Mengapa Terbiasa Hidup Susah Bisa Menjadi Masalah? Simak Perbedaan antara Tangguh dan Pasrah yang Perlu Dipahami

M. Afiqul Adib • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 15:58 WIB
Banyak masyarakat terbiasa menghadapi kesulitan ekonomi. Namun, ketika kesulitan dianggap normal, ada bahaya besar yang mengintai (Photo by Mufid Majnun on Unsplash)
Banyak masyarakat terbiasa menghadapi kesulitan ekonomi. Namun, ketika kesulitan dianggap normal, ada bahaya besar yang mengintai (Photo by Mufid Majnun on Unsplash)

RADARBONAG.ID – Kemampuan bertahan dalam kondisi sulit sering dianggap sebagai salah satu kekuatan masyarakat Indonesia.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, banyak keluarga tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan berhemat, mencari pekerjaan tambahan, membuka usaha kecil, hingga saling membantu melalui solidaritas sosial.

Sikap pantang menyerah tersebut memang patut diapresiasi. Namun, di balik ketangguhan itu, terdapat sisi lain yang perlu mendapat perhatian.

Ketika kesulitan ekonomi berlangsung terlalu lama dan terus dianggap sebagai sesuatu yang wajar, muncul risiko yang tidak kalah besar, yaitu menurunnya harapan untuk hidup lebih baik.

Lalu, mengapa masyarakat yang terbiasa hidup susah justru dapat menghadapi tantangan yang lebih kompleks dalam jangka panjang?

Baca Juga: Kenapa Semakin Dewasa Kita Semakin Selektif Memilih Teman? Ternyata Bukan karena Antisosial, tetapi Prioritas Hidup Berubah

Ketangguhan Membantu Masyarakat Bertahan

Dalam berbagai situasi, mulai dari krisis ekonomi hingga kenaikan biaya hidup, masyarakat sering menunjukkan kemampuan beradaptasi yang luar biasa.

Banyak keluarga menyusun ulang anggaran rumah tangga, mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, atau mencari sumber penghasilan tambahan agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.

Di sejumlah daerah, semangat gotong royong juga menjadi modal sosial yang membantu masyarakat menghadapi masa-masa sulit.

Kemampuan beradaptasi seperti ini merupakan bentuk ketangguhan yang penting karena memungkinkan seseorang tetap bertahan ketika menghadapi tekanan ekonomi.

Namun, ketangguhan seharusnya menjadi langkah untuk bangkit, bukan alasan untuk menganggap kesulitan sebagai kondisi yang harus diterima selamanya.

Saat Kesulitan Mulai Dianggap Sebagai Hal yang Wajar

Bahaya mulai muncul ketika masyarakat terbiasa melihat berbagai persoalan sebagai sesuatu yang normal.

Misalnya, harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, pendapatan yang tidak sebanding dengan biaya hidup, atau akses terhadap layanan publik yang belum merata dianggap sebagai kenyataan yang tidak dapat diubah.

Ketika kondisi seperti ini berlangsung dalam waktu lama, sebagian orang mungkin mulai kehilangan dorongan untuk mempertanyakan penyebabnya atau mencari jalan keluar.

Padahal, kemampuan untuk mengevaluasi dan memperbaiki keadaan merupakan salah satu unsur penting dalam membangun masyarakat yang lebih maju.

Menurunnya Harapan terhadap Kualitas Hidup

Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah menurunnya ekspektasi terhadap kualitas hidup.

Apabila masyarakat terbiasa hidup dalam keterbatasan, standar mengenai kehidupan yang layak dapat ikut berubah.

Sebagian orang mungkin mulai merasa bahwa pendidikan berkualitas hanya untuk kalangan tertentu, layanan kesehatan yang baik sulit dijangkau, atau memiliki rumah sendiri adalah impian yang terlalu tinggi.

Padahal, harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik sering menjadi pendorong bagi individu maupun masyarakat untuk terus belajar, bekerja keras, dan mendorong perubahan.

Ketika harapan tersebut melemah, semangat untuk berkembang pun dapat ikut berkurang.

Tangguh Berbeda dengan Pasrah

Sering kali muncul anggapan bahwa menerima keadaan adalah bentuk ketangguhan.

Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda.

Tangguh berarti mampu bertahan menghadapi tantangan sambil terus mencari solusi dan peluang untuk memperbaiki keadaan.

Sementara itu, pasrah berarti menerima kondisi tanpa adanya upaya untuk melakukan perubahan.

Perbedaan ini sangat penting dipahami.

Seseorang dapat tetap bersyukur atas apa yang dimiliki sekaligus memiliki keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan, peningkatan keterampilan, bekerja lebih produktif, atau mencari peluang usaha baru.

Dengan demikian, ketangguhan tidak berarti berhenti bermimpi atau menyerah pada keadaan.

Pentingnya Tetap Memiliki Sikap Kritis

Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap kritis memiliki peran penting untuk mendorong perbaikan.

Sikap kritis bukan berarti selalu menyalahkan atau memandang segala sesuatu secara negatif.

Sebaliknya, berpikir kritis berarti mampu melihat persoalan secara objektif, memahami penyebabnya, serta mencari solusi yang dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

Masyarakat yang memiliki daya kritis akan lebih aktif memberikan masukan terhadap kebijakan publik, mendukung transparansi, serta ikut berpartisipasi dalam pembangunan di lingkungan sekitarnya.

Melalui cara tersebut, perubahan positif dapat tumbuh secara bertahap.

Solusi Harus Menjadi Fokus Bersama

Bertahan menghadapi kesulitan memang penting, tetapi tidak cukup jika tidak disertai dengan upaya memperbaiki keadaan.

Peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan keterampilan kerja, penguatan ekonomi lokal, serta akses yang lebih luas terhadap layanan kesehatan dan peluang usaha menjadi beberapa langkah yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di sisi lain, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Dengan adanya peluang yang lebih luas, masyarakat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.

Ketangguhan Harus Menjadi Modal untuk Bangkit

Kemampuan masyarakat menghadapi berbagai tantangan ekonomi merupakan kekuatan yang patut dijaga.

Baca Juga: Kenapa Semakin Dewasa Kita Semakin Selektif Memilih Teman? Ternyata Bukan karena Antisosial, tetapi Prioritas Hidup Berubah

Namun, ketangguhan akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila diiringi dengan harapan, semangat belajar, serta keinginan untuk terus memperbaiki keadaan.

Menerima bahwa kehidupan memiliki tantangan bukan berarti harus berhenti mengupayakan perubahan.

Sebaliknya, setiap langkah kecil untuk meningkatkan pendidikan, keterampilan, produktivitas, maupun kualitas pelayanan publik dapat menjadi fondasi bagi kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Pada akhirnya, hidup yang layak bukan sekadar impian, melainkan tujuan yang patut terus diupayakan bersama.

Ketangguhan masyarakat merupakan modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan, tetapi semangat mencari solusi dan menjaga harapan menjadi kunci agar kesulitan tidak terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
kualitas hidup kesejahteraan masyarakat ketangguhan masyarakat daya beli ekonomi masyarakat