Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kenapa Pengalaman Buruk Lebih Sulit Dilupakan? Psikologi Ungkap Cara Kerja Otak yang Membuat Kita Terjebak Overthinking

M. Afiqul Adib • Jumat, 17 Juli 2026 | 14:13 WIB
fenomena negativity bias, fungsi evolusi, mengapa kritik lebih membekas daripada pujian, dampaknya terhadap overthinking, serta pentingnya rasa syukur untuk menyeimbangkan cara pandang hidup. (Photo by Christian Lue on Unsplash)
fenomena negativity bias, fungsi evolusi, mengapa kritik lebih membekas daripada pujian, dampaknya terhadap overthinking, serta pentingnya rasa syukur untuk menyeimbangkan cara pandang hidup. (Photo by Christian Lue on Unsplash)

RADARBONANG.ID – Pernah merasa satu pengalaman memalukan terus teringat selama bertahun-tahun, sementara momen-momen bahagia justru perlahan terlupakan? Atau mungkin satu komentar negatif dari seseorang terasa lebih membekas dibandingkan puluhan pujian yang pernah diterima?

Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian. Fenomena tersebut merupakan bagian dari cara kerja alami otak manusia yang dalam dunia psikologi dikenal sebagai negativity bias.

Negativity bias adalah kecenderungan otak untuk memberi perhatian lebih besar terhadap pengalaman, informasi, atau emosi yang bersifat negatif dibandingkan hal-hal positif. Meski terdengar merugikan, mekanisme ini sebenarnya memiliki peran penting dalam sejarah evolusi manusia.

Otak Manusia Memang Dirancang untuk Waspada

Menurut para ahli psikologi, otak manusia sejak zaman prasejarah berkembang dengan mengutamakan kemampuan bertahan hidup.

Baca Juga: Terancam Punah karena Perburuan Liar, Paruh Burung Rangkong Gading Diburu hingga Bernilai Puluhan Juta Rupiah di Pasar Gelap

Bagi nenek moyang manusia, mengingat ancaman jauh lebih penting daripada mengingat pengalaman menyenangkan.

Seseorang yang mampu mengingat lokasi hewan buas, bencana alam, atau situasi berbahaya memiliki peluang hidup lebih besar dibandingkan mereka yang mengabaikan pengalaman tersebut.

Karena itulah, otak secara alami memberi "prioritas" pada pengalaman negatif agar manusia lebih siap menghadapi risiko yang sama di masa depan.

Meski kini ancaman fisik sudah jauh berkurang, pola kerja otak tersebut masih terbawa hingga kehidupan modern.

Mengapa Kritik Lebih Membekas daripada Pujian?

Salah satu contoh paling nyata dari negativity bias adalah ketika seseorang menerima kritik.

Bayangkan seseorang mendapatkan sepuluh pujian atas pekerjaannya, tetapi hanya satu komentar negatif.

Yang sering terjadi, justru komentar negatif itulah yang terus dipikirkan berulang kali.

Dalam perspektif psikologi, kritik dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri maupun posisi sosial seseorang.

Otak kemudian memberikan perhatian lebih besar karena menganggap informasi tersebut penting untuk dievaluasi.

Sebaliknya, pujian sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sudah sesuai harapan sehingga tidak mendapat respons emosional sebesar kritik.

Akibatnya, pengalaman negatif terasa jauh lebih membekas.

Negativity Bias Bisa Memicu Overthinking

Ketika pengalaman buruk terus muncul dalam ingatan, seseorang lebih mudah terjebak dalam overthinking.

Pikiran terus mengulang kesalahan masa lalu, percakapan yang dianggap memalukan, atau keputusan yang disesali.

Semakin sering dipikirkan, semakin kuat pula memori tersebut tertanam di otak.

Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental apabila berlangsung terus-menerus.

Beberapa dampak yang dapat muncul antara lain:

Padahal, dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya terdapat banyak pengalaman positif yang juga layak diingat.

Hanya saja, otak cenderung tidak memberikan bobot yang sama besar terhadap pengalaman tersebut.

Mengapa Pengalaman Positif Cepat Terlupakan?

Bukan berarti otak tidak mampu menyimpan kenangan bahagia.

Namun, pengalaman positif biasanya tidak memicu respons bertahan hidup seperti halnya pengalaman negatif.

Akibatnya, memori positif membutuhkan perhatian dan pengulangan agar dapat tersimpan lebih kuat dalam ingatan jangka panjang.

Itulah sebabnya banyak orang dianjurkan untuk melatih kesadaran terhadap hal-hal baik yang terjadi setiap hari.

Dengan memberikan perhatian lebih pada pengalaman positif, otak perlahan belajar bahwa momen tersebut juga penting untuk disimpan.

Melatih Otak agar Lebih Mengingat Hal Positif

Kabar baiknya, negativity bias bukanlah sesuatu yang tidak bisa diimbangi.

Psikolog menyebut bahwa kebiasaan tertentu dapat membantu otak lebih menghargai pengalaman positif.

Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu memperkuat memori positif sehingga tidak mudah tertutupi oleh pengalaman negatif.

Dukungan Sosial Juga Berperan Penting

Selain latihan secara pribadi, dukungan dari lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan emosional.

Berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, atau orang yang dipercaya dapat membantu mengurangi beban pikiran ketika menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Percakapan yang positif juga membantu seseorang melihat suatu masalah dari sudut pandang yang lebih objektif.

Baca Juga: Menguak Jejak Perdukunan Nusantara dalam Prasasti Kuno Abad ke-7, Ternyata Dulu Jadi Profesi Terhormat di Masa Kerajaan

Dengan begitu, pengalaman buruk tidak lagi mendominasi cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun kehidupannya.

Memahami Cara Kerja Otak Membantu Kita Lebih Bijak

Mengetahui adanya negativity bias membuat kita lebih memahami bahwa kecenderungan mengingat pengalaman buruk bukan berarti hidup kita dipenuhi kegagalan.

Sebaliknya, itu adalah bagian dari mekanisme alami otak yang sejak dahulu membantu manusia bertahan hidup.

Namun, di era modern, mekanisme tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran untuk lebih menghargai pengalaman positif.

Melatih rasa syukur, membangun hubungan sosial yang sehat, serta membiasakan refleksi diri dapat membantu menciptakan keseimbangan dalam cara kita memandang kehidupan.

Dengan begitu, kenangan indah tidak lagi tenggelam oleh pengalaman buruk, dan kesehatan mental pun dapat lebih terjaga.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
negativity bias psikologi otak pengalaman buruk overthinking kesehatan mental