RADARBONANG.ID – Menyimpan nomor WhatsApp rekan kerja dulu dianggap hal yang lumrah.
Bahkan setelah jam kantor berakhir, komunikasi sering berlanjut melalui grup percakapan, obrolan santai, hingga saling melihat pembaruan status atau Story WhatsApp masing-masing.
Namun kini, muncul kebiasaan baru yang semakin banyak dilakukan, terutama oleh generasi muda dan pekerja profesional.
Mereka mulai memilih untuk menyembunyikan Story WhatsApp dari sebagian rekan kerja, meski hubungan di kantor tetap berjalan baik dan profesional.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik. Apakah tindakan tersebut menunjukkan adanya jarak sosial? Atau justru menjadi bentuk baru dalam menjaga privasi di tengah dunia digital yang semakin terbuka?
Baca Juga: Punya Akun Kedua dan Close Friends Berbeda? Fenomena Multi Identitas Gen Z di Instagram Makin Marak
Ketika Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan Makin Sulit Dipisahkan
Perkembangan teknologi membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan semakin tipis.
Smartphone memungkinkan pesan kantor masuk kapan saja. Grup kerja tetap aktif meski jam kerja telah berakhir.
Bahkan tidak sedikit orang yang masih menerima tugas atau diskusi pekerjaan saat sedang berada di rumah atau berlibur.
Kondisi ini membuat banyak pekerja mulai menyadari pentingnya memiliki ruang pribadi yang benar-benar terpisah dari lingkungan profesional.
Di sinilah Story WhatsApp sering menjadi salah satu area yang ingin dijaga.
Bagi sebagian orang, unggahan tentang liburan, aktivitas bersama pasangan, nongkrong dengan teman, hingga keluh kesah sehari-hari dianggap tidak selalu perlu diketahui oleh seluruh kontak kerja mereka.
Hide Story Bukan Berarti Tidak Suka
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa menyembunyikan Story dari seseorang berarti sedang bermasalah atau tidak menyukai orang tersebut.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Banyak pekerja muda justru mengaku tetap memiliki hubungan baik dengan rekan kantor mereka.
Mereka tetap bekerja sama, bercanda saat jam istirahat, dan berkomunikasi secara profesional.
Namun mereka juga merasa tidak semua aspek kehidupan pribadi perlu dibagikan kepada lingkungan kerja.
Bagi mereka, menyembunyikan Story hanyalah bentuk pengelolaan privasi yang lebih sehat.
Sama seperti seseorang yang memilih tidak menceritakan seluruh isi kehidupannya kepada semua orang yang ditemui setiap hari.
Munculnya Kesadaran tentang Personal Boundary
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan konsep personal boundary atau batas pribadi.
Personal boundary merupakan kemampuan seseorang untuk menentukan sejauh mana orang lain dapat mengakses informasi, emosi, atau aspek tertentu dalam kehidupannya.
Batas yang sehat membantu seseorang menjaga keseimbangan antara kebutuhan sosial dan kebutuhan pribadi.
Banyak ahli psikologi menilai bahwa kemampuan membangun batas yang jelas dapat membantu mengurangi stres, menjaga kesehatan mental, serta mencegah kelelahan emosional akibat tuntutan sosial yang berlebihan.
Dalam konteks dunia digital, batas tersebut kini diwujudkan melalui berbagai fitur privasi yang tersedia di media sosial dan aplikasi pesan instan.
WhatsApp Memang Dirancang untuk Pengaturan Privasi
Menariknya, tren hide Story WA sebenarnya bukan sesuatu yang dilakukan secara diam-diam atau melanggar aturan.
WhatsApp sendiri menyediakan fitur khusus yang memungkinkan pengguna mengatur siapa saja yang dapat melihat status mereka.
Pengguna dapat memilih opsi untuk menyembunyikan status dari kontak tertentu atau hanya membagikannya kepada kelompok yang dipilih.
Dengan fitur tersebut, seseorang tidak perlu menghapus kontak, memblokir nomor, atau memutus hubungan hanya karena ingin memiliki ruang pribadi yang lebih nyaman.
Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan kontrol privasi memang telah menjadi bagian penting dalam cara masyarakat menggunakan teknologi modern.
Generasi Digital Punya Cara Baru Mendefinisikan Kedekatan
Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Mereka hidup di era ketika hampir semua aktivitas dapat dibagikan secara online.
Namun menariknya, semakin terbuka dunia digital, semakin banyak pula orang yang mulai selektif dalam menentukan siapa yang dapat melihat kehidupan pribadi mereka.
Kedekatan tidak lagi diukur dari seberapa banyak informasi yang dibagikan kepada semua orang.
Sebaliknya, banyak orang memilih membuat lingkaran-lingkaran sosial yang berbeda.
Ada ruang untuk keluarga.
Ada ruang untuk sahabat dekat.
Ada ruang untuk pasangan.
Dan ada ruang profesional yang tetap dijaga batasnya.
Dalam pola pikir seperti ini, menyembunyikan Story dari rekan kerja bukan berarti menjauh. Justru itu menjadi cara untuk menempatkan setiap hubungan pada ruang yang dianggap paling tepat.
Dampak Positif bagi Kesehatan Mental
Beberapa pengamat media digital melihat tren ini sebagai perkembangan yang cukup sehat.
Di tengah budaya media sosial yang sering mendorong orang untuk membagikan segala hal, kemampuan memilih apa yang ingin ditampilkan dan kepada siapa informasi tersebut diberikan menjadi keterampilan penting.
Dengan memiliki kontrol lebih besar atas privasi digital, seseorang dapat merasa lebih nyaman menjadi dirinya sendiri tanpa khawatir terhadap penilaian yang tidak diperlukan.
Mereka juga tidak merasa harus menjaga citra yang sama di semua lingkungan sosial yang berbeda.
Privasi Bukan Lagi Tanda Menutup Diri
Fenomena hide Story WhatsApp dari teman kantor menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap privasi di era digital.
Jika dahulu keterbukaan sering dianggap sebagai tanda kedekatan, kini banyak orang memahami bahwa menjaga sebagian ruang pribadi juga merupakan hal yang wajar.
Privasi tidak selalu berarti menciptakan jarak.
Sebaliknya, privasi dapat menjadi cara untuk menjaga hubungan tetap sehat, nyaman, dan sesuai konteksnya.
Karena pada akhirnya, tidak semua cerita harus dibagikan kepada semua orang.
Dan di era digital yang serba terhubung seperti sekarang, kemampuan menentukan siapa yang layak melihat bagian tertentu dari kehidupan kita mungkin justru menjadi bentuk kebebasan yang paling berharga.
Editor : Muhammad Azlan Syah