Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Merasa Hidup Tertinggal? Mungkin Kamu Hanya Sedang Berjalan di Jalur yang Berbeda, Bukan Kalah dari Orang Lain

M. Afiqul Adib • Rabu, 15 Juli 2026 | 13:26 WIB
Banyak orang merasa hidupnya tertinggal dibanding orang lain, terutama karena pengaruh media sosial. (Photo by Iqbal Alfaa on Unsplash)
Banyak orang merasa hidupnya tertinggal dibanding orang lain, terutama karena pengaruh media sosial. (Photo by Iqbal Alfaa on Unsplash)

RADARBONAG.ID – Pernahkah Anda merasa hidup berjalan lebih lambat dibandingkan orang lain? Saat membuka media sosial, mungkin Anda melihat teman sebaya yang telah memiliki karier cemerlang, menikah, membeli rumah, atau menikmati liburan ke berbagai tempat.

Tanpa disadari, muncul pertanyaan dalam hati, "Mengapa hidupku belum seperti mereka?"

Perasaan seperti ini semakin banyak dialami, terutama di era digital ketika kehidupan orang lain dapat dilihat hanya melalui layar ponsel.

Meski terasa nyata, rasa tertinggal sering kali bukan berasal dari kondisi hidup yang sebenarnya, melainkan dari cara kita membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain.

Baca Juga: Merasa Sulit Punya Teman Baru di Usia Dewasa? Ini Penyebab Psikologis dan Sosial yang Jarang Disadari

Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, tantangan, dan tujuan hidup yang berbeda.

Karena itu, membandingkan diri dengan orang lain sering kali menghasilkan penilaian yang tidak adil terhadap diri sendiri.

Kebiasaan Membandingkan Diri Menjadi Pemicu Utama

Secara alami, manusia cenderung melakukan perbandingan sosial untuk memahami posisi dirinya di lingkungan sekitar.

Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan pencapaian, kemampuan, atau kehidupan diri sendiri dengan orang lain.

Perbandingan tersebut sebenarnya dapat memberikan motivasi apabila dilakukan secara sehat.

Namun, jika terlalu sering membandingkan diri dengan mereka yang tampak lebih berhasil, rasa kurang percaya diri dan perasaan tertinggal bisa muncul.

Masalahnya, kita sering membandingkan seluruh kehidupan kita dengan potongan momen terbaik yang ditampilkan orang lain.

Akibatnya, kita merasa seolah-olah semua orang sudah berada jauh di depan, sementara diri sendiri belum mencapai apa-apa.

Media Sosial Menampilkan Potongan Terbaik, Bukan Keseluruhan Cerita

Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap munculnya perasaan tertinggal.

Sebagian besar orang menggunakan platform digital untuk membagikan momen yang membanggakan, seperti kelulusan, promosi jabatan, pernikahan, kelahiran anak, perjalanan wisata, atau pencapaian lainnya.

Sangat jarang seseorang membagikan kegagalan, rasa cemas, konflik keluarga, atau perjuangan panjang yang terjadi di balik keberhasilan tersebut.

Akibatnya, pengguna media sosial hanya melihat sisi terbaik kehidupan orang lain.

Tanpa disadari, otak mulai menyimpulkan bahwa kehidupan semua orang tampak sempurna, sedangkan diri sendiri dipenuhi berbagai kekurangan.

Padahal, setiap orang memiliki tantangan yang tidak selalu terlihat di dunia maya.

Setiap Orang Memiliki Garis Waktu yang Berbeda

Salah satu hal yang penting dipahami adalah bahwa kehidupan tidak memiliki jadwal yang sama untuk semua orang.

Ada yang menemukan kesuksesan di usia muda, membangun bisnis sejak kuliah, atau mencapai karier impian sebelum usia 30 tahun.

Di sisi lain, ada pula yang baru menemukan passion, membangun usaha, atau meraih stabilitas hidup setelah memasuki usia 40 atau bahkan 50 tahun.

Tidak ada aturan yang menyatakan bahwa semua orang harus mencapai target tertentu pada usia yang sama.

Perjalanan hidup dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari lingkungan keluarga, kesempatan pendidikan, kondisi ekonomi, pengalaman hidup, hingga pilihan pribadi.

Karena itu, membandingkan garis waktu sendiri dengan orang lain sering kali tidak memberikan gambaran yang utuh.

Definisi Sukses Tidak Sama bagi Setiap Orang

Sering kali kita mengukur kesuksesan menggunakan standar yang dibentuk oleh lingkungan atau media sosial.

Padahal, arti sukses sangat bergantung pada nilai dan tujuan hidup masing-masing individu.

Bagi sebagian orang, sukses berarti memiliki penghasilan tinggi, jabatan bergengsi, atau dikenal banyak orang.

Namun, bagi orang lain, sukses bisa berarti memiliki keluarga yang harmonis, kesehatan yang terjaga, pekerjaan yang memberikan ketenangan, atau mampu menjalani hidup sederhana dengan rasa syukur.

Tidak ada satu definisi yang paling benar.

Yang terpenting adalah apakah kehidupan yang dijalani sudah sesuai dengan nilai dan tujuan yang benar-benar ingin dicapai.

Fokus pada Progres Diri, Bukan Perlombaan dengan Orang Lain

Daripada terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, akan lebih bermanfaat jika mulai melihat perkembangan diri sendiri.

Tanyakan, apakah hari ini Anda sudah menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan beberapa bulan atau setahun yang lalu?

Kemajuan tidak selalu harus berupa pencapaian besar.

Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, mempelajari keterampilan baru, memperbaiki pola hidup, menjaga kesehatan, atau mengelola keuangan dengan lebih baik juga merupakan bentuk perkembangan yang layak dihargai.

Setiap langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa perubahan yang berarti dalam jangka panjang.

Cara Mengurangi Perasaan Hidup Tertinggal

Apabila perasaan tertinggal mulai mengganggu, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga kesehatan mental.

Kurangi waktu menggunakan media sosial, terutama jika mulai merasa cemas setelah melihat kehidupan orang lain.

Luangkan waktu untuk menuliskan berbagai pencapaian pribadi, sekecil apa pun, agar lebih mudah menyadari perkembangan yang telah diraih.

Selain itu, biasakan mensyukuri hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti kesehatan, keluarga yang mendukung, kesempatan belajar, atau pekerjaan yang dimiliki saat ini.

Rasa syukur membantu mengalihkan perhatian dari apa yang belum dimiliki menjadi apa yang telah berhasil dicapai.

Hidup Bukan Perlombaan, tetapi Perjalanan yang Berbeda

Merasa hidup tertinggal adalah pengalaman yang manusiawi, terutama ketika kita sering membandingkan diri dengan orang lain. Namun, perasaan tersebut tidak selalu mencerminkan kenyataan.

Baca Juga: Mengapa Generasi Sekarang Mudah Marah di Media Sosial? Ini Penyebab Psikologis dan Pengaruh Algoritma yang Jarang Disadari

Setiap orang memiliki ritme, tantangan, dan garis waktu yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari perjalanan hidup seseorang, bukan keseluruhan cerita.

Daripada mengukur keberhasilan berdasarkan pencapaian orang lain, lebih baik fokus membangun versi terbaik dari diri sendiri.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, melainkan tentang bagaimana kita terus bertumbuh, menemukan makna, dan menjalani perjalanan sesuai nilai yang kita yakini.

Sering kali, kita bukan sedang tertinggal. Kita hanya sedang berjalan di jalan yang berbeda menuju tujuan yang berbeda pula.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
membandingkan diri merasa hidup tertinggal pengembangan diri kesehatan mental media sosial