Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Loud Budgeting Jadi Tren Gen Z, Berani Bilang "Lagi Nggak Punya Uang" Tanpa Malu Demi Keuangan yang Lebih Sehat

Siska Yudianti • Minggu, 28 Juni 2026 | 11:02 WIB
"Maaf ya, aku lagi hemat." Kalimat yang dulu terasa memalukan kini justru menjadi simbol kedewasaan finansial. Inilah alasan mengapa tren Loud Budgeting semakin populer di kalangan Gen Z dan milenial. (ilustrasi)
"Maaf ya, aku lagi hemat." Kalimat yang dulu terasa memalukan kini justru menjadi simbol kedewasaan finansial. Inilah alasan mengapa tren Loud Budgeting semakin populer di kalangan Gen Z dan milenial. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – "Maaf ya, aku skip dulu karena lagi hemat." Kalimat sederhana seperti ini mungkin beberapa tahun lalu terdengar canggung atau bahkan memalukan.

Banyak orang lebih memilih mencari alasan lain agar tidak dianggap pelit atau tidak mampu secara finansial.

Namun, pola pikir tersebut mulai berubah. Di kalangan Generasi Z dan milenial, muncul tren baru yang dikenal sebagai Loud Budgeting, yaitu kebiasaan berbicara secara terbuka tentang kondisi keuangan dan berani mengatakan bahwa suatu pengeluaran memang tidak sesuai dengan anggaran yang telah disusun.

Fenomena yang ramai dibahas di media sosial ini dinilai sebagai salah satu bentuk meningkatnya kesadaran finansial di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan tekanan gaya hidup konsumtif yang semakin kuat.

Alih-alih merasa malu karena menolak ajakan nongkrong atau membeli barang tertentu, banyak anak muda kini justru menganggap kejujuran soal kondisi keuangan sebagai keputusan yang lebih bijaksana.

Baca Juga: Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Tubuh Saat Membuat Tato Permanen? Ternyata Sistem Imun Langsung Bereaksi Sejak Jarum Menyentuh Kulit

Loud Budgeting, Apa Sebenarnya Artinya?

Loud Budgeting dapat dipahami sebagai kebiasaan menetapkan batas pengeluaran secara terbuka tanpa merasa harus menutupinya dengan alasan lain.

Jika sebelumnya seseorang mungkin berkata, "Aku lagi sibuk," padahal sebenarnya ingin menghemat uang, kini mereka lebih memilih mengatakan secara langsung, "Maaf, bulan ini anggaranku memang belum cukup."

Konsep ini mengajak seseorang untuk tidak lagi merasa bersalah karena memiliki prioritas keuangan yang berbeda.

Dana yang dimiliki bisa saja sedang dialokasikan untuk tabungan, dana darurat, investasi, biaya pendidikan, cicilan, atau tujuan finansial jangka panjang lainnya.

Dengan begitu, keputusan menolak suatu pengeluaran bukan karena tidak ingin bersenang-senang, melainkan karena sudah memiliki rencana keuangan yang jelas.

Melawan Budaya Gengsi dan Konsumtif

Selama bertahun-tahun, banyak orang merasa perlu mengikuti berbagai aktivitas sosial agar tidak dianggap tertinggal.

Mulai dari nongkrong di kafe viral, membeli gawai terbaru, mengikuti konser, hingga liburan ke destinasi populer sering kali dianggap sebagai bagian dari gaya hidup yang harus diikuti.

Tak sedikit pula yang akhirnya menggunakan kartu kredit, layanan buy now pay later (BNPL), atau bahkan berutang demi mempertahankan citra sebagai pribadi yang mapan.

Loud Budgeting hadir sebagai kebalikan dari kebiasaan tersebut.

Tren ini mengajarkan bahwa mengatakan "tidak" terhadap pengeluaran yang tidak sesuai anggaran bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengelola keuangan.

Hemat Bukan Berarti Tidak Menikmati Hidup

Salah satu anggapan yang masih sering muncul adalah bahwa orang yang menerapkan Loud Budgeting terlalu pelit atau enggan menikmati hidup.

Padahal, prinsip utama tren ini bukanlah menghindari semua bentuk pengeluaran.

Sebaliknya, Loud Budgeting menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan prioritas.

Seseorang tetap dapat menikmati secangkir kopi favorit, menonton film di bioskop, menghadiri konser, atau berlibur apabila semua itu memang sudah masuk dalam anggaran yang direncanakan.

Namun, ketika kondisi keuangan belum memungkinkan, mereka tidak merasa harus memaksakan diri hanya demi mengikuti tren atau memenuhi ekspektasi lingkungan.

Gen Z Berani Melawan Tekanan FOMO

Media sosial selama ini sering dikaitkan dengan munculnya fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman yang dinikmati orang lain.

Melihat teman berlibur, membeli barang baru, atau makan di restoran populer sering kali membuat seseorang terdorong melakukan hal serupa meskipun kondisi keuangannya tidak mendukung.

Melalui Loud Budgeting, semakin banyak anak muda mulai menyadari bahwa kehidupan nyata tidak harus selalu terlihat sempurna seperti yang tampil di media sosial.

Keputusan untuk menghemat uang kini dipandang sebagai langkah yang lebih bertanggung jawab daripada memaksakan gaya hidup yang sebenarnya sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Dampaknya Tidak Hanya untuk Dompet, tetapi Juga Mental

Menariknya, manfaat Loud Budgeting tidak hanya dirasakan dari sisi finansial.

Banyak orang mengaku merasa lebih tenang setelah berhenti membandingkan diri dengan gaya hidup orang lain.

Tidak ada lagi tekanan untuk selalu menerima setiap ajakan atau membeli sesuatu hanya karena sedang menjadi tren.

Sebaliknya, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun dana darurat, menabung untuk membeli rumah, melanjutkan pendidikan, mempersiapkan masa pensiun, atau mewujudkan tujuan keuangan lainnya.

Secara psikologis, kebiasaan ini juga membantu mengurangi stres akibat tekanan sosial dan kebiasaan belanja impulsif yang sering dipicu oleh media sosial.

Media Sosial Kini Ikut Menyebarkan Pesan Positif

Menariknya, platform yang dahulu sering menjadi pemicu gaya hidup konsumtif kini juga menjadi sarana penyebaran Loud Budgeting.

Semakin banyak kreator konten yang membagikan pengalaman mereka memilih memasak di rumah daripada makan di luar, menolak ajakan nongkrong karena ingin menabung, atau membeli barang hanya ketika benar-benar dibutuhkan.

Respons warganet pun sebagian besar positif. Banyak yang merasa lebih terwakili karena menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi tantangan mengatur keuangan di tengah meningkatnya biaya hidup.

Kejujuran mengenai kondisi finansial kini justru dianggap lebih realistis dibanding mempertahankan citra mewah yang sebenarnya dibangun di atas utang atau pengeluaran di luar kemampuan.

Diprediksi Menjadi Gaya Hidup Jangka Panjang

Sejumlah pengamat menilai Loud Budgeting bukan sekadar tren sesaat yang akan hilang dalam waktu dekat.

Baca Juga: Tanjung Verde Bikin Kejutan Besar di Piala Dunia 2026, Vozinha Tampil Gemilang dan Siap Tantang Argentina

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya biaya hidup, dan semakin luasnya edukasi mengenai literasi keuangan, kebiasaan mengelola anggaran secara terbuka diperkirakan akan semakin diterima oleh masyarakat.

Generasi muda mulai memahami bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang berbelanja, bepergian, atau memamerkan gaya hidup di media sosial.

Sebaliknya, kemampuan menjaga kesehatan finansial, mengelola pengeluaran sesuai prioritas, serta berani berkata, "Maaf, aku lagi hemat," kini menjadi simbol baru dari kedewasaan dalam mengatur keuangan.

Pada akhirnya, Loud Budgeting mengajarkan bahwa tidak ada yang salah dengan hidup sesuai kemampuan.

Justru, keberanian bersikap jujur terhadap kondisi finansial dapat menjadi langkah penting menuju kehidupan yang lebih tenang, sehat, dan bebas dari tekanan untuk selalu terlihat sempurna di mata orang lain.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#literasi keuangan #gaya hidup hemat #loud budgeting #tren gen z #fomo