Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Sering Bingung Menentukan Pilihan? Kenali Decision Fatigue, Kondisi yang Membuat Otak Lelah Mengambil Keputusan

Defy Maulida Puspaaji • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:10 WIB
Merasa sulit memilih menu makan, mudah belanja impulsif, atau sering berkata "terserah"? Bisa jadi kamu mengalami Decision Fatigue, kondisi psikologis yang semakin umum terjadi di era digital. (ilustrasi)
Merasa sulit memilih menu makan, mudah belanja impulsif, atau sering berkata "terserah"? Bisa jadi kamu mengalami Decision Fatigue, kondisi psikologis yang semakin umum terjadi di era digital. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Pernah merasa bingung menentukan menu makan siang, memilih pakaian, atau bahkan memutuskan apakah harus membalas pesan sekarang atau nanti? Sekilas masalah tersebut tampak sepele.

Namun, dalam dunia psikologi, kondisi itu dikenal sebagai Decision Fatigue, yaitu kelelahan mental akibat terlalu banyak mengambil keputusan dalam satu hari.

Fenomena ini semakin sering dialami masyarakat modern yang setiap hari dihadapkan pada berbagai pilihan.

Mulai dari notifikasi media sosial, promo belanja daring, tontonan di layanan streaming, hingga keputusan penting di tempat kerja, semuanya menuntut otak untuk terus berpikir dan memilih.

Tanpa disadari, kemampuan otak dalam mengambil keputusan memiliki batas. Ketika energi mental mulai terkuras, kualitas keputusan yang diambil pun cenderung menurun.

Baca Juga: Mengapa Beruang Kutub Bisa Tidur Hingga 18 Jam Saat Musim Panas? Ini Strategi Bertahan Hidupnya di Daratan

Apa Itu Decision Fatigue?

Decision Fatigue merupakan kondisi ketika kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan menurun setelah membuat banyak pilihan dalam periode waktu tertentu.

Setiap keputusan, sekecil apa pun, membutuhkan energi mental.

Memilih pakaian, menentukan menu sarapan, menjawab pesan, hingga memutuskan rute perjalanan ternyata sama-sama menguras sumber daya kognitif.

Semakin banyak keputusan yang dibuat sepanjang hari, semakin besar kemungkinan seseorang merasa lelah secara mental.

Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih sulit berkonsentrasi, mudah menunda keputusan, atau justru memilih sesuatu secara terburu-buru tanpa pertimbangan yang matang.

Terlalu Banyak Pilihan Justru Membuat Stres

Banyak orang beranggapan bahwa semakin banyak pilihan, semakin besar pula kebebasan yang dimiliki.

Namun, berbagai penelitian psikologi menunjukkan hal yang berbeda.

Terlalu banyak pilihan justru dapat meningkatkan beban mental karena otak harus membandingkan berbagai alternatif sekaligus memikirkan konsekuensi dari setiap keputusan.

Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, seseorang bisa membuat puluhan bahkan ratusan keputusan kecil.

Mulai dari memilih pakaian, menentukan menu makanan, membalas pesan, membuka email, memilih hiburan, hingga menentukan prioritas pekerjaan.

Tanpa disadari, akumulasi keputusan tersebut membuat energi mental semakin berkurang seiring berjalannya waktu.

Mengapa Decision Fatigue Membuat Seseorang Lebih Impulsif?

Salah satu dampak paling sering muncul dari Decision Fatigue adalah meningkatnya kecenderungan mengambil keputusan secara impulsif.

Ketika otak sudah lelah, seseorang lebih mudah memilih jalan pintas daripada melakukan analisis yang mendalam.

Kondisi ini dapat terlihat dalam berbagai situasi, seperti:

Tidak sedikit orang yang akhirnya menyesal setelah berbelanja secara daring karena keputusan tersebut diambil ketika kondisi mental sudah kelelahan.

Mengapa Banyak Tokoh Sukses Menyederhanakan Rutinitas?

Ada alasan mengapa sejumlah tokoh dunia dikenal mengenakan pakaian dengan model yang hampir sama setiap hari.

Kebiasaan tersebut bukan karena mereka kekurangan pilihan, melainkan untuk mengurangi jumlah keputusan kecil yang harus diambil setiap pagi.

Dengan menyederhanakan rutinitas harian, energi mental dapat dialihkan untuk mengerjakan tugas yang lebih penting, seperti menyusun strategi, memecahkan masalah, atau membuat keputusan bisnis.

Konsep ini juga mulai banyak diterapkan dalam dunia produktivitas modern sebagai cara menjaga fokus dan efisiensi kerja.

Tanda-Tanda Mengalami Decision Fatigue

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kelelahan mengambil keputusan.

Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

Apabila gejala tersebut muncul hampir setiap hari, bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal bahwa otak membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Media Sosial Turut Menambah Beban Mental

Di era digital, media sosial menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat munculnya Decision Fatigue.

Saat membuka media sosial, seseorang sebenarnya terus-menerus membuat keputusan kecil.

Apakah video ini akan ditonton sampai selesai?

Perlukah menyukai unggahan tersebut?

Haruskah membuka tautan yang muncul?

Apakah perlu membalas komentar?

Aktivitas yang tampak sederhana tersebut ternyata membuat otak bekerja tanpa henti.

Ditambah dengan algoritma yang terus menyajikan konten baru, seseorang bisa menghabiskan banyak energi mental hanya dengan berselancar di media sosial selama satu jam.

Cara Mengurangi Decision Fatigue

Kabar baiknya, Decision Fatigue bukan kondisi permanen dan dapat dikurangi melalui beberapa kebiasaan sederhana.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Baca Juga: Erling Haaland ke Real Madrid Kembali Menguat, Sang Ayah Buka Peluang Meski Masih Betah di Manchester City

Menjaga Energi Mental Sama Pentingnya dengan Menjaga Kesehatan Fisik

Di tengah derasnya arus informasi dan banyaknya pilihan dalam kehidupan modern, menjaga energi mental menjadi hal yang semakin penting.

Decision Fatigue menunjukkan bahwa otak manusia memiliki kapasitas yang terbatas dalam mengambil keputusan.

Karena itu, menyederhanakan rutinitas, mengurangi distraksi, dan memberikan waktu istirahat bukan berarti mengurangi produktivitas.

Sebaliknya, langkah-langkah tersebut justru membantu seseorang berpikir lebih jernih, membuat keputusan yang lebih berkualitas, serta mengurangi risiko tindakan impulsif yang sering disesali di kemudian hari.

Dengan memahami Decision Fatigue, setiap orang dapat lebih bijak mengelola energi mentalnya.

Pada akhirnya, kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh banyaknya keputusan yang dibuat, tetapi juga oleh kemampuan memilih hal yang benar pada waktu yang tepat.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kelelahan mengambil keputusan #Decision fatigue #psikologi #produktivitas #kesehatan mental