RADARBONAG.ID – Di era media sosial yang serba cepat, banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren terbaru agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Mulai dari tren fashion, tempat nongkrong, gadget terbaru, hingga konten viral di media sosial, semuanya seolah wajib diikuti agar tetap relevan.
Namun, di tengah budaya yang menuntut seseorang untuk selalu "up to date", muncul sebuah konsep yang justru menawarkan ketenangan. Konsep tersebut dikenal dengan istilah JOMO atau Joy of Missing Out.
Berbeda dengan anggapan bahwa melewatkan suatu tren adalah kerugian, JOMO mengajarkan bahwa tidak mengikuti semua hal justru bisa menjadi sumber kebahagiaan.
Gaya hidup ini semakin populer karena dianggap mampu membantu seseorang menjalani hidup yang lebih sederhana, tenang, dan bermakna.
Apa Itu JOMO?
JOMO merupakan singkatan dari Joy of Missing Out, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai kebahagiaan karena tidak ikut dalam setiap tren, aktivitas, atau hiruk pikuk yang sedang berlangsung.
Seseorang yang menerapkan JOMO tidak merasa cemas ketika tidak menghadiri sebuah acara, tidak membeli barang yang sedang viral, atau tidak mengetahui semua topik yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Sebaliknya, mereka justru menikmati waktu yang dimiliki untuk melakukan hal-hal yang benar-benar penting dan sesuai dengan kebutuhan pribadi.
Konsep ini menekankan bahwa seseorang tidak harus selalu hadir di setiap kesempatan demi mendapatkan validasi dari orang lain.
Kebahagiaan dapat ditemukan melalui pilihan yang lebih sadar dan sesuai dengan nilai hidup masing-masing.
Perbedaan JOMO dan FOMO yang Perlu Dipahami
JOMO sering disebut sebagai kebalikan dari FOMO atau Fear of Missing Out.
FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal informasi, tren, atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.
Akibatnya, muncul kecemasan apabila tidak ikut terlibat.
Orang yang mengalami FOMO biasanya terus memantau media sosial, merasa harus selalu mengikuti tren terbaru, hingga sulit menolak undangan atau aktivitas karena takut dianggap tidak gaul.
Sementara itu, JOMO justru mengajarkan penerimaan.
Seseorang menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti dan tidak semua kesempatan harus diambil.
Alih-alih merasa kehilangan, mereka memilih menikmati waktu dengan cara yang lebih sesuai dengan kebutuhan diri sendiri.
Perbedaan pola pikir inilah yang membuat JOMO dinilai lebih sehat dalam menghadapi tekanan kehidupan modern.
Mengapa JOMO Semakin Populer?
Popularitas JOMO tidak lepas dari perkembangan media sosial yang begitu pesat.
Saat ini, hampir setiap hari masyarakat disuguhi berbagai unggahan tentang pencapaian, liburan mewah, gaya hidup, hingga aktivitas produktif orang lain.
Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat memunculkan tekanan untuk selalu melakukan hal yang sama.
Banyak orang akhirnya merasa lelah karena terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di layar ponsel.
JOMO hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya tersebut.
Alih-alih mengejar pengakuan, seseorang mulai belajar bahwa kehidupan tidak harus selalu dipamerkan.
Tidak semua pengalaman perlu dibagikan, dan tidak semua tren harus menjadi bagian dari kehidupan.
Kesadaran inilah yang membuat semakin banyak orang memilih menjalani hidup dengan lebih sederhana dan tidak lagi terobsesi untuk selalu mengikuti apa yang sedang populer.
Manfaat JOMO bagi Kesehatan Mental
Mengadopsi gaya hidup JOMO memberikan banyak manfaat, terutama bagi kesehatan mental.
Salah satu manfaat yang paling terasa adalah berkurangnya tingkat stres.
Ketika seseorang tidak lagi merasa harus memenuhi ekspektasi sosial, tekanan untuk selalu tampil sempurna pun ikut menurun.
Selain itu, JOMO juga membantu meningkatkan kualitas tidur.
Mengurangi kebiasaan terus-menerus memantau media sosial membuat waktu istirahat menjadi lebih berkualitas.
Manfaat lainnya adalah meningkatnya rasa syukur terhadap kehidupan sendiri.
Daripada sibuk membandingkan pencapaian dengan orang lain, seseorang menjadi lebih fokus menghargai proses dan perjalanan hidupnya.
JOMO juga membantu seseorang lebih mudah menentukan prioritas.
Waktu dan energi yang dimiliki dapat digunakan untuk keluarga, pekerjaan, hobi, atau aktivitas yang benar-benar memberikan kebahagiaan.
Tidak hanya itu, gaya hidup ini juga dapat membantu mengurangi kecanduan media sosial serta meningkatkan kemampuan menikmati momen tanpa harus selalu mengabadikannya untuk diunggah ke internet.
Cara Menerapkan JOMO dalam Kehidupan Sehari-hari
Menerapkan JOMO sebenarnya tidak sulit. Langkah pertama adalah menerima bahwa tidak semua hal harus diikuti.
Mulailah dengan membatasi waktu menggunakan media sosial agar tidak terus-menerus terpapar informasi yang memicu perbandingan sosial.
Selanjutnya, fokuslah pada aktivitas yang benar-benar memberikan manfaat bagi diri sendiri, seperti membaca buku, berolahraga, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau mengembangkan hobi.
Belajarlah mengatakan "tidak" terhadap ajakan atau aktivitas yang memang tidak sesuai dengan kebutuhan maupun kondisi diri.
Yang tidak kalah penting adalah berhenti mengukur kebahagiaan berdasarkan apa yang dimiliki atau dilakukan orang lain.
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
Apa yang terlihat menyenangkan di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.
Hidup Tidak Harus Selalu Mengikuti Semua Orang
Pada akhirnya, JOMO bukan berarti menghindari pergaulan atau menutup diri dari perkembangan zaman.
Sebaliknya, konsep ini mengajarkan seseorang untuk lebih selektif dalam menentukan apa yang layak mendapatkan perhatian.
Tidak semua tren harus diikuti, tidak semua undangan harus dihadiri, dan tidak semua informasi harus diketahui.
Baca Juga: Real Madrid Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026, Jadi Klub dengan Gol Terbanyak Lewat Para Pemainnya
Kebahagiaan sejati sering kali lahir dari kemampuan untuk memilih dengan sadar apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri, bukan karena tekanan lingkungan.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, JOMO menjadi pengingat bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk selalu menjadi yang paling mengikuti tren.
Justru dengan melambat, menikmati momen, dan fokus pada hal-hal yang bermakna, seseorang dapat menemukan ketenangan yang selama ini sulit dirasakan.
Karena pada akhirnya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak tren yang diikuti, melainkan seberapa damai seseorang menjalani hidup sesuai dengan nilai dan kebutuhannya sendiri.