RADARBONANG.ID – Pemandangan anak muda yang duduk berjam-jam di sebuah coffee shop dengan laptop terbuka dan segelas iced latte di sampingnya sudah menjadi hal yang lumrah.
Namun, tidak sedikit orang yang masih mempertanyakan kebiasaan tersebut.
"Kenapa rela mengeluarkan Rp50 ribu hanya untuk segelas kopi?" menjadi pertanyaan yang kerap muncul, terutama dari generasi yang memiliki pandangan berbeda soal pengelolaan keuangan.
Di balik kebiasaan yang sering dianggap boros itu, ternyata tersimpan alasan yang jauh lebih kompleks.
Bagi banyak anggota Generasi Z, membeli kopi bukan sekadar memenuhi kebutuhan kafein, melainkan menjadi bagian dari cara mereka menjaga kesehatan mental di tengah tekanan hidup yang semakin berat.
Segelas Kopi yang Bernilai Lebih dari Sekadar Minuman
Bagi sebagian orang, kopi hanyalah minuman untuk mengusir rasa kantuk.
Namun bagi Gen Z, secangkir kopi memiliki makna yang lebih luas.
Segelas kopi menjadi "tiket masuk" untuk menikmati suasana yang nyaman, tenang, sekaligus produktif. Mereka tidak hanya membeli minuman, tetapi juga membeli pengalaman.
Ruangan ber-AC, pencahayaan yang hangat, musik yang menenangkan, akses WiFi cepat, hingga meja kerja yang nyaman menjadi paket lengkap yang sulit didapatkan di tempat lain.
Bagi mereka yang tinggal di kos sempit, rumah yang ramai, atau lingkungan yang kurang mendukung untuk bekerja maupun belajar, coffee shop menjadi ruang alternatif yang mampu memberikan ketenangan.
Tak heran jika banyak anak muda merasa lebih fokus mengerjakan tugas, bekerja secara remote, hingga mencari inspirasi ketika berada di kafe.
Tekanan Hidup Gen Z Tidak Sesederhana yang Terlihat
Generasi Z tumbuh di masa yang penuh ketidakpastian.
Harga rumah yang terus meningkat membuat impian memiliki hunian sendiri terasa semakin jauh.
Di sisi lain, persaingan kerja semakin ketat dengan hadirnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah banyak jenis pekerjaan.
Belum lagi biaya hidup yang terus naik, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global, hingga tekanan menjadi bagian dari generasi sandwich yang harus membantu kebutuhan keluarga.
Berbagai tekanan tersebut membuat banyak anak muda merasa sulit melihat masa depan secara optimistis.
Dalam kondisi seperti ini, mereka mulai mencari cara sederhana untuk tetap menjaga semangat menjalani hari.
Fenomena Micro-Treats yang Semakin Populer
Psikolog dan pengamat gaya hidup mengenal istilah micro-treats, yaitu kebiasaan memberikan hadiah kecil kepada diri sendiri sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan sehari-hari.
Hadiah tersebut tidak harus mahal.
Bisa berupa membeli kopi favorit, menikmati makanan penutup, membeli buku baru, atau sekadar duduk santai di tempat yang membuat pikiran lebih rileks.
Di tengah target hidup yang terasa semakin sulit dicapai, kebahagiaan kecil menjadi cara paling realistis untuk menjaga keseimbangan emosi.
Alih-alih terus memikirkan impian besar yang belum tentu bisa diraih dalam waktu dekat, menikmati momen sederhana dianggap mampu membantu mengurangi stres.
Mengapa Coffee Shop Menjadi Ruang Aman?
Fenomena menjamurnya coffee shop bukan hanya karena tren media sosial.
Bagi sebagian Gen Z, tempat tersebut menjadi "safe space" atau ruang aman.
Di sana mereka bisa bekerja tanpa gangguan, membaca buku, berdiskusi bersama teman, bahkan sekadar menikmati waktu sendirian.
Suasana yang nyaman mampu membantu pikiran menjadi lebih tenang setelah menghadapi tekanan pekerjaan, kuliah, maupun aktivitas harian.
Dengan kata lain, uang yang dikeluarkan bukan hanya untuk membeli kopi, tetapi juga untuk "menyewa suasana" yang sulit ditemukan di tempat lain.
Mengenal Doom Spending, Tren Belanja di Tengah Ketidakpastian
Di sisi lain, para ahli juga mengenal istilah doom spending.
Istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang membelanjakan uang karena merasa masa depan penuh ketidakpastian.
Saat seseorang merasa sulit mencapai tujuan finansial besar, mereka lebih memilih menikmati kebahagiaan yang bisa dirasakan hari ini.
Fenomena tersebut banyak ditemukan pada generasi muda yang menghadapi inflasi, biaya hidup tinggi, hingga ketidakpastian pekerjaan.
Meski terdengar negatif, tidak semua bentuk doom spending selalu berdampak buruk.
Jika dilakukan secara terukur dan tetap memperhatikan kondisi keuangan, pengeluaran kecil untuk menjaga kesehatan mental justru dapat memberikan manfaat psikologis.
Psikolog: Self-Care Tetap Penting Asalkan Tidak Berlebihan
Sejumlah psikolog menjelaskan bahwa aktivitas sederhana yang memberikan rasa nyaman dapat membantu menurunkan hormon stres atau kortisol.
Saat seseorang merasa lebih rileks, otak akan menghasilkan dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi.
Karena itu, menikmati secangkir kopi di tempat favorit sesekali bukanlah sesuatu yang harus selalu dipandang sebagai pemborosan.
Selama pengeluaran tersebut masih sesuai kemampuan finansial, kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari self-care yang sehat.
Yang perlu dihindari adalah ketika aktivitas tersebut berubah menjadi pelarian utama hingga mengganggu kondisi keuangan.
Saatnya Berhenti Menghakimi Kebiasaan Gen Z
Selama ini, banyak anggapan bahwa kebiasaan membeli kopi mahal menjadi penyebab anak muda sulit memiliki tabungan atau membeli rumah.
Padahal, persoalan ekonomi saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar harga secangkir kopi.
Menghemat Rp50 ribu setiap hari tentu merupakan langkah baik jika disesuaikan dengan tujuan keuangan.
Namun, penghematan tersebut tidak otomatis menyelesaikan persoalan tingginya harga properti, biaya hidup, maupun tantangan ekonomi lainnya.
Karena itu, melihat fenomena kopi mahal hanya dari sisi pengeluaran sering kali membuat kita kehilangan konteks yang lebih besar.
Bagi banyak Gen Z, secangkir kopi bukan simbol gengsi ataupun gaya hidup semata.
Minuman tersebut menjadi simbol jeda, ruang bernapas, dan cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental agar tetap mampu menghadapi kerasnya tuntutan kehidupan modern.
Pada akhirnya, secangkir kopi mungkin memang tidak bisa membeli masa depan.
Namun bagi sebagian orang, kopi mampu membantu mereka tetap memiliki semangat untuk menjemput masa depan tersebut, satu tegukan demi satu tegukan.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang