Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bekerja dari Rumah Bukan Berarti Bebas Stres, Ini 5 Kebiasaan yang Membantu Remote Worker Tetap Sehat Mental

Bihan Mokodompit • Senin, 6 Juli 2026 | 09:35 WIB
Kerja dari rumah memang fleksibel, tapi juga bisa memicu burnout jika tidak dikelola dengan baik. Simak 5 tips dari pakar agar remote worker tetap produktif, fokus, dan menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas WFH. (sumber foto : magnific)
Kerja dari rumah memang fleksibel, tapi juga bisa memicu burnout jika tidak dikelola dengan baik. Simak 5 tips dari pakar agar remote worker tetap produktif, fokus, dan menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas WFH. (sumber foto : magnific)

RADARBONANG.ID – Bekerja dari rumah atau remote working telah menjadi bagian dari budaya kerja modern.

Fleksibilitas waktu dan lokasi memang menjadi daya tarik utama, tetapi di balik berbagai keuntungan tersebut terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan, terutama terkait kesehatan mental.

Tidak sedikit pekerja jarak jauh yang mengalami kesulitan memisahkan urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Akibatnya, jam kerja menjadi lebih panjang, waktu istirahat berkurang, hingga muncul rasa lelah berkepanjangan atau burnout.

Sejumlah pakar psikologi kerja menilai bahwa menjaga kesehatan mental saat bekerja dari rumah membutuhkan strategi yang berbeda dibanding bekerja di kantor.

Rutinitas yang terstruktur, batasan yang jelas, serta interaksi sosial tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan hidup.

Berikut lima kebiasaan yang dapat membantu remote worker tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Baca Juga: Lamine Yamal Dinilai Belum Tajam, tetapi Permainannya Tetap Jadi Kunci Kebangkitan Timnas Spanyol

Bangun Ritual Sebelum Mulai Bekerja

Salah satu tantangan terbesar saat bekerja dari rumah adalah tidak adanya transisi antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Karena itu, para ahli menyarankan untuk menciptakan rutinitas pagi yang menyerupai perjalanan menuju kantor (commute). Misalnya, berjalan kaki santai selama 10 hingga 20 menit di sekitar rumah, berolahraga ringan, atau sekadar menikmati udara pagi sebelum membuka laptop.

Rutinitas sederhana ini membantu otak mengenali bahwa waktu bekerja telah dimulai, sekaligus meningkatkan fokus dan energi sejak awal hari.

Selain itu, paparan sinar matahari pagi dan aktivitas fisik ringan juga diketahui dapat membantu memperbaiki suasana hati serta mengurangi stres.

Tetapkan Jam Kerja yang Jelas

Bekerja dari rumah sering membuat seseorang sulit berhenti bekerja karena semua perangkat kerja berada dalam jangkauan.

Padahal, jam kerja yang terus memanjang dapat meningkatkan risiko kelelahan mental.

Agar hal tersebut tidak terjadi, buatlah jadwal kerja yang konsisten setiap hari, termasuk waktu mulai, istirahat, dan selesai bekerja.

Jika memungkinkan, komunikasikan jam kerja tersebut kepada rekan kerja maupun anggota keluarga agar mereka memahami kapan Anda sedang fokus bekerja dan kapan sudah memasuki waktu pribadi.

Ketika jam kerja selesai, biasakan menutup laptop dan menonaktifkan notifikasi aplikasi pekerjaan agar pikiran benar-benar memiliki waktu untuk beristirahat.

Pisahkan Area Kerja dengan Ruang Istirahat

Lingkungan kerja yang nyaman juga berperan besar terhadap kesehatan mental.

Jika memungkinkan, sediakan sudut khusus di rumah yang hanya digunakan untuk bekerja. Tidak harus memiliki ruang kerja tersendiri, meja kecil di sudut ruangan pun sudah cukup selama terpisah dari tempat tidur atau area bersantai.

Pemisahan ruang ini membantu otak membangun asosiasi bahwa meja kerja adalah tempat untuk fokus, sedangkan kamar atau sofa menjadi area untuk beristirahat.

Sebaliknya, bekerja dari tempat tidur dalam jangka panjang dapat mengganggu kualitas tidur sekaligus membuat tubuh sulit membedakan waktu bekerja dan waktu relaksasi.

Jangan Abaikan Interaksi Sosial

Salah satu tantangan yang sering dialami pekerja jarak jauh adalah berkurangnya interaksi tatap muka.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu rasa kesepian dan menurunkan kesejahteraan psikologis.

Karena itu, luangkan waktu untuk tetap bersosialisasi di luar pekerjaan. Anda bisa bertemu teman, mengikuti komunitas, menghadiri kegiatan hobi, atau sesekali bekerja dari coworking space maupun kafe yang nyaman.

Interaksi sosial yang sehat dapat membantu mengurangi stres, memperluas perspektif, sekaligus memberikan jeda dari rutinitas kerja yang monoton.

Terapkan Istirahat Singkat Secara Berkala

Menatap layar komputer selama berjam-jam tanpa jeda dapat menyebabkan mata lelah, nyeri otot, hingga menurunkan konsentrasi.

Untuk mengatasinya, Anda dapat menerapkan teknik 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat objek sejauh sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.

Selain itu, sempatkan berdiri, berjalan sebentar, atau melakukan peregangan ringan setiap satu hingga dua jam.

Istirahat singkat seperti ini terbukti membantu menjaga fokus, mengurangi ketegangan otot, serta meningkatkan produktivitas sepanjang hari.

Produktif Boleh, Kesehatan Mental Tetap Prioritas

Bekerja dari rumah memang memberikan keleluasaan yang tidak selalu dimiliki pekerja kantoran.

Baca Juga: Mengapa Udara Jakarta Semakin Buruk? Kemarau Panjang dan El Nino Disebut Jadi Pemicu Utama Penumpukan Polusi

Namun, fleksibilitas tersebut juga menuntut kemampuan mengelola waktu dan menjaga keseimbangan hidup.

Para pakar mengingatkan bahwa produktivitas tidak diukur dari seberapa lama seseorang duduk di depan layar, melainkan dari kualitas pekerjaan yang dihasilkan.

Menjaga pola tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan memberi ruang untuk menikmati hobi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, remote working akan memberikan manfaat maksimal jika dibarengi dengan kebiasaan yang sehat.

Dengan membangun rutinitas yang teratur, menetapkan batasan kerja yang jelas, serta tetap menjaga hubungan sosial, pekerja jarak jauh dapat menjalani karier secara produktif tanpa harus mengorbankan kesejahteraan psikologisnya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#remote working #tips remote worker #burnout kerja #Work From Home #kesehatan mental