RADARBONAG.ID – Jika dulu Instagram dan TikTok sering dianggap sebagai media sosial yang paling memicu rasa insecure karena dipenuhi unggahan liburan mewah, gaya hidup glamor, hingga penampilan serba sempurna, kini muncul "pemain baru" yang diam-diam memberi tekanan lebih besar terhadap kesehatan mental anak muda. Platform itu adalah LinkedIn.
Sebagai media sosial profesional, LinkedIn awalnya dikenal sebagai tempat mencari pekerjaan, membangun jaringan, dan berbagi pengalaman karier.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah platform ini mulai berubah.
Linimasa pengguna dipenuhi kisah tentang pencapaian luar biasa di usia muda, promosi jabatan, penghargaan internasional, hingga perjalanan karier yang terlihat nyaris sempurna.
Alih-alih menjadi sumber motivasi, banyak pengguna—terutama Generasi Z—justru mengaku merasa semakin tertinggal setelah membaca unggahan-unggahan tersebut.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan baru: mengapa cerita sukses orang lain kini lebih sering memicu tekanan daripada inspirasi?
Ketika LinkedIn Berubah Menjadi Ajang Pamer Prestasi
Membuka LinkedIn saat ini sering kali berarti disambut berbagai cerita yang memiliki pola serupa.
Ada yang mengawali unggahan dengan kisah ditolak puluhan perusahaan sebelum akhirnya diterima di perusahaan impian.
Ada pula yang menceritakan keberhasilan menjadi manajer di usia awal 20-an, memperoleh beasiswa bergengsi, atau masuk daftar tokoh muda berprestasi.
Sekilas, unggahan seperti ini tampak positif. Namun jika dikonsumsi terus-menerus, pengguna bisa merasa seolah pencapaian luar biasa tersebut merupakan standar yang harus dicapai semua orang.
Padahal kenyataannya, perjalanan karier setiap individu tidak pernah benar-benar sama.
Fenomena Humblebrag yang Semakin Marak
Salah satu istilah yang sering dikaitkan dengan budaya LinkedIn adalah humblebrag.
Istilah ini menggambarkan cara seseorang memamerkan pencapaian dengan membungkusnya menggunakan kalimat yang terlihat rendah hati.
Misalnya, seseorang membuka cerita dengan pengalaman gagal berkali-kali, lalu menutupnya dengan kabar diterima di perusahaan multinasional atau mendapatkan jabatan tinggi.
Secara psikologis, format seperti ini lebih mudah menarik simpati sekaligus kekaguman pembaca.
Tidak sedikit pengguna yang akhirnya merasa hidup mereka jauh tertinggal dibanding orang-orang seusianya.
Masalahnya bukan karena orang lain sukses, melainkan karena algoritma terus memperlihatkan kisah-kisah luar biasa tersebut tanpa menampilkan ribuan perjalanan karier biasa yang sebenarnya lebih banyak terjadi.
Kesuksesan Tidak Pernah Lepas dari Faktor Privilese
Hal lain yang sering luput dibahas adalah keberadaan privilege atau privilese.
Banyak kisah sukses di media sosial hanya memperlihatkan hasil akhirnya.
Sementara faktor-faktor yang turut membantu perjalanan tersebut sering kali tidak dijelaskan secara utuh.
Misalnya, dukungan finansial keluarga, kesempatan belajar di institusi terbaik, lingkungan yang mendukung, akses mentor profesional, hingga jaringan relasi yang luas.
Semua faktor tersebut tentu bukan berarti seseorang tidak bekerja keras.
Namun mengabaikan keberadaan privilese dapat menciptakan kesan bahwa siapa pun pasti akan berhasil jika bekerja tanpa henti.
Narasi seperti inilah yang sering membuat banyak anak muda menyalahkan diri sendiri ketika karier mereka tidak berkembang secepat orang lain.
Toxic Comparison Semakin Sulit Dihindari
Psikolog menyebut kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain sebagai social comparison.
Dalam kadar tertentu, hal ini merupakan proses yang wajar.
Namun media sosial membuat proses tersebut berlangsung hampir tanpa henti.
Setiap hari pengguna melihat promosi jabatan, sertifikat baru, penghargaan, hingga kisah sukses yang terus bermunculan.
Akibatnya, seseorang mulai mengukur nilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.
Perbandingan seperti ini lama-kelamaan dapat memicu rasa tidak percaya diri, imposter syndrome, kecemasan terhadap masa depan, bahkan kelelahan mental.
Bukan karena mereka gagal, tetapi karena standar keberhasilan yang terus muncul di layar terasa semakin tinggi dan sulit dijangkau.
Hustle Culture Mulai Dipertanyakan Generasi Z
Fenomena lain yang banyak dikritik adalah glorifikasi hustle culture.
Narasi seperti bekerja hingga larut malam, mengorbankan waktu istirahat, tidak mengambil cuti, bahkan bangga bekerja tanpa henti selama bertahun-tahun masih cukup sering ditemukan di LinkedIn.
Bagi sebagian Generasi Z, budaya tersebut mulai dianggap tidak lagi relevan.
Banyak anak muda kini lebih menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance.
Mereka percaya bahwa produktivitas tidak selalu harus dibayar dengan kelelahan fisik maupun mental.
Kesuksesan juga tidak lagi hanya diukur dari jabatan tinggi atau besarnya penghasilan, tetapi juga kualitas hidup yang dijalani.
Jadikan LinkedIn Sebagai Alat, Bukan Tolok Ukur Kehidupan
Merasa lelah melihat cerita sukses orang lain bukan berarti seseorang iri atau tidak mampu menghargai pencapaian sesama.
Sebaliknya, kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahwa sudah waktunya mengatur ulang cara menggunakan media sosial.
LinkedIn pada dasarnya adalah platform untuk membangun citra profesional.
Wajar jika sebagian besar pengguna hanya menampilkan sisi terbaik dalam perjalanan karier mereka.
Karena itu, penting untuk menyadari bahwa apa yang terlihat di linimasa hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh tentang perjuangan, kegagalan, maupun tantangan yang mereka hadapi.
Mengurangi waktu berselancar di media sosial, berhenti membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain, serta fokus pada target pribadi dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental.
Pada akhirnya, kesuksesan bukan perlombaan siapa yang paling cepat mencapai garis finis.
Setiap orang memiliki titik awal, peluang, dan ritme kehidupan yang berbeda. Yang terpenting bukan seberapa cepat mencapai tujuan, melainkan tetap bertumbuh sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang