Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Mengapa Udara Jakarta Semakin Buruk? Kemarau Panjang dan El Nino Disebut Jadi Pemicu Utama Penumpukan Polusi

Amaliya Syafithri • Minggu, 5 Juli 2026 | 09:46 WIB
Udara Jakarta kembali memburuk. Kombinasi musim kemarau dan El Nino membuat polutan seperti PM2.5 semakin menumpuk di atmosfer, meningkatkan risiko ISPA dan gangguan pernapasan. (sumber: AI)
Udara Jakarta kembali memburuk. Kombinasi musim kemarau dan El Nino membuat polutan seperti PM2.5 semakin menumpuk di atmosfer, meningkatkan risiko ISPA dan gangguan pernapasan. (sumber: AI)

RADARBONANG.ID – Kualitas udara di wilayah Jakarta dan kawasan sekitarnya dilaporkan mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi ini menjadi perhatian karena tingkat polusi yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan.

Selain dipengaruhi oleh emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri, memburuknya kualitas udara juga berkaitan dengan faktor cuaca.

Perpaduan musim kemarau dan fenomena El Niño menyebabkan hujan berkurang sehingga polutan lebih lama bertahan di atmosfer.

Baca Juga: Mirip Feng Shui, Begini Konsep Petung Jawa yang Mengatur Tata Ruang Rumah Joglo agar Selaras dengan Alam dan Kehidupan

Kemarau dan El Nino Memperburuk Kondisi Atmosfer

Pada musim hujan, air hujan berperan membantu membersihkan udara dengan membawa partikel debu dan polutan turun ke permukaan bumi.

Namun, ketika curah hujan menurun drastis akibat musim kemarau yang diperkuat oleh El Nino, proses alami tersebut tidak berlangsung secara optimal.

Akibatnya, berbagai polutan yang berasal dari asap kendaraan, aktivitas industri, pembakaran terbuka, hingga debu jalanan terus melayang di udara.

Kondisi cuaca yang lebih kering juga membuat konsentrasi partikel halus semakin meningkat, terutama ketika kecepatan angin rendah sehingga penyebaran polutan menjadi lebih terbatas.

Fenomena inilah yang menyebabkan langit Jakarta dalam beberapa waktu terakhir tampak berkabut meski tidak sedang turun hujan.

PM2.5 Menjadi Ancaman Utama

Salah satu polutan yang paling menjadi perhatian adalah PM2.5, yaitu partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer.

Karena ukurannya sangat halus, PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru, bahkan sebagian partikel dapat memasuki aliran darah.

Selain PM2.5, polusi debu, asap, serta berbagai senyawa hasil pembakaran juga ikut menumpuk di lapisan atmosfer bawah ketika hujan tidak turun dalam waktu lama.

Penumpukan berbagai polutan tersebut menyebabkan kualitas udara terus memburuk dan meningkatkan paparan bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Risiko Gangguan Kesehatan Meningkat

Menurunnya kualitas udara berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.

Paparan polusi dalam konsentrasi tinggi dapat memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, menimbulkan batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma maupun penyakit paru kronis.

Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit jantung dan gangguan pernapasan.

Salah satu dampak yang sering meningkat ketika polusi udara memburuk adalah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA.

Paparan polusi secara terus-menerus juga berpotensi menurunkan fungsi paru-paru apabila tidak disertai langkah perlindungan yang memadai.

Warga Diimbau Mengurangi Paparan Polusi

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah daerah bersama instansi terkait mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruangan apabila kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.

Penggunaan masker, terutama masker dengan kemampuan menyaring partikel halus seperti masker berstandar KN95 atau setara, dianjurkan ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Masyarakat juga disarankan menutup jendela ketika kualitas udara sedang buruk, menggunakan penyaring udara apabila tersedia, serta memperbanyak konsumsi air putih agar saluran pernapasan tetap terjaga.

Bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan, pemantauan kondisi kesehatan secara rutin juga menjadi langkah penting selama periode polusi tinggi.

Berbagai Langkah Mitigasi Terus Dikaji

Untuk mengurangi tingkat pencemaran udara, pemerintah terus mengevaluasi berbagai upaya mitigasi.

Salah satunya adalah pengetatan pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor sebagai langkah mengurangi sumber polusi dari sektor transportasi.

Selain itu, opsi rekayasa cuaca melalui hujan buatan juga terus dikaji apabila kondisi atmosfer dinilai memungkinkan.

 Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel polutan di udara, meski efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Di sisi lain, pengendalian emisi industri serta peningkatan penggunaan transportasi umum juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas udara di kawasan perkotaan.

Perlu Upaya Bersama Mengatasi Polusi Udara

Memburuknya kualitas udara di Jakarta menunjukkan bahwa persoalan polusi merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, baik aktivitas manusia maupun kondisi alam.

Musim kemarau dan El Nino memang memperparah penumpukan polutan, tetapi pengurangan emisi dari kendaraan, industri, dan sumber pencemar lainnya tetap menjadi langkah penting agar kualitas udara dapat membaik secara berkelanjutan.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, penerapan kebijakan pengendalian emisi, serta kesiapsiagaan menghadapi dampak cuaca ekstrem, risiko kesehatan akibat polusi udara diharapkan dapat ditekan sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih aman.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#kualitas udara Jakarta #polusi udara Jakarta #PM2.5 Jakarta #musim kemarau #el nino