Sekolah Kok Isinya Main Terus? Ternyata Ini Manfaat Metode Play-Based Learning yang Bantu Anak Belajar Lebih Efektif

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 16:14 WIB
Anak pulang sekolah bilang, "Hari ini main terus"? Jangan langsung khawatir. Di balik setiap permainan, ada proses belajar yang dirancang untuk mengembangkan kecerdasan, kreativitas, hingga kemampuan sosial anak. (ilustrasi)
Anak pulang sekolah bilang, "Hari ini main terus"? Jangan langsung khawatir. Di balik setiap permainan, ada proses belajar yang dirancang untuk mengembangkan kecerdasan, kreativitas, hingga kemampuan sosial anak. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Masih banyak orang tua yang merasa khawatir ketika mendengar anaknya pulang dari sekolah sambil bercerita, "Hari ini aku main terus."

Sebagian langsung bertanya-tanya, apakah anak benar-benar belajar atau hanya menghabiskan waktu untuk bermain?

Anggapan bahwa belajar harus selalu dilakukan dengan duduk rapi, membaca buku, dan mengerjakan lembar kerja masih cukup melekat di masyarakat.

Padahal, khusus untuk anak usia dini, cara belajar yang paling efektif justru sering kali dilakukan melalui aktivitas bermain.

Konsep ini dikenal sebagai play-based learning, yaitu metode pembelajaran yang menggunakan permainan sebagai media utama untuk mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, emosional, bahasa, hingga motorik anak.

Baca Juga: Review Film Moana 2: Ternyata Disney Sudah Menyiapkannya Bertahun-Tahun, Ini Fakta Produksi yang Jarang Diketahui Penonton

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan ini semakin banyak diterapkan di lembaga PAUD dan preschool karena dinilai lebih sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

Bermain Adalah Cara Alami Anak Belajar

Bagi orang dewasa, bermain mungkin identik dengan hiburan.

Namun, bagi anak usia sekitar 3 hingga 6 tahun, bermain merupakan bagian penting dari proses belajar.

Saat bermain, anak tidak hanya bersenang-senang.

Mereka sedang mengamati, mencoba, bertanya, memecahkan masalah, dan belajar memahami lingkungan di sekitarnya.

Misalnya, ketika anak menyusun puzzle, mereka sebenarnya sedang melatih kemampuan berpikir logis, mengenali bentuk, meningkatkan koordinasi mata dan tangan, serta belajar bersabar hingga berhasil menyelesaikan tantangan.

Begitu pula saat bermain balok, menggambar, bermain peran sebagai dokter atau guru, hingga bermain bersama teman sebaya.

Semua aktivitas tersebut memberikan stimulasi yang berbeda terhadap perkembangan otak anak.

Mengapa Play-Based Learning Semakin Populer?

Perkembangan ilmu pendidikan menunjukkan bahwa anak usia dini memiliki kebutuhan belajar yang berbeda dengan anak usia sekolah dasar.

Mereka belum mampu berkonsentrasi dalam waktu lama untuk mengikuti pembelajaran yang bersifat formal.

Karena itu, metode bermain dinilai lebih efektif karena mampu menjaga rasa ingin tahu anak tetap tinggi.

Selain itu, suasana belajar yang menyenangkan membuat anak tidak merasa tertekan.

Mereka belajar secara alami tanpa merasa sedang dipaksa memahami suatu materi.

Pendekatan ini juga membantu anak membangun kebiasaan positif terhadap proses belajar sehingga mereka lebih antusias mengikuti kegiatan di sekolah.

Bukan Hanya Pintar, tetapi Juga Mengembangkan Soft Skill

Keunggulan lain dari play-based learning adalah kemampuannya melatih berbagai keterampilan yang sangat dibutuhkan pada masa depan.

Melalui permainan kelompok, anak belajar bekerja sama, berbagi, bergiliran, menyelesaikan konflik, hingga berkomunikasi dengan orang lain.

Saat bermain peran, mereka juga belajar memahami sudut pandang orang lain dan mengenali berbagai emosi.

Keterampilan seperti kreativitas, kemampuan berkomunikasi, empati, berpikir kritis, dan kolaborasi menjadi bekal penting yang tidak kalah berharga dibandingkan kemampuan akademik.

Di era yang terus berubah, banyak ahli pendidikan menilai bahwa kemampuan tersebut justru akan semakin dibutuhkan di dunia kerja maupun kehidupan sosial.

Kesalahan yang Masih Sering Dilakukan Orang Tua

Meski metode ini semakin dikenal, masih banyak orang tua yang belum memahami konsep di baliknya.

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang sejak dini mengajarkan anak membaca, menulis, dan berhitung secara intensif.

Akibatnya, ketika melihat anak lebih banyak bermain, sebagian orang tua merasa proses belajarnya kurang serius.

Padahal, aktivitas bermain di sekolah umumnya telah dirancang secara khusus oleh guru dengan tujuan pembelajaran yang jelas.

Kesalahan lain yang juga sering terjadi adalah membandingkan perkembangan anak dengan teman sebayanya.

Padahal, setiap anak memiliki kecepatan tumbuh dan cara belajar yang berbeda.

Ada anak yang cepat berkembang dalam kemampuan bahasa, sementara yang lain lebih menonjol dalam kemampuan motorik, sosial, atau kreativitas.

Peran Guru Sangat Menentukan

Play-based learning bukan berarti anak dibiarkan bermain tanpa arah.

Di balik setiap permainan, guru memiliki peran penting dalam merancang aktivitas yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Guru akan memilih permainan yang dapat merangsang rasa ingin tahu anak, mengajukan pertanyaan yang memancing mereka berpikir, serta memberikan tantangan sesuai tahap perkembangannya.

Melalui pendampingan tersebut, anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan sekadar menghafal materi.

Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan memecahkan masalah, serta semangat untuk terus belajar.

Yang Terpenting Bukan Cepat Bisa, tetapi Siap Bertumbuh

Pada usia prasekolah, tujuan utama pendidikan bukanlah membuat anak secepat mungkin menguasai kemampuan akademik.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan mereka tumbuh menjadi anak yang percaya diri, mandiri, memiliki rasa ingin tahu tinggi, mampu berinteraksi dengan orang lain, dan menikmati proses belajar.

Kemampuan membaca, menulis, maupun berhitung tetap penting, tetapi semua itu akan lebih mudah dipelajari ketika anak memiliki kesiapan mental, emosional, dan sosial yang baik.

Baca Juga: Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Resmi Meluncur di Indonesia, Usung Kamera 200 MP, Baterai 5.000 mAh, Harga Mulai Rp34 Juta

Karena itu, orang tua tidak perlu khawatir jika anak lebih sering bercerita tentang permainan yang dilakukan di sekolah.

Selama aktivitas tersebut dirancang sebagai bagian dari proses pembelajaran, bermain justru menjadi salah satu cara terbaik untuk membangun fondasi perkembangan anak.

Pada akhirnya, play-based learning membuktikan bahwa belajar tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang serius dan penuh tekanan.

Lewat permainan yang terarah, anak dapat memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus membangun berbagai keterampilan penting yang akan menjadi bekal mereka di masa depan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
play based learning metode belajar anak pendidikan anak usia dini preschool perkembangan anak