Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Tak Lagi Dianggap Kesepian, Me Time Jadi Tren Gen Z untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Mengurangi Burnout

Siska Yudianti • Minggu, 28 Juni 2026 | 11:35 WIB
Dulu dianggap kesepian, sekarang justru jadi tren. Semakin banyak Gen Z memilih ngopi sendiri, menonton bioskop sendirian, hingga solo date sebagai cara menjaga kesehatan mental. Apa yang membuat me time kini menjadi kebutuhan? (ilustrasi)
Dulu dianggap kesepian, sekarang justru jadi tren. Semakin banyak Gen Z memilih ngopi sendiri, menonton bioskop sendirian, hingga solo date sebagai cara menjaga kesehatan mental. Apa yang membuat me time kini menjadi kebutuhan? (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Jika beberapa tahun lalu makan sendirian di restoran atau menikmati secangkir kopi tanpa ditemani siapa pun sering dipandang sebagai tanda kesepian, kini persepsi itu mulai berubah.

Di kalangan Generasi Z, menikmati waktu seorang diri justru menjadi bagian dari gaya hidup yang semakin populer.

Fenomena ini dikenal sebagai me time, yaitu waktu yang sengaja disisihkan untuk menikmati aktivitas seorang diri tanpa gangguan pekerjaan, media sosial, atau tuntutan sosial.

Bagi banyak anak muda, me time bukan lagi bentuk pelarian dari keramaian, melainkan cara untuk memulihkan energi dan menjaga keseimbangan hidup.

Di tengah rutinitas yang semakin padat dan dunia digital yang seolah tidak pernah berhenti, meluangkan waktu untuk diri sendiri kini dianggap sebagai kebutuhan, bukan lagi kemewahan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Mainan, LEGO Ternyata Punya Banyak Manfaat untuk Kecerdasan Anak, dari Melatih Kreativitas hingga Kemampuan Memecahkan Masalah

Di Tengah Kesibukan, Waktu Sendiri Menjadi Hal yang Berharga

Generasi yang tumbuh bersama internet hidup dalam kondisi yang hampir selalu terkoneksi.

Notifikasi pesan, rapat daring, media sosial, hingga berbagai tuntutan produktivitas membuat mereka terus berinteraksi dengan banyak hal setiap hari.

Ironisnya, semakin mudah terhubung dengan orang lain, semakin sulit pula menemukan waktu untuk benar-benar menikmati kebersamaan dengan diri sendiri.

Karena itu, banyak Gen Z mulai sengaja menyisihkan beberapa jam setiap minggu untuk melakukan aktivitas yang mereka sukai tanpa interupsi.

Sebagian memilih mematikan notifikasi ponsel, meninggalkan pekerjaan sejenak, lalu menikmati waktu dengan ritme yang lebih santai.

Tujuannya bukan menghindari orang lain, tetapi memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat sebelum kembali menghadapi aktivitas sehari-hari.

Ngopi Sendiri Kini Menjadi Aktivitas Favorit

Pemandangan seseorang duduk sendirian di coffee shop kini semakin umum dijumpai.

Alih-alih merasa canggung, banyak anak muda justru menikmati suasana tersebut untuk membaca buku, menulis jurnal, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil mengamati suasana sekitar.

Bagi mereka, datang ke kafe sendirian bukan berarti tidak memiliki teman.

Sebaliknya, momen tersebut menjadi kesempatan untuk berpikir lebih jernih tanpa harus mengikuti agenda atau percakapan orang lain.

Secangkir kopi pun bukan hanya menjadi minuman favorit, tetapi juga teman yang menemani proses refleksi diri dan melepas penat.

Solo Date Membantu Mengenal Diri Lebih Baik

Selain ngopi sendiri, tren solo date juga semakin populer di kalangan Gen Z.

Solo date adalah aktivitas mengajak diri sendiri menikmati pengalaman yang biasanya dilakukan bersama pasangan atau teman.

Mulai dari makan di restoran favorit, menonton film di bioskop, berjalan-jalan ke museum, mengunjungi galeri seni, menikmati konser, hingga staycation seorang diri kini semakin banyak dilakukan.

Aktivitas tersebut memberikan kebebasan penuh untuk menentukan tujuan, jadwal, dan pilihan tanpa harus menyesuaikan keinginan orang lain.

Tak sedikit yang mengaku menjadi lebih percaya diri setelah rutin melakukan solo date karena belajar merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

Self Care Kini Dianggap Sama Pentingnya dengan Produktivitas

Budaya hustle culture yang mendorong seseorang terus bekerja tanpa henti mulai mengalami perubahan.

Semakin banyak anak muda menyadari bahwa bekerja secara berlebihan tanpa memberi waktu untuk beristirahat justru dapat meningkatkan risiko kelelahan mental atau burnout.

Kesadaran inilah yang membuat konsep self care semakin mendapat perhatian.

Me time menjadi salah satu bentuk self care paling sederhana yang bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Ada yang memilih berjalan santai di taman, membaca novel, memasak makanan favorit, berolahraga ringan, bermeditasi, atau sekadar menikmati sore tanpa membuka media sosial.

Meski terlihat sederhana, aktivitas tersebut dapat membantu mengurangi stres sekaligus memperbaiki suasana hati.

Menikmati Kesendirian Bukan Berarti Antisosial

Masih ada anggapan bahwa orang yang sering bepergian sendirian adalah pribadi yang antisosial.

Padahal, para psikolog menjelaskan bahwa kemampuan menikmati waktu seorang diri justru merupakan salah satu bentuk kemandirian emosional.

Seseorang yang nyaman dengan dirinya sendiri umumnya lebih mampu memahami kebutuhan pribadi, mengelola emosi, serta membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Artinya, menikmati kesendirian bukan berarti menolak bersosialisasi.

Sebaliknya, seseorang hanya memahami kapan dirinya membutuhkan waktu untuk beristirahat sebelum kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Media Sosial Turut Mempopulerkan Tren Me Time

Menariknya, media sosial yang selama ini sering dianggap sebagai penyebab tekanan sosial justru ikut mempercepat penyebaran tren me time.

Konten seperti solo cafe hopping, date yourself, morning routine, hingga slow living semakin sering muncul di TikTok maupun Instagram.

Berbeda dengan tren viral yang hanya mengejar estetika, banyak kreator kini juga mengajak pengikutnya lebih peduli terhadap kesehatan mental dan pentingnya menjaga keseimbangan hidup.

Mereka menunjukkan bahwa menikmati waktu sendiri tidak harus mahal atau rumit.

Bahkan, duduk di taman, membaca buku selama satu jam, atau menikmati kopi tanpa tergesa-gesa sudah cukup menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Me Time Adalah Investasi untuk Kesehatan Mental

Di tengah kehidupan yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi keterampilan yang semakin penting.

Me time mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari keramaian, pesta, atau aktivitas bersama banyak orang.

Baca Juga: Dari Tumpeng Sederhana ke Cake Estetik, Evolusi Perayaan Ulang Tahun Ini Bikin Netizen Bernostalgia Sekaligus Merenung

Terkadang, kebahagiaan justru hadir saat seseorang mampu menikmati keheningan, memahami pikirannya sendiri, dan memberi ruang bagi tubuh maupun mental untuk beristirahat.

Bagi Gen Z, menikmati kopi sendirian, berjalan tanpa tujuan tertentu, membaca buku di sudut kafe, atau mengajak diri sendiri makan malam bukan lagi sesuatu yang memalukan.

Sebaliknya, semua itu menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri sekaligus cara sederhana menjaga kesehatan mental di tengah tekanan kehidupan modern.

Karena pada akhirnya, hubungan yang paling lama dan paling penting dalam hidup adalah hubungan dengan diri sendiri.

Me time bukan sekadar tren yang viral di media sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kehidupan yang lebih seimbang, lebih tenang, dan lebih bahagia.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#me time Gen Z #self care #gaya hidup Gen Z #solo date #kesehatan mental