RADARBONAG.ID – Perilaku belanja Generasi Z terus mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir.
Jika dahulu harga murah dan desain yang sedang tren menjadi pertimbangan utama saat membeli suatu produk, kini banyak anak muda mulai melihat faktor lain yang dianggap lebih penting, yaitu nilai dan dampak yang dibawa oleh sebuah merek.
Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya Gen Z yang memilih membeli produk dari brand lokal yang mengusung konsep keberlanjutan (sustainability).
Mulai dari produk fesyen, perawatan tubuh, hingga kebutuhan rumah tangga, banyak konsumen muda rela membayar lebih mahal selama produk tersebut dinilai memiliki komitmen terhadap lingkungan dan diproduksi secara bertanggung jawab.
Perubahan ini menunjukkan bahwa keputusan berbelanja tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan atau mengikuti tren, tetapi juga menjadi bagian dari cara Generasi Z mengekspresikan nilai yang mereka yakini.
Lantas, apa yang membuat brand lokal dengan konsep ramah lingkungan semakin diminati?
Gen Z Tidak Mudah Percaya pada Klaim "Ramah Lingkungan"
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh di era internet ketika informasi dapat diakses dengan sangat mudah.
Sebelum membeli suatu produk, mereka cenderung mencari ulasan, membaca komposisi bahan, mempelajari proses produksi, hingga melihat bagaimana sebuah perusahaan menjalankan praktik bisnisnya.
Karena itu, sekadar mencantumkan label seperti "eco-friendly", "green", atau "ramah lingkungan" tidak lagi cukup untuk menarik perhatian mereka.
Gen Z semakin mengenal istilah greenwashing, yaitu praktik pemasaran yang memberikan kesan seolah-olah sebuah perusahaan peduli terhadap lingkungan, padahal tidak didukung tindakan nyata.
Apabila sebuah brand dianggap hanya menggunakan isu lingkungan sebagai strategi pemasaran tanpa transparansi, kritik dari konsumen muda dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial.
Sebaliknya, brand yang terbuka mengenai bahan baku, proses produksi, hingga dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan justru lebih mudah memperoleh kepercayaan.
Belanja Kini Menjadi Cara Menyuarakan Nilai
Bagi sebagian besar Gen Z, aktivitas berbelanja tidak lagi sekadar transaksi ekonomi.
Pilihan terhadap suatu produk juga dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap nilai yang ingin mereka lihat di masyarakat.
Konsep ini dikenal sebagai conscious consumerism, yaitu perilaku membeli produk dengan mempertimbangkan dampak sosial, etika, maupun lingkungan.
Kesadaran tersebut muncul karena Generasi Z tumbuh di tengah meningkatnya isu perubahan iklim, pencemaran plastik, kerusakan lingkungan, hingga berbagai persoalan keberlanjutan yang semakin sering menjadi perhatian dunia.
Akibatnya, banyak anak muda merasa bahwa setiap keputusan membeli produk merupakan cara sederhana untuk ikut berkontribusi terhadap perubahan yang lebih baik.
Brand Lokal Berhasil Menggabungkan Nilai dan Kualitas
Salah satu alasan mengapa brand lokal semakin diminati adalah kemampuannya menghadirkan produk yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki desain modern dan kualitas yang mampu bersaing.
Dulu, produk berkonsep keberlanjutan sering dianggap memiliki desain yang kurang menarik atau pilihan yang terbatas.
Kini anggapan tersebut mulai berubah.
Banyak brand lokal menghadirkan pakaian berbahan serat alami atau hasil daur ulang dengan desain yang mengikuti tren fesyen.
Produk perawatan tubuh juga mulai menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai melalui sistem isi ulang (refill).
Perpaduan antara kualitas, desain, dan nilai keberlanjutan membuat produk-produk tersebut semakin menarik bagi konsumen muda.
Storytelling Menjadi Nilai Tambah
Selain kualitas produk, Gen Z juga menyukai cerita di balik sebuah merek.
Mereka ingin mengetahui siapa yang membuat produk tersebut, bagaimana proses produksinya, serta dampak positif yang dihasilkan bagi masyarakat maupun lingkungan.
Misalnya, sebuah tas yang dibuat dari limbah plastik daur ulang atau pakaian yang diproduksi oleh pengrajin lokal dengan proses yang lebih ramah lingkungan.
Cerita seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan membeli produk massal tanpa mengetahui asal-usulnya.
Bagi banyak Gen Z, menggunakan produk dengan cerita yang kuat memberikan rasa bangga karena mereka merasa menjadi bagian dari perubahan positif.
Tantangan Besar bagi Brand Konvensional
Perubahan perilaku konsumen muda menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia usaha.
Kini, harga murah saja tidak selalu cukup untuk memenangkan hati konsumen.
Semakin banyak pembeli yang memperhatikan bagaimana perusahaan memperlakukan pekerjanya, mengelola limbah, menggunakan bahan baku, hingga menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan.
Brand yang mampu menjalankan praktik bisnis secara etis dan transparan memiliki peluang lebih besar membangun loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
Sebaliknya, perusahaan yang hanya menjadikan isu lingkungan sebagai strategi pemasaran tanpa tindakan nyata berisiko kehilangan kepercayaan publik.
Keberlanjutan Bukan Lagi Sekadar Tren
Meski isu keberlanjutan semakin populer, banyak pengamat menilai bahwa fenomena ini bukan sekadar tren sesaat.
Kesadaran terhadap dampak lingkungan diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya informasi dan edukasi mengenai perubahan iklim.
Generasi Z menjadi salah satu kelompok yang mendorong perubahan tersebut melalui keputusan-keputusan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat memilih produk yang akan dibeli.
Hal ini juga menjadi peluang besar bagi brand lokal untuk terus berinovasi.
Dengan menggabungkan kualitas produk, desain yang menarik, transparansi, serta komitmen terhadap keberlanjutan, brand lokal memiliki kesempatan membangun hubungan yang lebih kuat dengan konsumen muda.
Pada akhirnya, bagi banyak Gen Z, membeli produk bukan lagi sekadar soal memiliki barang baru.
Keputusan tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap perusahaan yang dianggap memiliki nilai yang sejalan dengan kepedulian terhadap lingkungan, masyarakat, dan masa depan bumi.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang