Satu Swipe Bisa Mengubah Mood, Begini Cara FYP TikTok dan Instagram Diam-diam Memengaruhi Perasaan Menurut Psikologi

Widodo • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:07 WIB
Pernah merasa tiba-tiba sedih, cemas, atau justru lebih semangat setelah scrolling TikTok? Ternyata FYP bukan sekadar hiburan. Algoritma media sosial bisa ikut membentuk emosi dan cara berpikir kita tanpa disadari. (later.com)
Pernah merasa tiba-tiba sedih, cemas, atau justru lebih semangat setelah scrolling TikTok? Ternyata FYP bukan sekadar hiburan. Algoritma media sosial bisa ikut membentuk emosi dan cara berpikir kita tanpa disadari. (later.com)

RADARBONAG.ID – Pernah berniat membuka TikTok atau Instagram hanya sebentar, tetapi setelah menutup aplikasi justru merasa suasana hati berubah? Awalnya ingin mencari hiburan selama lima menit, namun berakhir dengan perasaan lebih bahagia, lebih cemas, bahkan lebih sedih tanpa alasan yang jelas.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar sugesti. Di balik layar ponsel, ada sistem algoritma yang bekerja sangat cermat membaca kebiasaan pengguna.

Bersamaan dengan cara kerja otak manusia, algoritma tersebut dapat memengaruhi jenis emosi yang muncul setelah kita menghabiskan waktu berselancar di media sosial.

Tak heran jika kini banyak ahli menyebut bahwa For You Page (FYP) bukan lagi sekadar kumpulan video hiburan, melainkan ruang digital yang ikut membentuk suasana hati, cara berpikir, hingga perspektif seseorang terhadap dunia.

Algoritma FYP Tidak Pernah Memilih Konten Secara Acak

Banyak orang mengira video yang muncul di FYP adalah hasil keberuntungan atau kebetulan.

Baca Juga: Cara Download Affinity Gratis di Windows dan Mac, Software Desain Profesional Kini Bisa Dipakai Tanpa Biaya

Padahal, setiap konten yang tampil merupakan hasil analisis algoritma terhadap aktivitas pengguna.

Platform seperti TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts mempelajari hampir seluruh interaksi pengguna.

Mulai dari video yang ditonton sampai selesai, konten yang diberi tanda suka, dikomentari, dibagikan, disimpan, hingga video yang diputar berulang kali.

Semua aktivitas tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa pengguna menyukai topik tertentu.

Semakin sering seseorang berinteraksi dengan jenis konten yang sama, semakin besar kemungkinan algoritma akan menghadirkan konten serupa.

Dengan kata lain, FYP perlahan belajar mengenali kebiasaan digital kita setiap hari.

Saat Emosi Mulai Dibentuk oleh Konten yang Terus Berulang

Di dunia psikologi digital, terdapat istilah echo chamber atau ruang gema. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terus-menerus menerima informasi yang memiliki tema, sudut pandang, atau nuansa emosi yang sama.

Misalnya, ketika seseorang sedang merasa kecewa karena masalah hubungan.

Ia kemudian menonton beberapa video bertema patah hati hingga selesai.

Algoritma membaca perilaku tersebut sebagai bentuk ketertarikan.

Dalam waktu singkat, FYP mulai dipenuhi lagu-lagu melankolis, kutipan galau, cerita putus cinta, hingga kisah perselingkuhan.

Akibatnya, emosi yang awalnya mungkin hanya rasa sedih ringan dapat terasa semakin kuat karena terus diperkuat oleh paparan konten yang serupa.

Sebaliknya, pengguna yang lebih sering menikmati video olahraga, motivasi, edukasi, atau komedi cenderung memperoleh rekomendasi yang mampu membangun suasana hati lebih positif dan meningkatkan semangat.

Mengapa Konten Emosional Lebih Mudah Viral?

Salah satu alasan mengapa media sosial terasa begitu "mengerti" perasaan pengguna adalah karena algoritma dirancang untuk meningkatkan engagement, bukan menjaga kondisi emosional seseorang.

Menurut American Psychological Association (APA), penggunaan media sosial secara intens dapat memengaruhi kesehatan emosional, terutama ketika seseorang tidak menyadari pola konsumsi konten yang ia lihat setiap hari.

Sementara itu, para peneliti dari Center for Humane Technology menjelaskan bahwa banyak platform digital memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Konten yang memicu emosi—baik rasa senang, marah, sedih, maupun penasaran—umumnya membuat seseorang bertahan lebih lama di dalam aplikasi.

Semakin lama waktu yang dihabiskan pengguna, semakin tinggi pula peluang mereka berinteraksi dengan lebih banyak konten dan iklan.

Artinya, algoritma sebenarnya tidak memiliki tujuan membuat seseorang bahagia atau sedih. Sistem hanya berusaha menyajikan konten yang paling mungkin membuat pengguna tetap menggulir layar.

Mengapa Kita Sering Tidak Menyadari Perubahan Mood?

Perubahan suasana hati akibat media sosial sering terjadi secara perlahan.

Seseorang mungkin merasa hanya menonton video lucu, kemudian berganti ke berita kriminal, lalu berpindah ke kisah patah hati, konflik rumah tangga, hingga isu-isu yang memicu kecemasan.

Perpindahan emosi tersebut berlangsung begitu cepat sehingga otak tidak memiliki cukup waktu untuk memproses setiap informasi secara utuh.

Tanpa disadari, setelah menutup aplikasi, seseorang bisa merasa lelah secara mental, lebih sensitif, atau kehilangan semangat, meski sebelumnya berada dalam kondisi yang baik.

Fenomena ini semakin sering terjadi karena sebagian besar pengguna mengakses media sosial berkali-kali dalam sehari, bahkan sejak bangun tidur hingga menjelang tidur malam.

Cara Menjaga "Pola Makan Digital" agar Pikiran Tetap Sehat

Para ahli kini mulai mengibaratkan konsumsi konten digital seperti pola makan sehari-hari.

Jika tubuh membutuhkan makanan bergizi, maka pikiran juga memerlukan asupan informasi yang sehat, beragam, dan tidak terus-menerus dipenuhi konten yang memicu emosi negatif.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain membersihkan riwayat tontonan secara berkala, mengikuti akun yang memberikan edukasi atau inspirasi, membatasi waktu bermain media sosial, serta menggunakan fitur "Not Interested" untuk mengurangi rekomendasi konten yang menguras emosi.

Selain itu, meluangkan waktu tanpa media sosial atau melakukan aktivitas di dunia nyata seperti berolahraga, membaca buku, atau berbincang langsung dengan keluarga juga dapat membantu menjaga keseimbangan kesehatan mental.

Baca Juga: Sering Dapat Link Asing di WhatsApp atau SMS? Begini Cara Mengenali Pesan Penipuan Sebelum Terlambat

Jangan Biarkan Algoritma Lebih Mengenal Diri Kita

Kemajuan teknologi membuat algoritma semakin pintar mempelajari kebiasaan setiap pengguna.

Namun, di balik kemudahan menemukan konten yang disukai, ada tanggung jawab yang tetap berada di tangan kita, yakni memilih apa yang layak dikonsumsi setiap hari.

Pada akhirnya, satu kali menggeser layar memang terlihat sederhana. Tetapi jika dilakukan berulang kali tanpa kesadaran, satu swipe dapat memengaruhi cara kita memandang kehidupan, orang lain, bahkan diri sendiri.

FYP boleh saja memahami apa yang kita sukai. Namun jangan sampai algoritma lebih mengenal emosi kita daripada diri kita sendiri.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
algoritma FYP FYP TikTok psikologi media sosial efek media sosial terhadap mental echo chamber