Hidup Makin Digital, Tapi Benarkah Makin Bahagia? Ini Dampak Digital Lifestyle terhadap Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya

Widodo • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 10:49 WIB
Bangun tidur langsung cek HP, bekerja di depan laptop, lalu tidur setelah scrolling media sosial? Hati-hati, gaya hidup digital yang terasa normal ternyata bisa memicu digital fatigue hingga doomscrolling. (ilustrasi)
Bangun tidur langsung cek HP, bekerja di depan laptop, lalu tidur setelah scrolling media sosial? Hati-hati, gaya hidup digital yang terasa normal ternyata bisa memicu digital fatigue hingga doomscrolling. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Bangun tidur langsung meraih ponsel untuk mengecek notifikasi. Sarapan sambil menonton video pendek.

Bekerja menggunakan laptop, menghadiri rapat secara virtual, berbelanja lewat marketplace, memesan makanan melalui aplikasi, lalu menutup hari dengan menggulir media sosial hingga larut malam.

Jika rutinitas tersebut terasa akrab, Anda tidak sendirian.

Gaya hidup digital atau digital lifestyle kini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat modern. 

Hampir seluruh aktivitas bisa dilakukan hanya melalui layar smartphone atau komputer.

Teknologi memang menghadirkan kemudahan yang luar biasa.

Baca Juga: Prancis Resmi Setujui Larangan Media Sosial untuk Anak di Bawah 15 Tahun, Akun Baru Diblokir Mulai September

Namun, di balik segala kepraktisannya, muncul tantangan baru yang perlahan mulai memengaruhi kesehatan fisik, mental, hingga kualitas hidup banyak orang.

Lantas, apakah hidup yang semakin digital benar-benar membuat manusia lebih bahagia?

Teknologi Mempermudah Aktivitas Sehari-hari

Tidak bisa dimungkiri, perkembangan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan.

Kini masyarakat dapat bekerja dari rumah, mengikuti kelas secara daring, berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi kesehatan, hingga menjalankan bisnis hanya bermodalkan internet.

Pelaku UMKM dapat memasarkan produknya ke seluruh Indonesia bahkan mancanegara.

Pekerja lepas memperoleh klien dari berbagai negara tanpa harus meninggalkan rumah.

Sementara pelajar memiliki akses terhadap jutaan sumber belajar hanya melalui satu perangkat.

Transformasi digital telah membuka peluang yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi yang tidak selalu disadari.

Digital Fatigue, Saat Otak Tidak Pernah Benar-Benar Beristirahat

Salah satu tantangan terbesar di era digital adalah digital fatigue atau kelelahan digital.

Kondisi ini muncul ketika seseorang terlalu lama berinteraksi dengan layar dan menerima informasi secara terus-menerus tanpa jeda.

Akibatnya, mata terasa cepat lelah, leher dan punggung mulai pegal, konsentrasi menurun, hingga muncul rasa jenuh yang sulit dijelaskan.

Notifikasi yang terus berdatangan dari berbagai aplikasi membuat otak seolah dipaksa untuk selalu siaga.

Tanpa disadari, banyak orang kehilangan waktu untuk benar-benar beristirahat dari arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Doomscrolling, Kebiasaan yang Diam-Diam Menguras Mental

Selain digital fatigue, ada fenomena lain yang semakin sering terjadi, yaitu doomscrolling.

Istilah ini menggambarkan kebiasaan menggulir media sosial atau membaca berita negatif secara terus-menerus dalam waktu lama.

Awalnya mungkin hanya ingin mengetahui kabar terbaru. Namun beberapa menit kemudian berubah menjadi satu atau bahkan dua jam tanpa disadari.

Alih-alih merasa lebih tenang, kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan rasa cemas, membuat pikiran dipenuhi informasi negatif, menurunkan fokus, bahkan mengganggu kualitas tidur.

Paparan informasi tanpa henti juga membuat otak sulit "mematikan mode kerja", sehingga tubuh tetap merasa lelah meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

Media Sosial dan Budaya Membandingkan Diri

Media sosial memang mampu menghubungkan orang dari berbagai belahan dunia.

Namun, platform digital juga menghadirkan tekanan psikologis yang sering kali tidak terlihat.

Foto liburan teman, pencapaian karier orang lain, gaya hidup para influencer, hingga standar kecantikan yang terus berubah dapat memicu kebiasaan membandingkan diri sendiri.

Padahal, apa yang tampil di media sosial umumnya merupakan momen terbaik seseorang, bukan keseluruhan cerita kehidupannya.

Ketika terlalu sering membandingkan diri, seseorang bisa merasa kurang berhasil, kurang menarik, atau merasa tertinggal dibanding orang lain.

Perasaan inilah yang secara perlahan dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental.

Digital Lifestyle Tetap Membawa Banyak Manfaat

Meski memiliki tantangan, bukan berarti gaya hidup digital harus dihindari.

Justru teknologi telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Akses pendidikan menjadi lebih luas, pelayanan publik semakin mudah dijangkau, transaksi keuangan berlangsung lebih cepat, sementara pelaku usaha memiliki kesempatan memperluas pasar melalui platform digital.

Kemajuan teknologi juga membuka berbagai profesi baru yang sebelumnya belum pernah ada, mulai dari content creator, digital marketer, UI/UX designer, hingga pengembang kecerdasan buatan.

Artinya, teknologi tetap menjadi alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara tepat.

Cara Menjalani Gaya Hidup Digital yang Lebih Sehat

Kunci utama bukan menjauh dari teknologi, melainkan menciptakan keseimbangan.

Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi dampak negatif penggunaan perangkat digital.

Mulailah dengan menetapkan batas waktu penggunaan gawai setiap hari. Sisihkan satu hingga dua jam tanpa layar sebelum tidur agar kualitas istirahat lebih baik.

Matikan notifikasi yang tidak penting sehingga perhatian tidak terus-menerus terpecah.

Selain itu, tentukan waktu khusus untuk membuka media sosial agar tidak menjadi kebiasaan yang menghabiskan waktu tanpa disadari.

Baca Juga: Apple Akhirnya Perbaiki Bug Hide My Email, Celah Keamanan Ini Sempat Bocorkan Alamat Email Asli Pengguna

Jangan Lupakan Aktivitas di Dunia Nyata

Menjaga keseimbangan juga berarti memberi ruang bagi aktivitas di luar layar.

Berolahraga secara rutin, membaca buku, berjalan santai di taman, menikmati secangkir kopi bersama teman, atau sekadar mengobrol dengan keluarga tanpa memegang ponsel dapat membantu mengisi ulang energi mental.

Interaksi langsung tetap memiliki manfaat yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh komunikasi digital.

Aktivitas fisik juga membantu tubuh lebih rileks sekaligus mengurangi stres akibat paparan layar dalam waktu lama.

Literasi Digital Menjadi Keterampilan Wajib

Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan menggunakan internet secara bijak menjadi semakin penting.

Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.

Kemampuan membedakan fakta dan hoaks menjadi salah satu bentuk literasi digital yang sangat dibutuhkan.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga terus mendorong penguatan literasi digital agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, aman, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan penetrasi internet di Indonesia terus meningkat dan mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga berbelanja.

Di sisi lain, World Health Organization (WHO) mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital, aktivitas fisik, waktu istirahat, dan kesehatan mental sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Baca Juga: Rahasia Rambut Sehat dari Dapur, Ini Manfaat Air Beras yang Diyakini Bantu Mengurangi Rontok dan Membuat Rambut Berkilau

Senada dengan itu, American Psychological Association (APA) menyebut paparan digital yang berlebihan tanpa jeda dapat berkaitan dengan meningkatnya stres, kelelahan mental, dan menurunnya kualitas tidur pada sebagian orang.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah sebuah alat. Ia mampu membuka peluang, meningkatkan produktivitas, memperluas koneksi, dan mempermudah kehidupan.

Namun tanpa pengelolaan yang bijak, teknologi juga dapat menguras waktu, perhatian, bahkan kesehatan mental.

Karena itu, di tengah dunia yang semakin digital, sesekali menekan tombol pause, mengangkat kepala dari layar, dan menikmati kehidupan nyata bisa menjadi investasi sederhana untuk menjaga keseimbangan hidup.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
digital lifestyle digital fatigue Doomscrolling literasi digital kesehatan mental