Mengenal Revenge Bedtime Procrastination, Kebiasaan Begadang demi Punya Waktu untuk Diri Sendiri yang Diam-Diam Berdampak pada Kesehatan

M. Afiqul Adib • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 10:35 WIB
Revenge bedtime procrastination adalah kebiasaan menunda tidur demi mendapatkan waktu pribadi. (Photo by Vladislav Muslakov on Unsplash)
Revenge bedtime procrastination adalah kebiasaan menunda tidur demi mendapatkan waktu pribadi. (Photo by Vladislav Muslakov on Unsplash)

RADARBONANG.ID – Pernah berjanji ingin tidur lebih awal, tetapi akhirnya tetap terjaga hingga larut malam karena asyik menonton serial, bermain media sosial, membaca, atau sekadar menikmati suasana yang tenang? Padahal, keesokan paginya Anda harus kembali bangun pagi untuk bekerja atau beraktivitas.

Jika kebiasaan ini terasa familiar, Anda tidak sendirian.

Fenomena tersebut kini dikenal dengan istilah revenge bedtime procrastination, sebuah kebiasaan menunda waktu tidur demi mendapatkan waktu untuk diri sendiri setelah menjalani hari yang padat.

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini semakin populer di media sosial.

Banyak pekerja, mahasiswa, hingga orang tua mengaku sengaja begadang bukan karena tidak mengantuk, melainkan karena merasa hanya malam hari yang benar-benar menjadi "milik mereka".

Lantas, apa sebenarnya revenge bedtime procrastination, mengapa banyak orang mengalaminya, dan bagaimana cara mengatasinya?

Baca Juga: Bukan Sekadar Ngopi Sambil Buka Laptop! Ini Alasan Banyak Orang Memilih Kerja dari Kafe dan Dampaknya bagi Produktivitas

Apa Itu Revenge Bedtime Procrastination?

Revenge bedtime procrastination adalah kebiasaan menunda waktu tidur secara sengaja meskipun mengetahui bahwa tubuh membutuhkan istirahat.

Istilah "revenge" atau "balas dendam" bukan berarti seseorang marah kepada waktu tidur.

Sebaliknya, kata tersebut menggambarkan upaya seseorang "membalas" waktu pribadi yang hilang selama seharian dipenuhi pekerjaan, sekolah, atau berbagai tanggung jawab lainnya.

Akibatnya, malam menjadi satu-satunya waktu yang dianggap bebas dari tuntutan.

Banyak orang memilih menggunakannya untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai, meski harus mengorbankan jam tidur.

Mengapa Kebiasaan Ini Semakin Banyak Terjadi?

Gaya hidup modern menjadi salah satu penyebab utama munculnya fenomena ini.

Banyak orang menjalani hari dengan jadwal yang sangat padat.

Sejak pagi hingga sore dipenuhi pekerjaan, rapat, tugas kuliah, perjalanan, hingga urusan rumah tangga. Ketika semua kewajiban selesai, waktu sudah menunjukkan malam.

Pada saat itulah muncul keinginan untuk menikmati hidup tanpa gangguan.

Sebagian orang memilih menonton film, bermain gim, membaca buku, membuka media sosial, atau sekadar duduk santai sambil menikmati secangkir teh atau kopi.

Meski terlihat sederhana, aktivitas tersebut sering berlangsung lebih lama dari yang direncanakan sehingga waktu tidur terus tertunda.

Bukan Sekadar Begadang, tetapi Mencari Kendali atas Hidup

Para ahli menilai revenge bedtime procrastination bukan hanya soal sulit tidur.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan kebutuhan seseorang untuk mendapatkan kembali rasa memiliki kendali terhadap hidupnya.

Ketika sepanjang hari jadwal diatur oleh pekerjaan, sekolah, atau tanggung jawab lain, malam menjadi satu-satunya waktu yang benar-benar dapat dipilih sesuai keinginan sendiri.

Sayangnya, cara "merebut kembali" waktu tersebut justru dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan tubuh akan istirahat.

Hubungannya dengan Stres dan Tekanan Pekerjaan

Fenomena ini juga memiliki kaitan erat dengan stres.

Seseorang yang merasa lelah secara mental setelah bekerja seharian cenderung ingin memberikan "hadiah" kepada dirinya sendiri.

Bentuknya bisa berupa menonton serial favorit, berselancar di media sosial, bermain gim, atau melakukan hobi lainnya.

Aktivitas tersebut memang dapat memberikan rasa nyaman sementara.

Namun, jika dilakukan hingga larut malam secara terus-menerus, manfaat relaksasi yang diperoleh justru kalah besar dibanding dampak buruk akibat kurang tidur.

Dampak Kurang Tidur terhadap Kesehatan

Banyak orang menganggap begadang sesekali bukan masalah besar.

Padahal, ketika kebiasaan tersebut berlangsung dalam jangka panjang, tubuh dapat mengalami berbagai gangguan kesehatan.

Kurang tidur dapat menurunkan konsentrasi sehingga seseorang menjadi lebih sulit fokus saat bekerja atau belajar.

Selain itu, tubuh juga lebih mudah merasa lelah, produktivitas menurun, dan suasana hati menjadi kurang stabil.

Dalam jangka panjang, kurang tidur juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan metabolisme, kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, diabetes, hingga penyakit jantung.

Tidak hanya kesehatan fisik, kualitas tidur yang buruk juga dapat memengaruhi kesehatan mental.

Orang yang sering begadang cenderung lebih mudah merasa cemas, mudah tersinggung, bahkan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus.

Mengapa Media Sosial Membuat Kita Sulit Tidur?

Salah satu penyebab terbesar revenge bedtime procrastination adalah penggunaan gawai sebelum tidur.

Algoritma media sosial dirancang agar pengguna terus menggulir layar selama mungkin.

Video pendek, notifikasi, hingga rekomendasi konten baru membuat seseorang sulit berhenti.

Tak jarang, niat membuka ponsel selama lima menit berubah menjadi satu atau bahkan dua jam tanpa disadari.

Paparan cahaya biru dari layar juga dapat menghambat produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk.

Akibatnya, proses tidur menjadi semakin sulit meski tubuh sebenarnya sudah lelah.

Cara Mengatasi Revenge Bedtime Procrastination

Mengubah kebiasaan ini tidak selalu mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Langkah pertama adalah menyadari bahwa waktu istirahat sama pentingnya dengan waktu bekerja maupun bersantai.

Cobalah membuat jadwal tidur yang konsisten setiap hari, termasuk pada akhir pekan.

Kurangi penggunaan ponsel, tablet, atau laptop sekitar 30 hingga 60 menit sebelum tidur agar tubuh memiliki kesempatan untuk lebih rileks.

Selain itu, usahakan menyediakan waktu khusus untuk diri sendiri pada siang atau sore hari.

Meski hanya 20 hingga 30 menit, waktu tersebut dapat digunakan untuk membaca, mendengarkan musik, berjalan santai, atau melakukan aktivitas yang disukai.

Dengan begitu, kebutuhan akan "me time" tidak harus selalu dibayar dengan mengurangi waktu tidur.

Baca Juga: Tren No Spend Challenge Makin Viral, Benarkah Efektif Membantu Menabung? Banyak Orang Mengaku Keuangan Lebih Terkendali

Work-Life Balance Menjadi Kunci

Fenomena revenge bedtime procrastination menunjukkan bahwa banyak orang sebenarnya tidak kekurangan waktu tidur, melainkan kekurangan waktu untuk dirinya sendiri.

Karena itu, menjaga work-life balance menjadi salah satu solusi paling penting.

Ketika pekerjaan, waktu bersama keluarga, aktivitas pribadi, dan waktu istirahat dapat dikelola secara lebih seimbang, keinginan untuk "membalas" waktu yang hilang pada malam hari biasanya akan berkurang.

Pada akhirnya, tidur yang cukup bukanlah tanda seseorang malas atau kurang produktif. Justru sebaliknya, istirahat berkualitas merupakan investasi penting bagi kesehatan fisik, kesejahteraan mental, serta produktivitas dalam jangka panjang.

Jika selama ini Anda sering mengorbankan waktu tidur demi menikmati malam, mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai memberi tubuh kesempatan beristirahat dan memulihkan energi sebelum menghadapi hari berikutnya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
revenge bedtime procrastination kurang tidur Kebiasaan begadang kesehatan mental work life balance