Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

JOMO Jadi Tren Lifestyle Baru, Ini Alasan Banyak Orang Memilih Hidup Lebih Tenang daripada Selalu Ikut Tren

Muhammad Azlan Syah • Selasa, 14 Juli 2026 | 07:04 WIB
Harus ikut semua tren? Tidak juga. Kini banyak orang beralih dari FOMO ke JOMO, menikmati hidup tanpa tekanan untuk selalu mengikuti apa yang sedang viral. Ternyata, melewatkan sesuatu bukan berarti kehilangan kebahagiaan, justru bisa membuat hidup lebih tenang. (ilustrasi)
Harus ikut semua tren? Tidak juga. Kini banyak orang beralih dari FOMO ke JOMO, menikmati hidup tanpa tekanan untuk selalu mengikuti apa yang sedang viral. Ternyata, melewatkan sesuatu bukan berarti kehilangan kebahagiaan, justru bisa membuat hidup lebih tenang. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Selama beberapa tahun terakhir, istilah FOMO (Fear of Missing Out) menjadi salah satu fenomena yang paling sering dibahas di media sosial.

Banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren terbaru, menghadiri berbagai acara, mencoba tempat yang sedang viral, hingga terus memantau aktivitas orang lain agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Namun, kini mulai muncul tren baru yang justru berkebalikan dengan FOMO.

Gaya hidup tersebut dikenal dengan istilah JOMO (Joy of Missing Out), yaitu kemampuan menikmati hidup tanpa merasa harus ikut dalam setiap tren atau aktivitas yang dilakukan orang lain.

Bagi sebagian orang, JOMO bukan sekadar tren lifestyle, melainkan cara untuk menjaga kesehatan mental, mengurangi tekanan sosial, dan menemukan kebahagiaan dari pilihan hidup yang lebih sederhana.

Baca Juga: Hati-Hati! Kebiasaan Makan yang Dianggap Normal Ini Justru Dapat Merusak Kesehatan Lambung

Lalu, mengapa JOMO semakin banyak dipilih, terutama oleh generasi muda?

Dari Takut Ketinggalan Menjadi Menikmati Pilihan Sendiri

FOMO membuat seseorang merasa harus selalu terhubung dengan apa yang sedang terjadi.

Media sosial memperkuat perasaan tersebut.

Setiap hari, pengguna disuguhi foto liburan, pencapaian karier, konser, kuliner viral, hingga gaya hidup orang lain yang tampak sempurna.

Tanpa disadari, banyak orang mulai membandingkan hidupnya sendiri dengan apa yang mereka lihat di layar ponsel.

Akibatnya muncul rasa cemas, takut tertinggal, bahkan merasa hidupnya kurang menarik dibanding orang lain.

JOMO hadir sebagai cara pandang yang berbeda.

Alih-alih mengejar semua hal, seseorang memilih menikmati apa yang benar-benar penting bagi dirinya.

Tidak Semua Tren Harus Diikuti

Perkembangan media sosial membuat tren datang silih berganti.

Hari ini sebuah kafe menjadi viral, besok muncul tempat baru. Hari ini semua orang membeli suatu produk, beberapa minggu kemudian berganti dengan tren lainnya.

Jika terus berusaha mengikuti semuanya, seseorang akan merasa lelah, baik secara mental maupun finansial.

Melalui JOMO, seseorang belajar menerima bahwa tidak semua pengalaman harus dimiliki.

Tidak mencoba semua makanan viral bukan berarti hidup membosankan.

Tidak datang ke semua konser bukan berarti kehilangan kebahagiaan.

Tidak membeli barang yang sedang populer juga bukan berarti tertinggal.

Lebih Fokus pada Kualitas Hidup

Orang yang menerapkan JOMO biasanya lebih memilih aktivitas yang benar-benar mereka sukai.

Mereka tidak lagi melakukan sesuatu hanya demi membuat konten atau mengikuti arus.

Ada yang memilih menghabiskan akhir pekan di rumah bersama keluarga.

Ada pula yang lebih menikmati membaca buku, berkebun, memasak, berolahraga, atau berjalan santai dibanding harus mengunjungi tempat yang sedang ramai.

Pilihan tersebut membuat waktu terasa lebih berkualitas karena dilakukan berdasarkan keinginan sendiri, bukan tekanan dari lingkungan.

JOMO Membantu Menjaga Kesehatan Mental

Salah satu manfaat terbesar JOMO adalah membantu mengurangi stres akibat perbandingan sosial.

Semakin sering seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain, semakin besar kemungkinan muncul rasa tidak puas terhadap diri sendiri.

Dengan membatasi konsumsi media sosial dan berhenti mengejar validasi, pikiran menjadi lebih tenang.

Banyak orang merasa lebih bahagia setelah berhenti memikirkan apa yang dilakukan orang lain dan mulai fokus pada kehidupannya sendiri.

Ketenangan inilah yang membuat JOMO semakin populer di tengah masyarakat modern.

Tidak Berarti Menutup Diri dari Lingkungan

Sebagian orang mengira JOMO berarti menjadi antisosial.

Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Orang yang menjalani JOMO tetap bersosialisasi, bertemu teman, maupun mengikuti berbagai kegiatan.

Perbedaannya terletak pada alasan mereka melakukannya.

Mereka hadir karena memang ingin menikmati momen tersebut, bukan karena takut dianggap tidak gaul atau takut tertinggal.

Dengan begitu, hubungan yang terjalin pun terasa lebih tulus.

Mengurangi Pengeluaran yang Tidak Perlu

Tanpa disadari, FOMO sering membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Mulai dari pakaian, gawai terbaru, hingga berbagai produk yang sedang viral.

JOMO membantu seseorang lebih bijak dalam mengelola keuangan.

Mereka mulai bertanya pada diri sendiri apakah suatu barang benar-benar dibutuhkan atau hanya dibeli karena sedang populer.

Cara berpikir seperti ini membuat pengeluaran menjadi lebih terkendali.

Belajar Menghargai Momen Sederhana

JOMO mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar.

Menikmati secangkir kopi di pagi hari, mengobrol dengan keluarga, membaca buku favorit, atau berjalan sore di sekitar rumah bisa menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.

Ketika seseorang berhenti mengejar apa yang dimiliki orang lain, ia akan lebih mudah mensyukuri apa yang sudah dimiliki.

Perasaan cukup inilah yang menjadi inti dari gaya hidup JOMO.

Hidup Tidak Harus Selalu Mengikuti Standar Orang Lain

Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Apa yang membuat orang lain bahagia belum tentu memberikan kebahagiaan yang sama bagi kita.

Karena itu, JOMO mengajak setiap orang untuk menentukan standar kebahagiaannya sendiri.

Baca Juga: Mendikti Brian Yuliarto Ungkap Pengalaman Jadi Menteri, Minta Anak Muda Tak Menjadikannya Sebagai Cita-cita

Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena belum mengunjungi tempat tertentu, belum memiliki barang terbaru, atau tidak mengikuti tren yang sedang ramai.

Yang terpenting adalah menjalani hidup sesuai nilai dan tujuan pribadi.

Pada akhirnya, JOMO bukan tentang menghindari dunia luar, melainkan tentang memilih dengan sadar apa yang benar-benar layak mendapat perhatian.

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, kemampuan berkata "tidak" terhadap tekanan untuk selalu mengikuti tren justru menjadi bentuk kebebasan baru.

Mungkin kita memang akan melewatkan beberapa hal, tetapi sebagai gantinya kita memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga: ketenangan, kebahagiaan, dan hidup yang lebih autentik.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#JOMO #gaya hidup #lifestyle Gen Z #fomo #kesehatan mental