Mengapa Banyak Orang Masih Enggan Naik Transportasi Umum? Ternyata Bukan Sekadar Soal Kenyamanan

M. Afiqul Adib • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 11:16 WIB
Transportasi umum di Indonesia sering dianggap solusi mobilitas, namun banyak orang masih enggan menggunakannya. (Ilustrasi)
Transportasi umum di Indonesia sering dianggap solusi mobilitas, namun banyak orang masih enggan menggunakannya. (Ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Di tengah meningkatnya kemacetan di berbagai kota besar Indonesia, penggunaan transportasi umum masih belum menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat.

Padahal, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui pembangunan berbagai moda transportasi modern seperti MRT, LRT, BRT, hingga revitalisasi layanan bus dan kereta api.

Meski begitu, kendaraan pribadi masih mendominasi perjalanan harian masyarakat.

Jalanan dipenuhi mobil dan sepeda motor, sementara sejumlah layanan transportasi umum di beberapa daerah belum dimanfaatkan secara maksimal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan seseorang dalam memilih moda transportasi tidak hanya dipengaruhi oleh biaya, tetapi juga kenyamanan, aksesibilitas, hingga faktor psikologis dan budaya.

Baca Juga: Apple Siapkan Asisten Belanja AI di Apple Store, Pengguna Bisa Tanya Produk dan Dapat Rekomendasi Lewat Chat

Lantas, mengapa masih banyak orang enggan beralih ke transportasi umum?

Kenyamanan Masih Menjadi Faktor Utama

Salah satu alasan yang paling sering dikemukakan masyarakat adalah soal kenyamanan.

Kendaraan pribadi memberikan keleluasaan yang sulit ditandingi transportasi umum.

Pengguna dapat berangkat kapan saja tanpa harus menunggu jadwal keberangkatan, memilih rute sesuai kebutuhan, hingga menikmati perjalanan dengan ruang yang lebih privat.

Sebaliknya, transportasi umum sering kali identik dengan kondisi yang padat, terutama pada jam sibuk.

Penumpang harus berdiri dalam perjalanan, berbagi ruang dengan banyak orang, dan terkadang menghadapi kondisi kendaraan yang penuh sesak.

Di sejumlah daerah, fasilitas transportasi umum juga masih belum merata.

Masih ada kendaraan dengan kondisi kurang terawat, pendingin udara yang tidak optimal, hingga tempat duduk yang terbatas.

Hal-hal tersebut membuat sebagian masyarakat merasa kendaraan pribadi tetap memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman.

Akses ke Transportasi Umum Belum Sepenuhnya Mudah

Selain kenyamanan, akses menuju transportasi umum juga menjadi tantangan besar.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, jaringan transportasi publik memang terus berkembang.

Namun, kondisi tersebut belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Masih banyak kawasan permukiman yang belum terhubung langsung dengan halte bus, stasiun kereta, atau layanan angkutan massal lainnya.

Akibatnya, masyarakat tetap harus menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi daring untuk mencapai titik keberangkatan.

Situasi ini dikenal sebagai masalah first mile dan last mile, yaitu kesulitan mencapai transportasi umum dari rumah serta menuju tujuan akhir setelah turun dari kendaraan.

Jika akses ini belum terselesaikan, masyarakat cenderung memilih langsung menggunakan kendaraan pribadi.

Waktu Tempuh Sering Dianggap Lebih Lama

Pertimbangan berikutnya adalah efisiensi waktu.

Banyak orang beranggapan bahwa menggunakan kendaraan pribadi lebih cepat dibandingkan transportasi umum.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

Meski kendaraan pribadi juga sering terjebak kemacetan, banyak pengguna merasa perjalanan tetap lebih praktis karena tidak perlu berpindah-pindah kendaraan.

Bagi pekerja dengan jadwal padat atau mobilitas tinggi, fleksibilitas tersebut menjadi nilai tambah yang sulit digantikan.

Persepsi Sosial Masih Berpengaruh

Selain faktor teknis, pilihan moda transportasi juga dipengaruhi oleh persepsi masyarakat.

Di beberapa kalangan, kendaraan pribadi masih dianggap sebagai simbol kemandirian, kenyamanan, bahkan status sosial.

Sebaliknya, transportasi umum terkadang masih dipandang sebagai pilihan bagi mereka yang belum memiliki kendaraan sendiri.

Pandangan seperti ini memang mulai berubah, terutama di kota-kota besar yang memiliki layanan transportasi modern.

Namun, persepsi tersebut masih cukup kuat di sejumlah daerah.

Padahal, di banyak negara maju seperti Jepang, Singapura, hingga beberapa negara Eropa, transportasi umum justru menjadi pilihan utama masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi karena dinilai praktis, cepat, dan efisien.

Lebih Hemat, tetapi Belum Menjadi Pilihan

Jika dilihat dari sisi ekonomi, transportasi umum sebenarnya menawarkan keuntungan yang cukup besar.

Menggunakan kendaraan pribadi berarti harus mengeluarkan biaya untuk:

Sementara itu, tarif transportasi umum umumnya jauh lebih murah.

Dalam jangka panjang, penggunaan transportasi publik dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga secara signifikan.

Meski demikian, banyak orang tetap bersedia mengeluarkan biaya lebih besar karena menilai kenyamanan dan fleksibilitas kendaraan pribadi lebih bernilai dibandingkan penghematan biaya.

Faktor Keamanan dan Keandalan Juga Menjadi Pertimbangan

Sebagian masyarakat juga masih mempertimbangkan aspek keamanan saat menggunakan transportasi umum.

Meski berbagai operator telah meningkatkan standar pelayanan, kekhawatiran mengenai tindak kriminal, pelecehan, atau kondisi kendaraan yang kurang layak masih menjadi alasan sebagian orang enggan beralih.

Di sisi lain, ketepatan waktu juga menjadi faktor penting.

Jika jadwal keberangkatan tidak konsisten atau sering mengalami keterlambatan, kepercayaan masyarakat terhadap transportasi umum akan menurun.

Karena itu, meningkatkan keandalan layanan menjadi salah satu langkah penting untuk menarik lebih banyak pengguna.

Perlu Perbaikan Infrastruktur dan Edukasi Masyarakat

Para pakar transportasi menilai bahwa peningkatan jumlah pengguna transportasi umum tidak cukup hanya dengan menghadirkan kendaraan baru.

Pemerintah juga perlu memperkuat integrasi antarmoda, memperluas jangkauan layanan, meningkatkan kenyamanan fasilitas, serta memastikan jadwal perjalanan berjalan tepat waktu.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga penting untuk mengubah cara pandang terhadap transportasi umum.

Kampanye mengenai manfaat transportasi publik, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan, dapat membantu meningkatkan minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi.

Transportasi Umum Berkualitas Jadi Kunci Mengurangi Kemacetan

Pada akhirnya, alasan masyarakat masih enggan menggunakan transportasi umum bukan hanya karena persoalan biaya.

Baca Juga: Sering Dilarang Orang Tua, Apakah Nonton TV Terlalu Lama Benar-Benar Menyebabkan Mata Minus? Ini Jawaban Ilmiahnya

Kenyamanan, kemudahan akses, efisiensi waktu, keamanan, hingga persepsi sosial masih menjadi faktor yang memengaruhi keputusan sehari-hari.

Meski berbagai kota di Indonesia telah menunjukkan perkembangan melalui hadirnya MRT, LRT, BRT, dan layanan transportasi modern lainnya, tantangan masih cukup besar, terutama di daerah yang belum memiliki sistem transportasi publik yang terintegrasi.

Jika kualitas layanan terus ditingkatkan dan masyarakat semakin percaya terhadap transportasi umum, bukan tidak mungkin kendaraan publik akan menjadi pilihan utama di masa depan.

Selain membantu mengurangi kemacetan, peningkatan penggunaan transportasi umum juga dapat menekan polusi udara, menghemat biaya perjalanan, serta menciptakan sistem mobilitas perkotaan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
transportasi umum kendaraan pribadi alasan naik transportasi umum lrt mrt