Mengapa Lagu yang Awalnya Biasa Saja Lama-lama Jadi Favorit? Ini Penjelasan Psikologi Mere Exposure Effect

Widodo • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:17 WIB
Pernah tiba-tiba menyukai lagu, produk, atau tren yang awalnya terasa biasa saja? Bisa jadi itu bukan kebetulan. Psikologi mengenalnya sebagai mere exposure effect, yaitu kecenderungan otak menyukai sesuatu hanya karena sering melihatnya. (ilustrasi)
Pernah tiba-tiba menyukai lagu, produk, atau tren yang awalnya terasa biasa saja? Bisa jadi itu bukan kebetulan. Psikologi mengenalnya sebagai mere exposure effect, yaitu kecenderungan otak menyukai sesuatu hanya karena sering melihatnya. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Pernah merasa sebuah lagu awalnya terdengar biasa saja, tetapi setelah berkali-kali muncul di TikTok atau Instagram Reels, tiba-tiba menjadi favorit dan terus terngiang di kepala? Atau tanpa sadar memilih sebuah merek minuman, pakaian, atau makanan hanya karena namanya sering muncul di media sosial?

Jika pernah mengalaminya, kemungkinan besar Anda sedang merasakan efek dari sebuah fenomena psikologi yang dikenal sebagai mere exposure effect.

Konsep ini menjelaskan bahwa manusia cenderung menyukai sesuatu bukan semata karena kualitasnya, melainkan karena sering terpapar atau melihatnya berulang kali.

Efek ini bekerja begitu halus hingga banyak orang tidak menyadari bahwa preferensi mereka sebenarnya sedang dipengaruhi oleh cara kerja otak.

Di era media sosial yang dipenuhi algoritma, mere exposure effect bahkan menjadi semakin kuat dan hadir hampir setiap hari dalam kehidupan kita.

Baca Juga: Banyak Orang Masih Keliru, Begini Cara Membedakan Batik Tulis, Batik Cap, dan Batik Printing dengan Mudah

Mengapa Sesuatu yang Sering Dilihat Terasa Lebih Menarik?

Fenomena mere exposure effect pertama kali diperkenalkan oleh psikolog sosial Robert B. Zajonc pada tahun 1968.

Melalui berbagai penelitian, Zajonc menemukan bahwa seseorang akan cenderung memiliki penilaian yang lebih positif terhadap suatu objek hanya karena telah melihatnya berulang kali. Menariknya, perubahan rasa suka ini bisa terjadi meskipun orang tersebut tidak mendapatkan informasi baru mengenai objek tersebut.

Secara sederhana, otak manusia menyukai hal-hal yang terasa familier.

Ketika sesuatu terus muncul di hadapan kita, otak menganggapnya lebih aman, lebih mudah dikenali, dan lebih nyaman untuk diterima. Itulah sebabnya lagu yang awalnya terasa biasa bisa berubah menjadi lagu favorit setelah beberapa kali terdengar.

Fenomena yang sama juga terjadi pada berbagai tren yang setiap hari memenuhi lini masa media sosial.

Algoritma Media Sosial Membuat Efek Ini Semakin Kuat

Di masa lalu, seseorang mungkin hanya melihat iklan produk beberapa kali dalam sehari melalui televisi atau koran.

Kini, algoritma media sosial mampu menghadirkan konten yang sama berkali-kali dalam hitungan jam.

TikTok, Instagram, YouTube, hingga Facebook mempelajari perilaku pengguna berdasarkan video yang ditonton, konten yang disukai, dikomentari, atau dibagikan.

Semakin sering seseorang berinteraksi dengan suatu jenis konten, semakin besar peluang algoritma menampilkan konten serupa.

Akibatnya, pengguna terus-menerus terpapar lagu yang sama, merek yang sama, gaya berpakaian yang sama, bahkan topik pembicaraan yang sama.

Lama-kelamaan, semua itu terasa akrab. Dan ketika sesuatu sudah terasa akrab, peluang untuk menyukainya pun meningkat.

Bukan karena kualitasnya selalu lebih baik daripada pilihan lain, tetapi karena otak telah menganggapnya sebagai sesuatu yang familier.

Mengapa Banyak Merek Terus Beriklan Berulang Kali?

Fenomena ini juga menjadi salah satu alasan mengapa perusahaan rela menginvestasikan anggaran besar untuk beriklan secara berulang.

Tujuan utama iklan tidak selalu membuat konsumen langsung membeli produk saat itu juga. Yang lebih penting adalah menanamkan nama merek di dalam ingatan.

Ketika suatu hari konsumen harus memilih di antara banyak produk serupa, otak cenderung lebih cepat mengingat nama yang paling sering dilihat.

Perasaan "sepertinya saya pernah melihat merek ini" sering kali menjadi faktor yang mendorong seseorang mengambil keputusan pembelian, meskipun belum pernah mencoba produknya sebelumnya.

Inilah mengapa strategi pengulangan menjadi salah satu teknik pemasaran yang paling efektif hingga sekarang.

Tidak Hanya Produk, Hubungan Sosial Juga Dipengaruhi

Mere exposure effect ternyata tidak hanya berlaku pada dunia pemasaran.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang biasanya merasa lebih dekat dengan teman sekelas, rekan kerja, tetangga, atau orang yang sering ditemui dibandingkan orang yang jarang berinteraksi.

Padahal, kedekatan tersebut tidak selalu dibangun melalui percakapan yang panjang.

Sering bertemu, saling melihat, atau berada di lingkungan yang sama secara rutin sudah cukup membuat otak membangun rasa akrab.

Inilah salah satu alasan mengapa hubungan sosial sering berkembang secara alami ketika dua orang berada dalam lingkungan yang sama dalam waktu yang lama.

Efek Ini Tetap Memiliki Batas

Meski mampu meningkatkan rasa suka, mere exposure effect tidak bekerja tanpa batas.

Paparan yang terlalu sering justru dapat memunculkan kejenuhan atau kebosanan.

Dalam dunia pemasaran, kondisi ini dikenal sebagai advertising wear-out, yaitu ketika audiens mulai merasa terganggu karena melihat iklan yang sama berulang kali.

Hal serupa juga bisa terjadi pada lagu, konten media sosial, hingga tren yang terlalu sering muncul. Sesuatu yang awalnya menarik dapat kehilangan daya tariknya jika terus dipaksakan tanpa variasi.

Karena itu, keseimbangan antara rasa akrab dan pengalaman baru tetap menjadi faktor penting agar ketertarikan dapat bertahan.

Menjadi Pengguna Media Sosial yang Lebih Sadar

Memahami cara kerja mere exposure effect bukan berarti kita harus mencurigai semua iklan atau tren yang sedang viral.

Sebaliknya, pengetahuan ini membantu kita mengambil keputusan dengan lebih sadar.

Ketika tiba-tiba ingin membeli produk yang sedang ramai dibicarakan atau merasa sebuah lagu menjadi sangat enak didengar, tidak ada salahnya berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri.

Baca Juga: Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini Cara Membuat Anggaran Keuangan yang Realistis agar Tabungan Terus Bertambah

Apakah saya benar-benar menyukai hal ini karena kualitasnya? Atau karena saya sudah terlalu sering melihatnya?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita membedakan antara preferensi yang muncul secara alami dan ketertarikan yang terbentuk akibat paparan berulang.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kesadaran seperti ini menjadi semakin penting. 

Sebab setiap klik, setiap swipe, dan setiap video yang terus muncul di layar bukan hanya membentuk kebiasaan, tetapi juga perlahan memengaruhi cara kita merasa, memilih, dan mengambil keputusan.

Jadi, jika suatu hari Anda tiba-tiba menyukai lagu yang sebelumnya terasa biasa saja karena terus muncul di FYP, mungkin jawabannya bukan karena lagunya berubah.

Bisa jadi, otak Anda sedang menjalankan salah satu mekanisme psikologi yang paling sederhana, tetapi juga paling kuat: mere exposure effect.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
mere exposure effect psikologi mere exposure effect efek algoritma media sosial psikologi perilaku konsumen mengapa kita mudah menyukai sesuatu\