Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Fenomena Dompet Tipis, Wishlist Tebal Makin Marak di Kalangan Gen Z, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Mengatasinya?

Defy Maulida Puspaaji • Selasa, 7 Juli 2026 | 10:56 WIB
Gaji baru masuk, tapi wishlist sudah mengantre untuk di-checkout? Fenomena ini ternyata banyak dialami generasi muda. Yuk, cari tahu penyebab dan cara mengatasinya! (ilustrasi)
Gaji baru masuk, tapi wishlist sudah mengantre untuk di-checkout? Fenomena ini ternyata banyak dialami generasi muda. Yuk, cari tahu penyebab dan cara mengatasinya! (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Pernah merasa baru menerima gaji beberapa hari, tetapi saldo rekening sudah mulai menyusut karena berbagai barang yang "harus" dibeli? Jika iya, Anda tidak sendirian.

Fenomena yang kini populer dengan istilah "Dompet Tipis, Wishlist Tebal" semakin sering dialami, terutama oleh generasi muda yang hidup di tengah derasnya arus media sosial dan kemudahan berbelanja secara digital.

Ungkapan tersebut awalnya hanya menjadi candaan di media sosial. Namun, di balik humor yang mengundang tawa, tersimpan gambaran nyata mengenai perubahan perilaku konsumtif masyarakat modern.

Kemudahan mengakses toko online, promosi yang terus bermunculan, hingga pengaruh konten kreator membuat daftar keinginan sering kali bertambah lebih cepat dibandingkan isi rekening.

Baca Juga: Modal Cuma Bisa Bikin 5 Kaos? Begini Cara Memulai Brand Clothing agar Tetap Punya Peluang Sukses

Lantas, mengapa fenomena ini semakin banyak terjadi?

Keinginan Belanja Muncul karena Terus Terpapar Promosi

Saat ini, masyarakat hampir tidak pernah lepas dari berbagai bentuk promosi.

Mulai dari diskon tanggal kembar, flash sale, gratis ongkos kirim, cashback, hingga voucher belanja terus bermunculan setiap hari di berbagai platform digital.

Strategi pemasaran tersebut dirancang untuk mendorong konsumen segera melakukan pembelian dengan memanfaatkan rasa takut kehilangan kesempatan atau Fear of Missing Out (FOMO).

Tak jarang seseorang membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena merasa sayang jika melewatkan promo yang dianggap menguntungkan.

Di sisi lain, algoritma media sosial dan aplikasi belanja juga semakin pintar mengenali minat pengguna.

Cukup sekali mencari sebuah produk, berbagai iklan serupa akan terus muncul di media sosial, mesin pencari, hingga marketplace. Akibatnya, keinginan membeli barang yang sebelumnya biasa saja bisa berubah menjadi dorongan yang terasa mendesak.

Media Sosial Membentuk Wishlist Baru Setiap Hari

Media sosial kini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga sumber inspirasi sekaligus pemicu munculnya keinginan baru.

Melihat teman mengunggah foto liburan, rekan kerja membeli gawai terbaru, atau kreator favorit mempromosikan produk tertentu sering kali membuat seseorang ingin memiliki hal yang sama.

Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa khawatir tertinggal dari orang lain sehingga terdorong mengikuti tren yang sedang populer.

Akibatnya, wishlist terus bertambah meskipun kondisi keuangan belum tentu mendukung.

Dalam beberapa menit menjelajahi media sosial, seseorang bahkan bisa menemukan berbagai produk baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dibeli.

Barang Lama Masih Berfungsi, tetapi Selalu Tergoda yang Baru

Salah satu hal menarik dari fenomena ini adalah banyak orang sebenarnya masih memiliki barang yang layak digunakan.

Telepon pintar masih berfungsi dengan baik, sepatu masih nyaman dipakai, tas belum rusak, bahkan laptop masih mampu menunjang pekerjaan sehari-hari.

Namun, muncul anggapan bahwa memiliki produk terbaru akan membuat aktivitas terasa lebih menyenangkan atau meningkatkan rasa percaya diri.

Sayangnya, kepuasan tersebut sering kali hanya berlangsung sementara. Tidak lama kemudian, muncul lagi produk baru dengan fitur yang lebih menarik sehingga keinginan untuk membeli kembali pun muncul.

Siklus inilah yang membuat wishlist seolah tidak pernah selesai.

Belanja Jadi Cara Menghilangkan Penat

Bagi sebagian orang, berbelanja kini tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi bentuk self-reward atau hadiah untuk diri sendiri.

Setelah bekerja keras atau menghadapi hari yang melelahkan, membeli barang baru dianggap mampu memperbaiki suasana hati.

Meski sesekali memberikan penghargaan kepada diri sendiri bukanlah hal yang salah, kebiasaan tersebut perlu tetap disesuaikan dengan kondisi keuangan.

Jika dilakukan secara berlebihan, belanja impulsif justru dapat menimbulkan tekanan baru berupa tagihan kartu kredit, cicilan, atau layanan buy now pay later (BNPL) yang terus bertambah setiap bulan.

Dompet Tipis Tidak Selalu Berarti Gaji Kecil

Masalah keuangan tidak selalu disebabkan oleh pendapatan yang rendah.

Banyak orang dengan penghasilan besar pun tetap mengalami kesulitan mengatur keuangan apabila pengeluaran terus mengikuti keinginan tanpa perencanaan.

Karena itu, para perencana keuangan kerap menekankan bahwa kemampuan mengelola uang memiliki peran yang sama pentingnya dengan besarnya pendapatan.

Menyusun anggaran, menabung, dan menentukan prioritas pengeluaran menjadi langkah yang dapat membantu menjaga kondisi finansial tetap sehat.

Cara Mengendalikan Wishlist agar Tidak Membebani Keuangan

Memiliki wishlist sebenarnya bukan hal yang keliru. Daftar keinginan bahkan dapat menjadi motivasi untuk mencapai target keuangan tertentu.

Agar tidak berubah menjadi kebiasaan belanja impulsif, beberapa langkah sederhana berikut dapat diterapkan:

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang membuat keputusan belanja yang lebih rasional.

Baca Juga: Panduan Lengkap Memulai Trading untuk Pemula: Cara Memilih Broker, Menentukan Modal, hingga Mengelola Risiko

Bijak Mengelola Keinginan di Era Digital

Fenomena "Dompet Tipis, Wishlist Tebal" menjadi cerminan tantangan baru masyarakat di era digital.

Jika dahulu kesulitan terbesar adalah menemukan barang yang diinginkan, kini tantangan utamanya justru terletak pada kemampuan mengendalikan keinginan untuk membeli.

Kemudahan teknologi memang memberikan banyak pilihan, tetapi juga menuntut setiap orang lebih bijak dalam mengelola keuangan.

Pada akhirnya, keputusan terbaik bukan selalu membeli karena sedang promo, melainkan memastikan setiap pengeluaran benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.

Dengan begitu, keseimbangan antara menikmati hidup dan menjaga kondisi keuangan tetap dapat terjaga.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#belanja impulsif #pengelolaan keuangan #dompet tipis wishlist tebal #Gen Z #fomo