RADARBONAG.ID – "Jangan nonton TV terlalu dekat, nanti matamu minus!" Kalimat ini mungkin sudah sangat akrab didengar sejak kecil.
Banyak orang tua percaya bahwa terlalu lama menonton televisi atau duduk terlalu dekat dengan layar dapat menyebabkan mata minus, terutama pada anak-anak.
Namun, apakah anggapan tersebut benar menurut ilmu pengetahuan?
Jawabannya adalah tidak sepenuhnya benar. Hingga kini, para ahli kesehatan mata menyatakan bahwa menonton televisi bukan penyebab langsung seseorang mengalami mata minus (miopia).
Meski demikian, kebiasaan menatap layar dalam waktu lama tetap dapat menimbulkan berbagai keluhan pada mata yang tidak boleh diabaikan.
Lantas, apa sebenarnya penyebab mata minus, dan mengapa mata sering terasa lelah setelah terlalu lama menonton televisi?
Apa Itu Mata Minus?
Mata minus atau miopia merupakan gangguan penglihatan yang menyebabkan seseorang kesulitan melihat objek yang berada di kejauhan.
Kondisi ini terjadi karena cahaya yang masuk ke mata tidak difokuskan tepat di retina, melainkan jatuh di depan retina.
Penyebabnya umumnya berkaitan dengan bentuk bola mata yang lebih panjang dari normal atau kelengkungan kornea yang terlalu besar.
Akibatnya, benda yang berada jauh tampak buram, sedangkan objek yang dekat masih dapat terlihat dengan jelas.
Miopia merupakan salah satu gangguan penglihatan paling umum di dunia dan jumlah penderitanya terus meningkat, terutama pada anak-anak dan remaja.
Faktor Utama Penyebab Mata Minus
Para ahli menjelaskan bahwa penyebab mata minus jauh lebih kompleks dibanding sekadar kebiasaan menonton televisi.
1. Faktor Genetik
Riwayat keluarga menjadi salah satu faktor risiko terbesar.
Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki mata minus, anak memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi yang sama.
Genetik memengaruhi bentuk bola mata sehingga risiko miopia meningkat sejak usia dini.
2. Terlalu Lama Melakukan Aktivitas Jarak Dekat
Selain faktor keturunan, kebiasaan melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus pada jarak dekat dalam waktu lama juga dapat mempercepat perkembangan miopia.
Beberapa contohnya meliputi:
- Membaca dalam waktu lama.
- Menggunakan telepon pintar.
- Menatap layar komputer atau laptop.
- Bermain tablet atau gawai lainnya.
- Belajar tanpa jeda dalam waktu yang panjang.
Aktivitas tersebut membuat mata terus bekerja memfokuskan penglihatan pada objek dekat.
3. Kurang Aktivitas di Luar Ruangan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih sering bermain di luar rumah memiliki risiko lebih rendah mengalami perkembangan mata minus.
Paparan cahaya alami dari sinar matahari dipercaya membantu proses pertumbuhan mata sehingga dapat mengurangi risiko miopia.
Karena itu, para ahli menyarankan anak-anak tetap memiliki waktu bermain di luar ruangan setiap hari.
Mengapa Mata Terasa Lelah Setelah Menonton TV?
Walaupun televisi tidak secara langsung menyebabkan mata minus, menonton terlalu lama tetap dapat memicu digital eye strain atau kelelahan mata.
Saat menatap layar dalam waktu lama, frekuensi berkedip biasanya menurun.
Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih cepat kering sehingga muncul berbagai keluhan seperti:
- Mata terasa pegal.
- Mata kering.
- Perih atau panas.
- Pandangan sedikit buram.
- Sulit fokus.
- Sakit kepala.
- Leher dan bahu terasa tegang.
Keluhan tersebut umumnya hanya bersifat sementara dan akan membaik setelah mata diberi kesempatan untuk beristirahat.
Duduk Dekat TV Bukan Penyebab Mata Minus
Masih banyak orang yang percaya bahwa duduk terlalu dekat dengan televisi menjadi penyebab mata minus.
Padahal, menurut para ahli, kondisi tersebut justru sering menjadi gejala, bukan penyebab.
Seseorang yang sudah mengalami mata minus cenderung duduk lebih dekat ke layar agar gambar terlihat lebih jelas.
Artinya, kebiasaan tersebut bisa menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan pemeriksaan mata, bukan bukti bahwa televisi telah menyebabkan gangguan penglihatan.
Jika anak sering mendekat ke layar televisi, papan tulis, atau kesulitan melihat objek yang jauh, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan mata.
Tips Menjaga Kesehatan Mata Saat Menonton TV
Meski televisi bukan penyebab utama mata minus, kebiasaan menonton tetap perlu diatur agar mata tetap nyaman.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Duduk dengan jarak sekitar 2–3 meter dari televisi, menyesuaikan ukuran layar.
- Pastikan ruangan memiliki pencahayaan yang cukup sehingga kontras layar tidak terlalu tinggi.
- Beristirahat setiap 20–30 menit dengan mengalihkan pandangan ke objek yang jauh selama beberapa saat.
- Hindari menonton televisi dalam posisi berbaring terlalu lama.
- Batasi total waktu menatap layar setiap hari, terutama bagi anak-anak.
- Perbanyak aktivitas di luar ruangan agar mata mendapatkan paparan cahaya alami.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi kelelahan mata meskipun tidak secara langsung mencegah mata minus.
Kapan Harus Memeriksakan Mata?
Pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan apabila mulai muncul gejala seperti:
- Sering menyipitkan mata saat melihat jauh.
- Duduk terlalu dekat dengan televisi atau monitor.
- Pandangan kabur ketika melihat papan tulis atau rambu jalan.
- Mata cepat lelah saat membaca.
- Mengalami sakit kepala berulang setelah beraktivitas.
Pemeriksaan oleh dokter spesialis mata atau optometris dapat memastikan apakah keluhan tersebut disebabkan oleh mata minus atau gangguan penglihatan lainnya.
Mitos atau Fakta?
Berdasarkan berbagai penelitian dan penjelasan ilmiah, menonton televisi terlalu lama bukan penyebab langsung mata minus.
Miopia lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetik, kebiasaan melakukan aktivitas jarak dekat dalam waktu lama, serta kurangnya aktivitas di luar ruangan.
Namun demikian, menatap layar televisi terlalu lama tetap tidak disarankan karena dapat menyebabkan mata lelah, mata kering, pandangan kabur sementara, hingga sakit kepala.
Oleh sebab itu, menjaga pola penggunaan layar, memberikan waktu istirahat yang cukup bagi mata, memperbanyak aktivitas di luar ruangan, serta rutin memeriksakan kesehatan mata merupakan langkah terbaik untuk mempertahankan kualitas penglihatan dalam jangka panjang.
Editor : Muhammad Azlan Syah