RADARBONANG.ID – Pernah tiba-tiba ingin menyantap cokelat, gorengan, es krim, atau makanan cepat saji saat sedang stres, sedih, atau lelah? Banyak orang mengira hal tersebut merupakan reaksi yang wajar karena tubuh membutuhkan energi.
Padahal, keinginan makan dalam kondisi seperti itu belum tentu dipicu oleh rasa lapar.
Fenomena tersebut dikenal sebagai emotional eating, yaitu kebiasaan makan yang lebih didorong oleh kondisi emosional daripada kebutuhan fisik.
Perilaku ini kini menjadi perhatian karena semakin banyak dialami masyarakat, terutama di tengah gaya hidup modern yang penuh tekanan.
Sebuah riset mengenai perilaku kesehatan mengungkapkan bahwa sekitar 49 persen masyarakat Indonesia mengaku sering makan bukan karena lapar, melainkan untuk meredakan stres, kecemasan, rasa bosan, kelelahan, hingga tekanan pikiran.
Temuan ini menunjukkan bahwa makanan tidak lagi sekadar menjadi sumber energi, tetapi juga sering dijadikan pelarian sementara ketika seseorang menghadapi masalah emosional.
Apa Itu Emotional Eating?
Emotional eating merupakan kondisi ketika seseorang mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi yang dirasakan, bukan karena tubuh benar-benar membutuhkan asupan energi.
Berbeda dengan rasa lapar fisik yang muncul secara bertahap, rasa ingin makan akibat emosi biasanya datang secara tiba-tiba dan cenderung mengarah pada jenis makanan tertentu.
Sebagian besar orang yang mengalami emotional eating lebih memilih makanan tinggi gula, lemak, atau kalori seperti kue, cokelat, makanan cepat saji, keripik, hingga minuman manis.
Makanan tersebut memang mampu memberikan rasa nyaman dalam waktu singkat, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan sumber masalah yang sedang dihadapi.
Kelompok Usia Muda Lebih Rentan Mengalaminya
Research Associate Yoli Farradika, M.Epid, menjelaskan bahwa emotional eating lebih banyak ditemukan pada kelompok usia di bawah 40 tahun.
Selain itu, fenomena ini juga lebih sering dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, perubahan hormon, hingga gaya hidup yang semakin padat.
Di era digital, paparan informasi yang terus-menerus, beban pekerjaan, hingga aktivitas media sosial juga dinilai ikut meningkatkan tingkat stres masyarakat.
Akibatnya, makanan menjadi salah satu cara tercepat untuk mendapatkan rasa nyaman meski hanya bersifat sementara.
Mengapa Stres Membuat Seseorang Ingin Terus Makan?
Saat seseorang mengalami tekanan psikologis, tubuh akan memproduksi hormon kortisol, yang dikenal sebagai hormon stres.
Peningkatan kadar kortisol dapat memengaruhi nafsu makan dan membuat seseorang lebih tertarik pada makanan yang tinggi gula, lemak, dan kalori.
Jenis makanan tersebut kemudian merangsang pelepasan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan.
Akibatnya, seseorang merasa lebih tenang atau lebih bahagia setelah makan.
Namun, efek tersebut biasanya hanya berlangsung sementara. Ketika masalah belum terselesaikan, keinginan untuk makan kembali dapat muncul sehingga membentuk pola yang berulang.
Berpotensi Menyebabkan Berbagai Penyakit
Meski sesekali makan untuk memperbaiki suasana hati bukanlah hal yang berbahaya, kebiasaan emotional eating yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius.
Asupan kalori yang berlebihan tanpa diimbangi kebutuhan tubuh dapat meningkatkan risiko:
- Obesitas
- Diabetes tipe 2
- Tekanan darah tinggi
- Penyakit jantung dan pembuluh darah
- Gangguan metabolisme
Selain itu, emotional eating juga dapat memicu rasa bersalah setelah makan berlebihan.
Perasaan tersebut justru dapat memperburuk kondisi emosional sehingga membentuk siklus yang sulit dihentikan.
Cara Membedakan Lapar Fisik dan Lapar Emosional
Agar tidak terjebak dalam emotional eating, penting mengenali perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional.
Lapar fisik biasanya muncul secara bertahap, dapat ditunda beberapa saat, dan akan hilang setelah kebutuhan energi tubuh terpenuhi.
Sebaliknya, lapar emosional datang secara mendadak, sering kali menginginkan makanan tertentu, dan tetap terasa meski perut sebenarnya sudah kenyang.
Karena itu, sebelum mengambil camilan atau memesan makanan, cobalah bertanya kepada diri sendiri apakah tubuh benar-benar lapar atau hanya sedang mencari pelarian dari tekanan yang dirasakan.
Bangun Kebiasaan yang Lebih Sehat
Mengatasi emotional eating bukan berarti harus berhenti menikmati makanan favorit.
Yang lebih penting adalah menemukan cara lain untuk mengelola emosi secara sehat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Beristirahat ketika tubuh mulai merasa lelah.
- Melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki atau bersepeda.
- Berlatih teknik relaksasi dan pernapasan.
- Menulis jurnal untuk mengekspresikan perasaan.
- Berbicara dengan keluarga atau teman terpercaya.
- Menjaga pola tidur yang cukup dan berkualitas.
Jika kebiasaan makan karena emosi sudah berlangsung lama dan mulai mengganggu kesehatan maupun aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat.
Mengenali Emosi Sama Pentingnya dengan Menjaga Pola Makan
Fenomena emotional eating menunjukkan bahwa hubungan antara kesehatan mental dan kesehatan fisik tidak dapat dipisahkan.
Apa yang dirasakan seseorang dapat memengaruhi pola makan, sementara kebiasaan makan yang kurang sehat juga dapat berdampak pada kondisi tubuh dalam jangka panjang.
Karena itu, membangun kesadaran terhadap sinyal tubuh menjadi langkah penting untuk mencegah emotional eating. Sebelum makan, luangkan waktu sejenak untuk mengenali apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan.
Bisa jadi yang diperlukan bukan tambahan makanan, melainkan waktu untuk beristirahat, bergerak lebih aktif, atau berbagi cerita dengan orang terdekat.
Dengan memahami perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional, setiap orang dapat membangun kebiasaan yang lebih sehat sekaligus menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh dan kesehatan mental.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : health.detik.com