Tren Berkebun di Rumah Masih Bertahan atau Sudah Mulai Ditinggalkan? Ternyata Banyak Orang Kini Menjadikannya Gaya Hidup

M. Afiqul Adib • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 10:56 WIB
manfaat berkebun, tantangan mempertahankan hobi, berkebun sebagai gaya hidup, serta peluang ekonomi dari urban farming. (Photo by ThisisEngineering on Unsplash)
manfaat berkebun, tantangan mempertahankan hobi, berkebun sebagai gaya hidup, serta peluang ekonomi dari urban farming. (Photo by ThisisEngineering on Unsplash)

RADARBONANG.ID – Beberapa tahun lalu, media sosial dipenuhi foto tanaman hias, rak hidroponik, hingga kebun sayur mini di halaman rumah.

Saat pandemi COVID-19 melanda, berkebun menjadi salah satu hobi yang paling digemari masyarakat.

Aktivitas sederhana ini bukan hanya mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga kesehatan mental di tengah pembatasan aktivitas.

Kini, setelah kehidupan kembali berjalan normal, muncul pertanyaan baru.

Apakah tren berkebun di rumah masih bertahan, atau justru mulai ditinggalkan karena kesibukan sehari-hari?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana ya atau tidak.

Meski euforianya sudah tidak sebesar masa pandemi, berkebun tetap memiliki tempat tersendiri di hati banyak orang. 

Baca Juga: Kenapa Harga Cabai, Beras hingga Tiket Bioskop Terus Naik? Ini Penjelasan Inflasi yang Mudah Dipahami Semua Orang

Bahkan, bagi sebagian masyarakat, aktivitas ini telah berkembang dari sekadar hobi menjadi bagian dari gaya hidup sehat.

Berkebun Melejit Saat Pandemi

Pandemi menjadi titik balik bagi meningkatnya minat masyarakat terhadap kegiatan berkebun.

Ketika sebagian besar aktivitas dilakukan dari rumah, banyak orang mencari kegiatan yang dapat mengurangi kejenuhan sekaligus memberikan manfaat positif.

Berkebun menjadi salah satu pilihan favorit.

Mulai dari merawat tanaman hias, menanam cabai, tomat, hingga mengembangkan sistem hidroponik sederhana, semuanya sempat menjadi tren yang ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.

Tidak sedikit orang yang membagikan perkembangan tanaman mereka setiap hari.

Bahkan, beberapa jenis tanaman hias pernah mengalami lonjakan harga karena tingginya permintaan pasar.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa berkebun bukan sekadar aktivitas mengisi waktu, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat pada masa itu.

Masih Bertahan, Meski Tidak Lagi Seviral Dulu

Memasuki era pascapandemi, aktivitas masyarakat mulai kembali normal.

Kesibukan bekerja, sekolah, dan berbagai aktivitas di luar rumah membuat waktu luang semakin terbatas.

Akibatnya, tren berkebun memang tidak lagi seramai beberapa tahun lalu.

Namun, bukan berarti hobi ini menghilang.

Banyak orang yang awalnya mencoba berkebun karena bosan selama pandemi justru menemukan kesenangan baru dan terus melanjutkannya hingga sekarang.

Komunitas pecinta tanaman masih aktif mengadakan berbagai kegiatan, mulai dari pameran tanaman, berbagi bibit, hingga edukasi mengenai teknik bercocok tanam yang lebih efektif.

Hal ini menunjukkan bahwa berkebun telah berkembang menjadi kebiasaan yang lebih berkelanjutan.

Berkebun Memberikan Banyak Manfaat

Salah satu alasan mengapa berkebun tetap diminati adalah karena manfaatnya yang cukup beragam.

Dari sisi kesehatan mental, merawat tanaman dapat memberikan efek menenangkan.

Melihat tanaman tumbuh sedikit demi sedikit mampu menghadirkan rasa puas sekaligus membantu mengurangi stres akibat rutinitas yang padat.

Selain itu, aktivitas seperti menyiram tanaman, menggemburkan tanah, atau memangkas daun juga termasuk bentuk aktivitas fisik ringan yang baik bagi tubuh.

Meski tidak seintens olahraga, kegiatan tersebut membantu tubuh tetap bergerak setiap hari.

Tak kalah penting, berkebun juga mengajarkan kesabaran, ketelatenan, dan rasa tanggung jawab karena tanaman membutuhkan perawatan secara rutin.

Bisa Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga

Selain memberikan manfaat bagi kesehatan, berkebun juga memiliki nilai ekonomis.

Banyak keluarga mulai menanam berbagai jenis sayuran seperti cabai, tomat, bayam, kangkung, hingga daun bawang untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

Meski hasilnya mungkin belum sepenuhnya mencukupi, keberadaan kebun kecil di rumah tetap mampu membantu mengurangi pengeluaran.

Di tengah harga bahan pangan yang sering berfluktuasi, memiliki tanaman produktif sendiri menjadi keuntungan tersendiri.

Selain lebih hemat, masyarakat juga dapat memastikan kualitas hasil panen karena mengetahui secara langsung proses penanamannya.

Tantangan Menjaga Konsistensi Berkebun

Di balik berbagai manfaatnya, berkebun tetap memiliki tantangan.

Kesibukan menjadi alasan paling umum mengapa sebagian orang mulai meninggalkan hobi ini.

Tanaman memerlukan perhatian secara rutin, mulai dari penyiraman, pemupukan, hingga pengendalian hama.

Jika terlalu lama diabaikan, tanaman dapat layu bahkan mati.

Selain itu, keterbatasan lahan juga menjadi kendala, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan dengan rumah berukuran kecil.

Kurangnya pengetahuan mengenai teknik bercocok tanam juga membuat sebagian pemula mudah menyerah ketika tanaman tidak tumbuh sesuai harapan.

Urban Farming Semakin Diminati

Meski lahan terbatas, perkembangan konsep urban farming membuka peluang baru bagi masyarakat perkotaan.

Kini, berkebun tidak selalu membutuhkan halaman yang luas.

Banyak orang memanfaatkan balkon apartemen, teras rumah, pagar, bahkan dinding dengan sistem vertical garden untuk menanam berbagai jenis tanaman.

Teknologi hidroponik dan aquaponik juga semakin populer karena memungkinkan budidaya tanaman menggunakan ruang yang lebih efisien.

Dengan cara tersebut, masyarakat tetap dapat menikmati manfaat berkebun meski tinggal di lingkungan perkotaan.

Dari Hobi Menjadi Peluang Bisnis

Menariknya, berkebun kini tidak hanya menjadi aktivitas rekreasi.

Banyak orang berhasil mengembangkan hobinya menjadi sumber penghasilan tambahan.

Ada yang menjual tanaman hias, bibit sayuran, pupuk organik, hingga berbagai perlengkapan berkebun.

Sebagian lainnya memasarkan hasil panen berupa sayuran organik atau tanaman herbal kepada tetangga maupun melalui platform digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa berkebun memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan apabila dikelola secara serius.

Selain meningkatkan pendapatan, aktivitas tersebut juga mendukung ketahanan pangan lokal, terutama di kawasan perkotaan.

Berkebun Kini Menjadi Bagian dari Gaya Hidup Berkelanjutan

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, berkebun semakin dipandang sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.

Menanam pohon atau tanaman di rumah membantu menciptakan lingkungan yang lebih hijau sekaligus meningkatkan kualitas udara di sekitar tempat tinggal.

Baca Juga: Kenapa Rumah Minimalis Masih Jadi Favorit Banyak Orang? Ternyata Bukan Sekadar Soal Desain, tapi Juga Lebih Hemat dan Fungsional

Selain itu, kegiatan berkebun juga mendorong masyarakat lebih menghargai proses produksi pangan serta mengurangi ketergantungan terhadap produk yang harus dikirim dari lokasi yang jauh.

Dengan demikian, berkebun tidak lagi sekadar mengikuti tren yang sempat viral, tetapi menjadi salah satu bentuk kontribusi sederhana terhadap pelestarian lingkungan.

Pada akhirnya, meski popularitasnya tidak lagi seheboh saat pandemi, berkebun di rumah terbukti masih memiliki banyak peminat.

Aktivitas ini menawarkan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, membantu menghemat pengeluaran, membuka peluang usaha, sekaligus mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. 

Di tengah kesibukan modern, meluangkan sedikit waktu untuk merawat tanaman bisa menjadi investasi kecil yang memberikan manfaat besar bagi kualitas hidup di masa depan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
hobi berkebun berkebun di rumah urban farming gaya hidup sehat tanaman hias