Intan Anggita Pratiwie Sulap Limbah Tekstil Ivan Gunawan Jadi Instalasi Seni 'Leuweung Salira', Angkat Pesan Keberlanjutan

Amaliya Syafithri • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 08:16 WIB
Bagaimana jika limbah kain dari industri fashion diubah menjadi karya seni bernilai tinggi? Lewat instalasi Leuweung Salira, Intan Anggita Pratiwie membuktikan bahwa kreativitas mampu menghidupkan kembali sisa tekstil sekaligus menyuarakan pentingnya keberlanjutan dan ekonomi sirkular di industri kreatif. (Sumber: Instagram @ussfeeds)
Bagaimana jika limbah kain dari industri fashion diubah menjadi karya seni bernilai tinggi? Lewat instalasi Leuweung Salira, Intan Anggita Pratiwie membuktikan bahwa kreativitas mampu menghidupkan kembali sisa tekstil sekaligus menyuarakan pentingnya keberlanjutan dan ekonomi sirkular di industri kreatif. (Sumber: Instagram @ussfeeds)

RADARBONAG.ID – Di tengah meningkatnya perhatian terhadap persoalan limbah industri fashion, karya seni kembali menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan pentingnya keberlanjutan.

Salah satu karya yang menarik perhatian publik adalah instalasi bertajuk "Leuweung Salira", hasil kreasi perupa tekstil Intan Anggita Pratiwie.

Instalasi ini tidak hanya memikat lewat keindahan visualnya, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam serta pentingnya mengelola limbah secara kreatif.

Yang membuatnya semakin istimewa, sekitar 70 persen material yang digunakan berasal dari limbah perca kain dan potongan tekstil milik desainer ternama Indonesia, Ivan Gunawan.

Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bahwa sisa material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi karya seni yang sarat makna sekaligus memiliki nilai estetika tinggi.

Baca Juga: Wajib Ditonton Sebelum Spider-Man: Brand New Day, Ini Urutan Film dan Serial Marvel yang Perlu Kamu Tonton

Limbah Tekstil Berubah Menjadi Lanskap Hutan Imajinatif

Melalui Leuweung Salira, Intan Anggita Pratiwie menghadirkan sebuah instalasi yang menyerupai hutan imajiner dengan perpaduan warna, tekstur, dan bentuk yang kaya.

Potongan-potongan kain perca yang semula merupakan limbah produksi busana diolah menjadi elemen artistik yang menyatu membentuk lanskap baru. Setiap potongan kain memiliki karakter yang berbeda, menciptakan komposisi visual yang unik dan tidak dapat ditemukan dalam karya lain.

Judul "Leuweung Salira", yang dalam bahasa Sunda memiliki makna yang berkaitan dengan "hutan dalam diri", memperkuat pesan reflektif mengenai hubungan manusia dengan lingkungan dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Melalui pendekatan tersebut, karya ini mengajak pengunjung untuk melihat limbah bukan sebagai akhir dari sebuah proses produksi, melainkan sebagai awal dari kemungkinan baru.

Menjawab Persoalan Limbah Industri Fashion

Industri fashion menjadi salah satu sektor yang menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar setiap tahunnya.

Sisa potongan kain dari proses produksi sering kali berakhir di tempat pembuangan akhir atau tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Melalui kolaborasi dengan Ivan Gunawan, Intan menunjukkan bahwa material tersebut masih memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi maupun nilai seni.

Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa praktik upcycling atau mengolah kembali limbah menjadi produk bernilai lebih tinggi dapat diterapkan tidak hanya pada produk komersial, tetapi juga dalam dunia seni rupa.

Seni Sebagai Media Edukasi Lingkungan

Lebih dari sekadar karya visual, Leuweung Salira juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Melalui instalasi ini, pengunjung diajak memahami bahwa setiap potongan kain yang tampak sederhana sebenarnya memiliki jejak produksi yang panjang, mulai dari penggunaan bahan baku, energi, hingga sumber daya alam.

Dengan mengolah kembali limbah tekstil, seniman menghadirkan perspektif baru bahwa keberlanjutan dapat diwujudkan melalui kreativitas.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu perubahan iklim, pengurangan sampah, dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Kolaborasi Seni dan Fashion yang Menginspirasi

Kolaborasi antara Intan Anggita Pratiwie dan Ivan Gunawan menunjukkan bahwa dunia seni dan industri fashion dapat saling mendukung dalam menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan.

Limbah yang dihasilkan dari proses kreatif tidak harus berakhir sebagai sampah, melainkan dapat menjadi material baru yang memiliki fungsi berbeda.

Pendekatan seperti ini membuka peluang bagi para pelaku industri kreatif untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari proses berkarya, bukan sekadar tren sesaat.

Ekonomi Sirkular Semakin Relevan di Industri Kreatif

Kehadiran Leuweung Salira juga memperkuat pentingnya penerapan konsep ekonomi sirkular dalam industri kreatif.

Berbeda dengan sistem linear yang berakhir pada pembuangan limbah, ekonomi sirkular mendorong penggunaan kembali material agar memiliki siklus hidup yang lebih panjang.

Melalui konsep tersebut, limbah tekstil dapat diubah menjadi karya seni, aksesori, produk dekorasi, maupun berbagai produk kreatif lainnya sehingga mengurangi jumlah sampah yang berakhir di lingkungan.

Prinsip ini kini semakin banyak diterapkan oleh pelaku industri di berbagai negara sebagai salah satu langkah mendukung pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Mendapat Sambutan Positif dari Berbagai Kalangan

Instalasi Leuweung Salira mendapat apresiasi dari berbagai pihak, mulai dari pencinta seni, pelaku industri mode, hingga pemerhati lingkungan.

Banyak yang menilai karya ini berhasil memadukan unsur estetika dengan pesan sosial dan ekologis yang kuat.

Keindahan visual yang ditampilkan mampu menarik perhatian pengunjung, sementara cerita di balik material yang digunakan mendorong diskusi mengenai pentingnya mengurangi limbah dan memanfaatkan kembali sumber daya yang masih layak digunakan.

Karya ini membuktikan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengajak masyarakat berpikir lebih kritis terhadap berbagai persoalan lingkungan.

Baca Juga: Presiden UEFA Aleksander Čeferin Dikabarkan Boikot Final Piala Dunia 2026, Polemik Folarin Balogun Picu Ketegangan dengan FIFA

Kreativitas yang Menginspirasi Masa Depan Berkelanjutan

Melalui Leuweung Salira, Intan Anggita Pratiwie memperlihatkan bahwa kreativitas memiliki peran besar dalam menjawab tantangan lingkungan.

Limbah tekstil yang sebelumnya dianggap tidak berguna berhasil diubah menjadi karya yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak masyarakat melihat pentingnya keberlanjutan dari sudut pandang yang berbeda.

Kolaborasi ini menjadi inspirasi bahwa masa depan industri kreatif tidak hanya ditentukan oleh inovasi desain, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan sumber daya secara lebih bijaksana demi menjaga kelestarian lingkungan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : instagram.com/ussfeeds
Leuweung Salira Intan Anggita Pratiwie limbah tekstil seni berkelanjutan ivan gunawan