara Mengurangi Rasa Bersalah Saat Menggunakan Uang?
Jika Anda sering mengalami perasaan seperti ini, psikologi menyarankan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengubah pola pikir tersebut.
Pertama, cobalah mengenali dari mana rasa bersalah itu berasal.
Apakah muncul karena pengalaman masa kecil, pola asuh, atau kebiasaan tertentu yang terus terbawa hingga sekarang.
Selanjutnya, tantang keyakinan lama dengan bertanya kepada diri sendiri apakah membeli sesuatu yang memang dibutuhkan benar-benar merupakan tindakan egois.
Melatih self-compassion atau bersikap lebih baik kepada diri sendiri juga dapat membantu.
Anda bisa mulai dengan memberikan hadiah sederhana sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras yang telah dilakukan.
Selain itu, menyisihkan anggaran khusus untuk kebutuhan pribadi atau self-care setiap bulan dapat membuat pengeluaran terasa lebih terencana sehingga rasa bersalah berkurang.
Apabila perasaan tersebut sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau terapis agar mendapatkan pendampingan yang sesuai.
Pada akhirnya, menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri bukan berarti mengabaikan tanggung jawab.
Selama dilakukan secara bijak dan sesuai kemampuan finansial, menikmati hasil kerja keras merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Memahami akar psikologis di balik rasa bersalah menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang sekaligus dengan diri sendiri.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com