RADARBONAG.ID – Sejak kecil, hampir semua orang diajarkan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari, yakni setelah sarapan dan sebelum tidur.
Anjuran ini sudah menjadi bagian dari rutinitas harian yang dianggap cukup untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Namun, apakah benar menyikat gigi dua kali sehari sudah menjamin gigi tetap sehat?
Faktanya, banyak orang yang tetap mengalami gigi berlubang, bau mulut, gusi berdarah, hingga penumpukan plak meski mengaku rutin menyikat gigi setiap hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa frekuensi menyikat gigi bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan mulut.
Ada beberapa kebiasaan yang sering diabaikan, padahal memiliki pengaruh besar terhadap kebersihan dan kesehatan gigi dalam jangka panjang.
Teknik Menyikat Gigi Lebih Penting daripada Sekadar Frekuensi
Kesalahan yang paling sering dilakukan adalah menyikat gigi terlalu cepat atau asal menggosok permukaan gigi tanpa teknik yang benar.
Banyak orang hanya fokus membersihkan bagian depan gigi karena area tersebut paling terlihat.
Padahal, plak dan sisa makanan lebih mudah menumpuk di bagian belakang gigi serta sela-sela yang sulit dijangkau sikat.
Para ahli menyarankan agar menyikat gigi dilakukan selama minimal dua menit dengan gerakan lembut dan menyeluruh.
Pastikan seluruh permukaan gigi, mulai dari bagian luar, dalam, hingga permukaan kunyah, dibersihkan secara merata.
Jika dilakukan terburu-buru, kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari tidak akan memberikan hasil yang maksimal.
Waktu Menyikat Gigi Juga Tidak Boleh Sembarangan
Selain teknik, waktu menyikat gigi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan enamel atau lapisan pelindung gigi.
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah langsung menyikat gigi setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang bersifat asam, seperti jeruk, lemon, minuman bersoda, atau kopi.
Saat itu, enamel berada dalam kondisi lebih lunak akibat paparan asam. Jika langsung disikat, lapisan pelindung gigi justru berisiko terkikis lebih cepat.
Karena itu, disarankan untuk menunggu sekitar 30 menit setelah makan sebelum mulai menyikat gigi.
Sambil menunggu, Anda dapat berkumur menggunakan air putih untuk membantu menetralkan kondisi di dalam mulut.
Sikat Gigi Hanya Membersihkan Sebagian Permukaan Gigi
Banyak orang mengira sikat gigi mampu membersihkan seluruh bagian gigi. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Sikat gigi umumnya hanya mampu membersihkan sekitar 60 persen permukaan gigi.
Sisanya berada di sela-sela gigi yang sulit dijangkau oleh bulu sikat.
Area inilah yang sering menjadi tempat menumpuknya plak dan sisa makanan yang kemudian memicu gigi berlubang, radang gusi, hingga bau mulut.
Untuk membersihkan bagian tersebut, penggunaan benang gigi (dental floss) sangat dianjurkan.
Flossing membantu mengangkat kotoran yang tidak bisa dijangkau sikat gigi sehingga kebersihan mulut menjadi lebih optimal.
Sayangnya, kebiasaan menggunakan benang gigi masih belum menjadi rutinitas bagi banyak orang, terutama kalangan anak muda.
Jangan Lupakan Membersihkan Lidah
Bau mulut sering kali dianggap berasal dari gigi yang kotor. Padahal, bakteri juga banyak berkembang biak di permukaan lidah.
Sisa makanan, sel kulit mati, dan bakteri dapat menumpuk di lidah sehingga memicu aroma tidak sedap meski gigi sudah terlihat bersih.
Karena itu, membersihkan lidah sebaiknya menjadi bagian dari rutinitas setelah menyikat gigi.
Kini, banyak sikat gigi yang telah dilengkapi pembersih lidah di bagian belakang kepala sikat, atau Anda juga bisa menggunakan alat pembersih lidah khusus.
Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga napas tetap segar sekaligus mengurangi jumlah bakteri di dalam rongga mulut.
Menyikat Terlalu Keras Justru Bisa Merusak Gigi
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa semakin keras menggosok gigi, hasilnya akan semakin bersih.
Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat menyebabkan kerusakan pada enamel gigi dan melukai jaringan gusi.
Dalam jangka panjang, gusi bisa mengalami penyusutan sehingga akar gigi menjadi lebih sensitif terhadap makanan panas maupun dingin.
Cara yang benar adalah menggunakan sikat berbulu lembut dengan tekanan yang ringan serta gerakan memutar atau menyapu secara perlahan.
Selain itu, jangan lupa mengganti sikat gigi setiap tiga hingga empat bulan, atau lebih cepat apabila bulu sikat sudah mulai mekar dan tidak lagi efektif membersihkan gigi.
Pemeriksaan Rutin Tetap Dibutuhkan
Meski sudah menjaga kebersihan gigi setiap hari, pemeriksaan ke dokter gigi tetap menjadi bagian penting dari perawatan kesehatan mulut.
Pemeriksaan secara berkala, idealnya setiap enam bulan sekali, dapat membantu mendeteksi masalah sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Dokter gigi juga dapat membersihkan karang gigi yang tidak dapat dihilangkan hanya dengan menyikat gigi di rumah.
Dua Kali Sehari Adalah Awal, Bukan Akhir
Menyikat gigi dua kali sehari memang merupakan kebiasaan yang baik dan perlu dipertahankan.
Namun, rutinitas tersebut hanyalah langkah dasar dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Teknik menyikat yang benar, waktu yang tepat, penggunaan benang gigi, membersihkan lidah, hingga pemeriksaan rutin ke dokter gigi merupakan rangkaian kebiasaan yang saling melengkapi.
Di era sekarang, menjaga kesehatan gigi bukan hanya berkaitan dengan penampilan atau senyum yang indah, tetapi juga menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat.
Mulut yang bersih dapat membantu mencegah berbagai masalah kesehatan sekaligus meningkatkan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang