Peluang Bisnis Thrift Masih Terbuka Lebar, Begini Cara Gen Z Mengubah Baju Bekas Jadi Fashion Bernilai Tinggi

Siska Yudianti • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 07:56 WIB
Di tengah maraknya brand fashion baru, bisnis thrift ternyata belum kehilangan pesonanya. Gen Z kini melihat pakaian thrift sebagai gaya hidup, bukan sekadar baju bekas. Dengan strategi yang tepat, peluang usaha ini masih mampu menghasilkan omzet yang menjanjikan di era digital. (ilustrasi)
Di tengah maraknya brand fashion baru, bisnis thrift ternyata belum kehilangan pesonanya. Gen Z kini melihat pakaian thrift sebagai gaya hidup, bukan sekadar baju bekas. Dengan strategi yang tepat, peluang usaha ini masih mampu menghasilkan omzet yang menjanjikan di era digital. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Di tengah menjamurnya brand fashion lokal, maraknya produk fast fashion, hingga kemudahan berbelanja melalui e-commerce, bisnis pakaian thrift ternyata masih mampu bertahan bahkan terus berkembang.

Bagi sebagian orang, tren ini mungkin dianggap mulai meredup.

Namun faktanya, minat masyarakat, terutama kalangan Generasi Z, terhadap pakaian thrift masih sangat tinggi.

Kini, membeli pakaian thrift bukan lagi sekadar mencari barang murah.

Aktivitas ini telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup, bentuk ekspresi diri, hingga pilihan berbelanja yang lebih ramah lingkungan. 

Tak heran jika banyak pelaku usaha thrift masih mampu mencatat omzet jutaan bahkan puluhan juta rupiah setiap bulan.

Baca Juga: Manchester United Tegas Tolak Ketertarikan Newcastle United pada Amad Diallo, Winger Andalan Dipastikan Tak Dijual

Lantas, apa yang membuat bisnis ini tetap menarik di tengah persaingan industri fashion yang semakin ketat?

Gen Z Melihat Thrift sebagai Fashion, Bukan Sekadar Pakaian Bekas

Pandangan masyarakat terhadap pakaian thrift telah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir.

Jika dahulu baju bekas identik dengan barang yang kurang menarik, kini banyak anak muda justru menganggap thrift sebagai cara mendapatkan pakaian yang unik dan berbeda dari produk yang dijual di pusat perbelanjaan.

Salah satu daya tarik utamanya adalah kesempatan memperoleh produk dari merek terkenal dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Selain itu, banyak pakaian thrift memiliki desain vintage atau koleksi lama yang sudah tidak diproduksi lagi.

Kondisi tersebut membuat setiap item terasa lebih eksklusif karena kecil kemungkinan ditemukan pada orang lain.

Tidak mengherankan jika pembukaan bal pakaian baru atau sesi live shopping sering dipadati pembeli yang ingin mendapatkan produk terbaik sebelum kehabisan.

Harga Terjangkau Menjadi Daya Tarik Utama

Di tengah kondisi ekonomi yang membuat masyarakat semakin selektif dalam mengatur pengeluaran, thrift menjadi alternatif belanja yang menarik.

Dengan modal puluhan ribu rupiah, konsumen berpeluang mendapatkan jaket, hoodie, kemeja, celana denim, hingga pakaian bermerek yang jika dibeli dalam kondisi baru harganya bisa berkali-kali lipat.

Bagi Gen Z yang ingin tampil modis tanpa menguras dompet, konsep ini menjadi solusi yang sulit ditolak.

Nilai ekonomis inilah yang membuat pasar thrift tetap bertahan meski pilihan fashion semakin beragam.

Tren Sustainable Fashion Ikut Mendorong Popularitas Thrift

Selain faktor harga, meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan juga menjadi alasan bisnis thrift terus berkembang.

Saat ini semakin banyak anak muda yang mendukung konsep sustainable fashion, yaitu kebiasaan menggunakan kembali pakaian yang masih layak pakai untuk mengurangi limbah tekstil.

Industri fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia.

Dengan membeli pakaian thrift, konsumen merasa ikut berkontribusi memperpanjang usia pakai sebuah produk sekaligus mengurangi kebutuhan produksi pakaian baru.

Karena itu, membeli pakaian bekas kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan karena keterbatasan ekonomi, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Media Sosial Mengubah Cara Bisnis Thrift Berkembang

Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorong pertumbuhan bisnis thrift dalam beberapa tahun terakhir.

Platform seperti TikTok, Instagram, hingga fitur live shopping memungkinkan penjual memamerkan produk secara langsung kepada calon pembeli.

Konten berupa proses membuka bal pakaian, rekomendasi outfit, tips mix and match, hingga sesi rebutan produk berhasil menciptakan pengalaman belanja yang lebih menarik.

Tidak sedikit toko thrift yang berhasil membangun komunitas pelanggan setia hanya melalui konten kreatif dan interaksi rutin di media sosial.

Strategi pemasaran digital tersebut membuat pelaku usaha dapat menjangkau konsumen dari berbagai daerah tanpa harus membuka banyak toko fisik.

Persaingan Semakin Ketat, Tetapi Peluang Masih Terbuka

Meningkatnya popularitas thrift memang membuat jumlah penjual ikut bertambah.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti peluang bisnisnya telah habis.

Saat ini konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga.

Mereka juga memperhatikan kualitas barang, kebersihan pakaian, keaslian merek, pelayanan, hingga pengalaman berbelanja.

Pelaku usaha yang mampu melakukan kurasi produk dengan baik, menyajikan foto berkualitas, memberikan deskripsi yang jujur, serta melayani pembeli secara cepat memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan.

Nilai tambah seperti mencuci, menyetrika, memperbaiki kerusakan kecil, hingga mengemas produk secara menarik juga dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Storytelling Menjadi Senjata Baru Penjual Thrift

Di era digital, menjual produk saja sering kali tidak cukup.

Konsumen kini lebih tertarik pada cerita yang melekat di balik sebuah barang.

Misalnya, jaket vintage akan terasa lebih bernilai ketika penjual menjelaskan karakter desainnya, inspirasi gaya berpakaian yang cocok, hingga sejarah singkat tren fashion dari era tertentu.

Strategi storytelling seperti ini mampu meningkatkan daya tarik produk sekaligus membangun citra toko yang lebih profesional.

Tidak sedikit pembeli akhirnya memilih sebuah produk bukan semata karena murah, tetapi karena merasa memiliki hubungan emosional dengan cerita yang disampaikan.

Masih Layak Dijadikan Peluang Usaha?

Jawabannya adalah masih sangat layak, terutama bagi pelaku usaha yang mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar.

Permintaan terhadap pakaian unik, berkualitas, dan terjangkau masih terus ada. Namun, strategi bisnis thrift kini tidak bisa lagi mengandalkan harga murah semata.

Baca Juga: Satu Swipe Bisa Mengubah Mood, Begini Cara FYP TikTok dan Instagram Diam-diam Memengaruhi Perasaan Menurut Psikologi

Pelaku usaha perlu membangun identitas merek, aktif di media sosial, memahami tren fashion yang sedang berkembang, serta memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan.

Dengan pendekatan tersebut, bisnis thrift tidak lagi dipandang sebagai usaha menjual pakaian bekas, melainkan sebagai bagian dari industri fashion modern yang menggabungkan kreativitas, keberlanjutan, dan peluang ekonomi.

Bagi siapa pun yang ingin memulai usaha dengan modal yang relatif terjangkau, bisnis thrift masih menjadi salah satu peluang yang patut dipertimbangkan.

Di tangan yang tepat, selembar pakaian bekas bisa berubah menjadi produk bernilai tinggi sekaligus sumber penghasilan yang menjanjikan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
bisnis thrift peluang bisnis thrift bisnis baju thrift 2026 thrift Gen Z usaha fashion modal kecil